
Arum yang lumayan mengerti tugasnya sebagai istri dari perlakuan Bunda pada Ayahnya langsung mengambilkan makan untuk Hasan mengikuti pergerakan sang Bunda yang mengambilkan Ayahnya makan.
"Kak Hasan mau makan dengan lauk apa?" tanya Arum dengan satu piring yang berisi nasi di tangan kirinya dan tangan kanannya sudah bersiap untuk mengambilkan lauk.
"Ayam panggang dan tempe goreng," jawab Hasan dengan senyum yang terlihat begitu mengembang di bibirnya.
Sikap Arum yang mengambilkannya makan sungguh membuat hati Hasan bahagia bercampur bangga, karena pilihannya untuk menikahi Arum adalah pilihan yang tepat.
Makan siangpun berakhir kini waktunya anggota keluarga inti beristirahat dan para pelayan membersihkan sisa acara.
Arum lebih dulu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan bersiap untuk sholat. Tepat di saat Arum yang sudah memakai mukenah dengan sajadah di tangannya Hasan masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau sholat Sayang?" tanya Hasan yang melihat Arum sudah bersiap ingin menunaikan sholat.
__ADS_1
"Iya, Kak," jawab Arum.
"Kok panggil Kak sih?" protes Hasan yang membuat Arum bingung.
"Loh memangnya kenapa dengan sebutan Kakak?" Arum yang bingung langsung melontarkan pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan Hasan.
"Panggilan Kakak itu panggilan umum bukan orang yg terlalu penting, tapi saat ini Aku suamimu, jadi panggil Aku dengan panggilan yang berbeda dan spesial." Titah Hasan yang membuat Arum tahu sisi lain dari laki-laki tampan yang terkenal dengan sifat dinginnya kini malah meributkan sebuah panggilan yang sebenarnya tak terlalu penting.
"Terus Aku harus manggil Kak Hasan dengan panggilan apa?" tanya Aruk yang bingung dengan panggilan yang harus dia sematkan pada suaminya itu.
Arum terus saja memikirkan panggilan yang tepat untuk Hasan suaminya hingga sang suami keluar dari kamar mandi Arum masih belum tahu harus memanggil Hasan dwngan panggilan apa hanya bisa diam tanpa bisa berbicara.
"Maaf Mas," satu panggilan keluar dari bibir Arum setelah salam tanda berakhirnya sholat terucap membuat Hasan yang semula menghadap ke ara kiblat langsung menoleh ke arah Arum.
__ADS_1
"Mas?" Hasan mengulangi nama panggilan yang Arum pakai.
"Iya Mas, bukankah kebanyakan orang di indonesia sering menggunakan kata Mas untuk suaminya?" jawaban serta alasan yang keluar dari bibir Arum juga membuat Hasan diam.
"Aku bukan tukang ojek yang bisa kamu panggil Mas Arum." tegas Hasan yang membuat Arum memutar bola matanya malas, sungguh Hasan ternyata jauh lebih ribet dari yang Arum kira.
"Terus Aku harus panggil Mas Hasan dengan sebutan apa?" menyerah sudah Arum yang bingung karena memang tak pernah ribut soal nama panggilan sebelumnya hanya bisa bertanya pada Hasan tentang panggilan yang dia inginkan.
"Panggil Aku Abi atau Sayang, itu jauh lebih baik dari pada Kakak dan Mas seperti yang kaku sebutkan.
"Yasudah, mulai hari ini Aku kan memanggil Kak Hasan Abi jika sedang berdua, dan Aku akan tatap memanggil Kakak saat kita bersama dengan keluarga yang lain." Tanggapan Arum sukses membuat Hasan merasa bingung.
"Kenapa harus seperti itu?" tanya Hasan.
__ADS_1
"Panggilan seperti itu hanya untuk sementara waktu, beri Aku waktu untuk menyesuaikan diri dengan sebutan lain di depan umum." Arum mengutarakan alasannya..