Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kenapa Tidak Bertunangan?


__ADS_3

Satu hari yang berat telah terlewati, fase di mana kita harus kehilangan seseorang yang paling kita sayang juga berarti dalam hidup adalah hal paling sulit untuk di lalui oleh setiap makhluk hidup, siapapun dia tak terkecuali bagi Hasan dan keluarganya.


drrrrt ... drrrttt ... drrrttt ....


Getar ponsel Arum berdering sudah ke sekian kalinya, dan dia baru mengetahuinya setelah dering yang terakhir.


"Assalamualaikum, Bunda," ucap Arum sesaat setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Waalaikum salam, Sayang, maaf Bunda baru telfon kamu, apa bener Ummah meninggal, Nak?" tanya Bunda Arum.


"Iya, Bunda," jawab Arum.


"Innalillahi, Bunda baru saja dengar kabar itu dari Oma, Bunda dan Ayah akan ke sana nanti. Apa Ummah meninggal di pesantren atau di rumah beliau sendiri, Nak?" Bunda kembali bertanya memastikan di mana keberadaan Sang Putri dan Uqi yang telah menjadi besannya.


"Ummah meninggal di rumah Ummah sendiri Bunda, dan kami masih belum kembali ke pesantren. Mungkin nanti setelah tujuh hari kematian Ummah kami baru bisa kembali ke pesantren." Jelas Arum.


"Baiklah, nanti Bunda akan ke sana. Kalau begitu Bunda tutup dulu telfonnya, baik-baik di sana ya Sayang," pamit Bunda dengan pesan manis yang sangat sering di dengar oleh Arum.


"Bunda juga hati-hati!" sahut Arum.


"Telfon dari siapa Syei'?" Hasan yang baru saja selesai mandi langsung melontarkan pertanyaan setelah melihat sang istri baru selesai menelfon.


"Ini Bi, telfon dari Bunda."jawab Arum sambil meletakkan ponsel yang tadi dia pegang ke tempatnya lagi.


"Oh, Bunda bilang apa tadi Syei'?" Hasan mulai punya rasa kepo terhadap istrinya.

__ADS_1


"Katanya Bunda mau ke sini Bi." Arum memberitahukan alasan sang Bunda menelfon.


"Loh, Bunda sudah tahu kalau Ummah meninggal?" tanya Hasan.


"Sudah, dan Bunda ke aini untuk melihat keadaan Umik juga keadaan kita Bi," Arum kembali menjawab.


"Bunda tahu dari siapa Syei'?" Hasan terus saja bertanya, karena rasa penasarannya, karena baik Hasan atau Arum tak pernah memberitahu keluarga Arum di luar negeri tentang kepergian Ummah yang mendadak.


"Bunda tahu dari Oma Bi," jawab Arum.


"Oh, memangnya kapan Bunda sampai di sini?" Hasan terus saja bertanya.


"Kalau Bunda berangkatnya sekarang nanti sore akan sampai. Mungkin besok pagi mereka akan ke sini Bi, karena Bunda dan Ayah pasti mampir dulu ke rumah Ummah." jawab Arum.


"Emm," sahut Hasan seraya berjalan menuju almari untuk mengganti baju.


"Sudah Dek, jangan nangis terus apalagi nangis di depan makanan gak baik!" ujar Abi Ilzham mengingatkan Syafa sang Adik yang masih saja meneteskan air mata sambil menatap lekat ke arah makanan yang sudah berjejer rapi di hadapannya.


"Kalau semua keluarga sudah kumpul seperti ini, Ummah akan jadi orang yang paling sibuk untuk menyiapkan segalanya," lirihSyafa mengenang keberadaan Ummah.


"Sudah jangan di tangisi terus, kami semua sama sepertimu, Nak, tapi menangis dan meratapi orang yang sudah meninggal bukanlah hal yang baik untuk di lakukan, ikhlaskan Ummah kirim do'a jika kamu memang merindukan kehadirannya," kali ini Abi Ilzham yang mengingatkan Syafa agar tak terus menerus meratapi kepergian sang Ummah, meski berat tapi Syafa tak bisa terus meratapi dan menangis seperti sekarang karena ada Ali dan Firman yang juga butuh perhatiannya.


"Mama, jangan nangis lagi, kalau Mama nangis terus Ali jadi sedih," celetuk bocah kecil yang kini duduk tepat di samping Syafa dengan wajah sedih yang nampak begitu jelas tergambar di wajahnya.


"Mama sini peluk Ali, biar sedihnya ilang," Ali merentangkan kedua tangannya memberi tanda agar sang Mama memeluknya dengan harapan dia bisa menghibur sang Mama yang terlihat bersedih karena kehilangan Ummah.

__ADS_1


Sejak semalam Ali banyak bertanya tentang apa itu kematian, setelah mendengar para pelayan membahas kematian di dapur yang tak sengaja di dengar olehnya, meski sempat bingung tapi Firman sang Papa menjelaskan dengan bahasa yang lebih lembut hingga Ali tahu apa itu kematian. Sejak saat itu dia tahu kenapa sang Mama terus menangis.


Syafa semakin terisak melihat perhatian sang anak, dan apa yang di lakukan Ali benar-benar bisa menyadarkan Syafa bahwa ada Ali yang masih membutuhkan perhatiannya.


"Aly maafkan Mama ya, Nak," lirih Syafa sambil memeluk tubuh mungil Ali.


"Maaf kenapa Ma? Mama tidak punyasalah sama Ali kenala harus minta maaf?" sahut Ali, meski umurnya begitu muda tapi pemikirannya sungguh di luar dugaan.


"Maaf karena Mama terlalu sibuk menangis jadi tidak memperhatikan Ali," Syafa semakin terisak melihat sang anak sudah bisa berfikir dewasa di usia yang seharusnya masih belum waktunya.


"Harusnya Ali yang meminta maaf karena tidak bisa menghibur Mama," jawaban Ali membuat hampir seluruh anggita keluarga menitikan air mata haru.


Bocah sekecil Ali sudah pandai menghibur sang Mama, membuat suasana yang tadi hening kini jadi haru.


"Kenapa semua orang melihat aku Mam?" tanya Ali sambil menunjukkan ekspresi wajah bingung menatap sekitarnya.


"Semua orang lihatin kamu karena kamu ganteng, jadi lebih baik sekarang kita makan ya ganteng." Arum yang sejak tadi merasakan suasana tegang kini mencoba mencairkan suasana agar lebih tenang dan mereka kembali menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh para pelayan.


Saat semua orang sedang mengambil menu yang mereka inginkan, Huda malah bertingkah aneh hari ini. Dia mengambil dua piring dengan makanan dan menu yang sama juga. Kemudian Huda berdiri hendak pergi dari meja makan.


"Huda, kamu mau kemana, Nak?" tanya Buya seolah mewakili pertanyaan semua anggota keluarga yang ada di sana.


"Huda mau ke halaman belakang dulu Buya." Jawab Huda tanpa memberitahu siapa yang akan dia temui di halaman belakang.


"Dia mau nemuin calonnya Buya. Maklum lima hari ke depan dia mau balik ke Australia dan sebelum itu dia mau menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan calonnya itu," Husein yang sejak tadi diam kini menceritakan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Kenapa tidak tunangan saja dulu?" tanya Buya yang merasa aneh dengan sikap Huda yang ingin pergi tanpa mengikat sang gadis.


"Buya bener juga, biar nanti aku omongin sama Ayah dan Ibu," sahut Huda yang baru menyadari kenapa dia tidak bertunangan saja dengan Desy? toh kini hatinya juga sudah mantap memilih Desy sebagai pengganti Arum.


__ADS_2