
"Kalau Umik mengizinkan dan aku tidak mendapat sangsi dari pesantren boleh-boleh saja," jawab Desy.
"Baiklah nanti aku tunggu kamu di sini. setengah jam lagi kamu bisa kembali ke sini." Ujar Huda dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Huda pada Desy yang langsung melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda karena kehadiran Huda.
Huda terus melangkah meninggalkan Desy menuju dapur untuk meminta izin agar Desy tak mendapat masalah karena keinginannya.
"Umik!" panggil Huda saat sampai di dapur dan melihat Umik sedang membantu Hana memasak.
"Iya ada apa, Nak?" sahut Umik sejenak menghentikan pekerjaannya dan beralih menghampiri Huda yang sedang berdiri di belakang Umik.
"Umik, ada yang ingin aku bicarakan," ujar Huda.
"Kamu mau ngomong apa, Nak? sini duduk di samping Umik!" ajak Umik yang kini duduk di kursi meja makan.
"Umik, sebenarnya saat ini aku menyukai salah satu santri yang ada di sini, jika aku memintanya menemaniku sarapan pagi dan makan sore supaya bisa lebih mengenal satu sama lain apa Umik mengizinkan?" dengan hati-hati Huda bertanya pada Umik.
Umik yang mendengar pengakuan Huda langsung tersenyum merasa bahagia mendengar kabar jika Huda sedang menyukai salah satu santrinya.
"Beri tahu Umik dulu siapa gadis yang kamu maksud!" pinta Umik.
"Dia salah satu santri yang sering membantu Umik di sini, terkadang Umik juga mengajaknya bepergian." Jawab Huda.
"Ada beberapa santri yang suka membantu Umik di sini. Termasuk Hana selain jadi haddam dia juga sempat belajar di pesantren ini meski hanya sebentar." Umik yang enggan menebak akhirnya memilih untuk terus bertanya sampai Huda mau menjawab siapa gadis yang dia maksud.
"Dia Desy Umik," jawab Huda sambil menundukkan kepala.
"Kenapa dengan Desy Kak?" Husein yang baru saja masuk ke dapur langsung bertanya saat mendengar Huda menyebut nama Desy.
"Husein, sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Huda yng terkejut melihat Husein yang sudah berdiri tegak di depan dispenser yang berada tak jauh dari sana.
__ADS_1
"Sejak Kakak nyebutin nama Desy barusan," jawab Husein santai.
"Ayo jelasin kenapa tadi nyebut-nyebut nama Desy!" Husein terus mendesak agar Huda bercerita.
"Baiklah, dia gadis yang akan aku jadikan teman hidupku," menyerah sudah, Huda tak lagi bisa menyembunyikan siapa gadis yang dia incar, dan akhirnya Huda memilih untuk menceritakannya.
"Wahh Kakak memang paling pinter milih gadis, Desy gadis yang baik dan rajin Kak, Kakak pasti tidak akan menyesal kalau menikah sama dia," celetuk Husein.
"Makanya sekarang aku mau minta izin sama Umik untuk meminta waktunya Desy agar bisa mendekatinya dan memiliki waktu bersamanya," ucap Huda.
"Baiklah, Umik akan mengizinkanmu sarapan dan makan sore bersama tapi dengan beberapa syarat yang harus kamu penuhi." Akhirnya Umik mengabulkan apa yang di minta oleh Huda.
"Alhamdulillah, Umik sebutkan saja apa syarat yang harus aku penuhi Umik!" pinta Huda pada Umik.
"Syarat pertama, tak ada kontak fisik yang bisa menimbulkan zina, yang kedua jangan sampai waktu sarapan yang kamu minta mengganggu waktu belajar Desy dan yang terakhir cepat resmikan Desy jika memang kamu mencintai Desy." Umik memberitahukan syarat yang harus di penuhi oleh Huda jika dia ingin meminta waktu untuk mendekati dan saling mengenal Desy.
"Aku siap untuk memenuhi syarat yang Umik berikan, dan aku punya satu permintaan lagi ke Umik apa boleh?" Huda kembali meminta sesuatu pada Umik untuk melancarkan rencanya.
"Umik saya minta tolong jangan hukum Desy saat dia bertemu denganku," pinta Huda.
"Baiklah, Umik tidak akan menghukumnya, kamu mau sarapan bersama Desy di mana?" tanya Umik.
"Aku mau mengajaknya sarapan bersama di halaman belakang setelah dia menjemur dan mengangkat jemuran Umik," jawab Huda.
"Oh, ini ceritanya cinta tumbuh di samping tiang jemuran," sela Husein yang sejak tadi hanya diam tanpa berkomentar.
"Kamu ada-ada saja Dek, eh tapi ada benernya juga, dari awal aku ketemu dia juga di tiang jemuran hahaha," ujar Huda.
"Hahaha," suara tawa Huda dan Husein terdengar menggelegar di dapur Umik yang semula sunyi.
"Husss, pagi-pagi sudah berisik, diamlah Umik mau masak." Sela Umik yang merasa terganggu dengan suara tawa keduanya.
__ADS_1
"Aku juga mau ngechat Zahra dulu." Ujar Husein.
"Aku juga mau nyiapin makan buat Aku dan Desy calon bidadari bumi yang akan menjadi ratu di rumahku." Sahut Huda yang kini berdiri meninggalkan dapur.
Huda melangkah menuju kamarnya untuk mengambil ponsel dan memesannya di go food.
"Hari ini enaknya makan apa ya?" Huda berfikir keras sambil menscroll menu makanan yang terlihat di layar ponselnya.
"Wah kayaknya sarapan sama satu porsi pecel sama dendeng kayaknya lebih enak," gumam Huda yang langsung berjalan keluar pesantren dan mengambil kontak sepeda motor yang biasa dia gunakan untuk keluar pesantren. Umik memang menyiapkan satu unit sepeda motor untuk Huda atau guru tugas yang lain untuk mempercepat setiap urusan yang harus di urus oleh mereka.
Dengan hati yang di penuhi rasa bahagia, Huda melajukan sepedanya menuju warung pecel yang tak jauh dari pesantren. Huda memesan dua bungkus nasi pecel spesial dengan dua bungkus teh hangat dan kerupuk sebagai pelengkap kemudian Huda kembali pulang ke pesantren dan langsung berjalan menuju halaman belakang di mana dia sudah membuat janji dengan Desy.
Jam menunjukkan waktu setengah enam lebih dua puluh lima menit yang artinya kurang lima menit lagi waktu yang mereka sepakati akan tiba.
"Loh Mas Huda sudah ada di sini," celetuk Desy yang baru saja sampai di halaman belakang rumah Umik dan melihat Huda sudah duduk di sana sambil memainkan ponselnya.
"Duduklah!" titah Huda santai.
"Apa Mas Huda sudah lama ada di sini?" tanya Desy yang merasa heran dengan kehadiran Huda di halaman belakang tempat yang mereka sepakati.
"Aku baru saja sampai kok, duduklah kita akan makan bersama." Jawab Huda.
"Mas Huda beli sendiri makanan ini?" tanya Desy yang sangat hafal dengan model bungkusan nasi pecel yang biasa di belikan oleh Ibunya saat menjenguknya di pesantren.
"Iya, dan ini khusus untukmu." Huda menyodorkan satu bungkus nasi pecel yang dia beli tadi.
"Sebentar Mas Huda, aku ambilkan piring dan gelas untuk kita." Pamit Desy hendak pergi menuju dapur.
"Sudah tidak usah piring. Kita makan bersama di meja ini saja." Larang Huda.
"Makan bersama bagaimana maksudnya?" tanya Desy yang tak mengerti dengan makan bersama yang di maksud oleh Huda.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan Desy, Huda langsung membuka dua bungkus nasi yang tadi dia bawa kemudian menjadikannya satu agar mereka bisa makan bersama di atas meja, tapi apa yang di lakukan Huda membuat Desy semakin bingung dan tak mengerti.