Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Abi Masih Cemburu


__ADS_3

Umik mencoba meyakinkan Abi jika pilihan Hasan memang baik, karena sejak awal Umik sendiri memang berharap Hasan berjodoh dengan Arum.


"Baiklah, Aku serahkan semua keputusan padamu Sayang. Aku yakin pilihanmu adalah pilihan yang paling tepat." Abi hanya bisa menerima pilihan Hasan tanpa bisa menolak, baginya menuruti keputusan Umik jauh lebih baik dari pada harus berdebat.


"Kalau Abi sudah setuju, bagaimana denganmu Hasan? apa kamu sudah siap jadi seorang suami? ingatlah Nak! suami itu bukan cuma status tapi juga sebuah tanggung jawab yang harus kau laksanakan. Ada banyak hal yang harus kamu putuskan juga lakukan." Umik menanyakan kesiapan Hasan untuk membina rumah tangga.


"Insya Allah Hasan sudah siap Umik," jawab Hasan dengan penuh keyakinan.


"Jika kamu memang sudah siap, Umik akan membicarakannya dengan orang tua Arum." Umik menyanggupi keinginan Hasan, dan keputusan Umik membuat hati Hasan begitu bahagia.


"Alhamdulillah, terima kasih Umik." Hasan yang merasa begitu senang langsung memeluk sang Umik.


"Terima kasih Abi," ucap Hasan menoleh ke arah Abinya yang hanya diam mematung menatap kedua manusia yang paling berarti dalam hidupnya.


"Iya," jawab Abinya Hasan datar.


Ada raut tak rela dan berat hati di wajah Abi (Ilzham) dan Umik (Uqi) yang melihat elapresi itu langsung memahami suasana hati Abi.


"Umik, Abi, Hasan pamit dulu mau ikut jamaah di pondok putera." Pamit Hasan meraih satu persatu tangan Abi dan Umiknya kemudian mencium punggung tangannya dan melenggang pergi meninggalkan keduanya.


Setelah kepergian Hasan, Abi hendak pergi meninggalkan Umik, tapi dengan cepat Umik memegang tangan Abi dan mencegahnya pergi.


"Abi," panggil Umik dengan nada suara yang di buat selembut mungkin.


"Hmm," hanya deheman yang terdengar menandakan suasana hati Abi yang kurang baik.

__ADS_1


Umik yang mengerti suasana hati Abi yang kurang baik langsung melancarkan aksinya. Aksi yang biasa di lakukan Umik untuk meluluhkan hati Abi.


"Abi mau ke mana?" tanya Umik


"Mau ke masjid." Jawab Abi datar.


"Abi, kita sholat jama'ah di rumah ya. Umik pengen jama'ah berdua sama Abi." rengek Umik.


Abi tak menjawab ucapan Umik tapi langkahnya mengikuti ke mana Umik melangkah.


Tanpa sebuah jawaban ataupun ucapan, Umik dan Abi berjalan menuju tempat wudhu' dan bergantian mengambil wudhu'.


"Abi," lirih Umik setelah selesai berjamaah.


"Iya, Umik," jawab Abi.


Abi terdiam seperti memikirkan sesuatu yang entah apa itu, Umik hanya bisa memperhatikan setiap sikap yang di tunjukkan oleh Abi.


"Apa tidak akan ada masalah jika Hasan benar-benar menikah dengan Arum nantinya?" akhirnya sebuah tanya keluar dari mulut Abi.


"Masalah seperti apa yang Abi maksud?" tanya Umik yang merasa bingung dengan apa yang di tanyakan Abi.


"Rifki," satu nama yang mengusik relung hati Abi akhirnya terucap.


Umik yang mendengar nama Rifki langsung menoleh ke arahnya dan membulatkan mata sempurna karena terkejut.

__ADS_1


"Abi masih cemburu pada Rifki?" tanya Umik menatap lekat ke arah Abi namun yang di tatap hanya diam seribu bahasa.


"Abi, Umik tidak akan pernah tergoda ataupun berpaling dari Abi. Bagiku Abi adalah cinta terakhirku dan Aku akan selalu setia bersamamu sampai akhir usiaku." Umik berusaha meyakinkan Abi agar tak ada lagi kata cemburu di antara mereka, apalagi mengingat usia mereka yang tak lagi muda.


"Aku tahu kamu tidak akan pernah berpaling, tapi Aku tidak yakin jika Rifki benar-benar sudah melupakanmu." Abi menjelaskan apa yang mengganjal di hatinya.


Perasaan was-was masih saja hinggap di hati Abi, dia masih terngiang-ngiang ancaman Rifki yang akan merebut kembali Umik dari sisinya, mengingat berapa lama hubungan mereka terjalin dan sesedih apa Umik saat Rifki meninggalkannya. Semua yang di ketahui Abi tentang masa lalu keduanya membuat Abi khawatir jika mereka akan menjadi besan dan sering bertemu membuat cinta yang sudah lama terkubur kembali muncul.


"Abi," Umik yang mendengar penjelasan Abi memanggilnya sembari menahan tawa juga menepuk pelan bahu Abi.


"Kenapa kamu malah mau ketawa gitu?" tanya Abi sedikit kesal melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Umik.


"Aku ketawa bahagia Sayang," Umik merubah panggilannya, melepas mukenah yang sejak tadi bertengger di tubuhnya kemudian melipat dan berjalan menuju tempat rias menggerai rambut dan menyisirnya pelan di ikuti Abi yang juga melipat sajadah dan menanggalkan sarung dan baju kokoh menggantinya dengan celana pendek dan kaos putih polos yang membuat badannya yang tak atlentis tercetak jelas. Meski perutnya sedikit buncit tapi wajah tampan dan kulit putih mulusnya membuatnya tetap terlihat tampan di usianya yang sudah matang.


"Tapi kehadiran Rifki nantinya akan tetap mengganggu fikiranku," keluh Abi yang kini duduk di tepi ranjang menatap lurus ke arah Umik yang masih menyisir rambut.


"Abi, percayalah Umik dan Rifki tidak akan pernah lagi mengungkit ataupun mengingat masa lalu. Fia sudah punya dua anak dan anak mereka sudah cukup jadi bukti jika Rifki sudah menerima kehadiran Fia, karena tak akan ada malaikat kecil di sebuah keluarga jika tak ada cinta antara kedua orang tuanya." Umik mencoba menjelaskan apa yang dia tahu, meski Umik harus berfikir keras merangkai kata yang bisa di terima oleh Abi, Umik akan tetap bahagia jika Abi bisa menerima dan mencerna penjelasannya.


"Aku masih butuh waktu untuk bisa mencerna dan menerima semuanya, jika memang anak mantan kekasihmu adalah jodoh puteraku Aku akan berusaha menerimanya dengan lapang dada. Karena tak ada satupun di dunia ini yang mampu melawan takdir yang sudah tertulis." Tutur Abi.


Meski Abi masih belum sepenuhnya bisa menerima tapi sebisa dia berusaha untuk menerima apa yang sudah menjadi takdir untuk anaknya.


"Alhamdulillah, jika Abi bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Percayalah Abi bahwa Allah jauh lebih mengerti mana yang baik dan mana yang buruk untuk hambanya, tinggal bagai mana kita menjalaninya," Umik yang mendengar penuturan Abi semakin bersemangat untuk berjuang agar Abi setuju dan merestui Hasan.


Hari ini terlewati dengan penuh lika liku kehidupan, ada tawa di setiap langkah tapi Tak jarang tawa itu tiba-tiba menghilang berganti air mata.

__ADS_1


Abi yang melihat reaksi Umik merasa memiliki kesempatan untuk meminta jatah malam ini. Jatah yang biasanya dia dapat tiga kali dalam seminggu kini menjadi empat kali jika Umik menuruti keinginan Abi.


Dan sebagai seorang istri yang soleha Umik hanya bisa mengangguk tanpa bisa menolak, dan terjadilah pergulatan panas dua insan yang terus di mabuk asmara tanpa mengenal usia.


__ADS_2