
Perjalanan menuju rumah sakit di mana Arum dan Hasan akan memastikan hasil tes mandiri yang mereka lakukan cukup memakan waktu yang lama, sekitar setengah jam lamanya perjalanan yang harus di tempuh oleh mereka.
"Permisi Mbak!" tegur Hasan setelah sampai di depan resepsionis rumah sakit.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Pak," sahut sang resepsionis dengan senyum ramah yang terlihat di wajahnya.
"Mbak saya ingin memeriksakan kandungan, ruangan khusus bagian obgyn di sebelah mana ya Mbak?" tanya Hasan yang baru pertama kali masuk ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan sang istri.
"Bapak lurus saja. terus belok kiri di sana ada ruangan bertuliskan Dr, Amelia bapak bisa masuk danmenemui beliau karena beliaulah dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakit ini," jelas sang resepsionis.
"Terima kasih untuk informasinya," ucap Hasan.
Dengan langkah pasti Hasan berjalan sambil memegang tangan Arum menuju ruangan yang di maksud oleh sang resepsionis, mencari dokter Amel yang katanya dokter kandungan di rumah sakit yang mereka datangi. Sebenarnya Hasan juga memiliki dokter pribadi keluarganya tapi Hasan enggan untuk memanggil ataupun menemui dia yang juga bertugas di rumah sakit yang sekarang mereka datangi. Alasan Hasan cuma satu karena dokter pribadi keluarganya seorang laki-laki meski umurnya sudah tua tetap saja dia laki-laki, Hasan tak ingin Arum di sentuh orang lain selain dirinya meskipun orang itu hanya memeriksa keadaan Arum.
Tok ... tok ... tok ....
"Permisi," ucap Hasan sopan.
"Masuk!" suara sahutan seorang wanita terdengan.
"Ayo Syei'!" ajak Hasan melepas tangan Arum dan berpindah merangkul bahunya.
Arum yang mendapat ajakan mesra dari sang suami yang kini merangkul bahunya dengan lembut hanya mengikuti langkah sang suami tanpa membalas ucapannya.
"Silahkan duduk! ada yang bisa saya bantu Pak, Buk?" sambut sang dokter dengan senyum ramah yang membuat aura ketenangan di sekitar ruangan semakin terasa.
"Begini Dok, saya mau memastikan sekaligus memeriksakan istri saya, apakah dia benar hamil atau tidak? jika benar hamil bagaimana kondisi janinnya dok?" Hasan menjawab pertanyaan sang dokter dengan rentetan pertanyaan yang di barengi dengan ekspresi antusias di wajah Hasan, sedang sang dokter malah tersenyum menanggapi rentetan pertanyaan yang muncul dari pasien yang ada di hadapannya.
"Apa ini anak pertama?" tanya Dr, Amel saat melihat keantusiasan yang ada di wajah Hasan.
__ADS_1
"Benar Dok, jika istri saya benar hamil, ini anak pertama kami," jawab Hasan, apa yang terlihat di wajah Hasan jauh berbeda dengan apa yang terlihat di wajah Arum.
Sejak keluar dari rumah Arum masih saja terkejut dengan hasil tespack yang dia lakukan, dalam hati Arum ada rasa bahagia yang bercampur rasa terkejut bahwa dia akan menjadi seorang ibu.
"Syei'!" lirih Hasan mengusap lembut lengan Arum yang sedang tertegun menatap kosong ke depan.
"Eh, iya Bi," sahut Arum mengalihkan pandangannya menatap ke arah Hasan.
"Tunjukkan tes kehamilan yang tadi sudah kamu gunakan!" titah Hasan.
Arum yang mendengar perintah Hasan langsung mengambil tes kehamilan yang tadi sudah di cuci dan di masukkan ke dalam plastik di tasnya.
"Ini hasil tesnya Dok." Arum memberikan tes kehamilan ke arah Amel.
"Alhamdulillah, ini positif," ujar Dr. Amel.
"Alhamdulillah," spontan Hasan memeluk Arum dari samping seraya mencium kepala Arum yang terbungkus rapi oleh kerudung.
"Saya sudah telat dua minggu yang lalu Dok," jawab Arum.
"Kalau begitu Ibu bisa ikut saya untuk melihat berapa usia kandungan Ibu dan keadaan sang janin lewat usg." Ujar Dr Amel yang di angguki oleh Arum dan Hasan dengan anggukan kepala.
Ketiganya melakukan usg yang membuat Hasan tertegun saat melihat sebuah layar hitam putih yang ada di samping Arum. Air mata Hasan tak bisa lagi di bendung, sejak tadi matanya memanas dan menganak sungai saat melihat setitik gambar putih yang terlihat di layar.
Sungguh suasana yang mengharukan bagi Hasan yang baru pertama kali akan menjadi seorang Ayah.
"Abi, aku sudah menuruti apa yang Abi minta, jadi sekarang giliran Abi yang harus memenuhi janji Abi," Arum langsung menagih janji Hasan yang akan mengajaknya mencari ubi ungu.
"Biar Abi cek dulu!" sahut Hasan mengambil ponsel yang ada di saku celananya kemudian menggeser layar yang terlihat menyala.
__ADS_1
'Kenapa asistenku belum ngasih kabar juga?' batin Hasan menatap hampa layar ponsel yang tak ada notif masuk sedikitpun.
"Kenapa, Bi?" tanya Arum yang merasa aneh saat melihat wajah pucat Hasan saat melihat ponsel.
"Tidak ada Syei', kalau begitu kita cari ubinya sekarang." Jawab Hasan sambil menginjak gas mobilnya, sejak tadi mereka berada di dalam mobil setelah melakukan pemeriksaan.
Mendengar ucapan Hasan membuat Arum terdiam, dia tak lagi merengek ataupun mendebat, sungguh sifat Arum saat ini sudah seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu.
Mobil Hasan terus saja berjalan menelusuri setiap tempat di mana biasanya ada ubi ungu yang di jual, tapi Hasan dan Arum tak menemukan ubi ungu seperti yang di inginkan sang istri.
"Syei', ini ubi ungu, apa kamu tidak mau?" tanya Hasan menunjukkan ubi yang memiliki warna ungu.
"Abi, aku inginnya ubi ungu yang dalamnya juga ungu, ubi seperti itu rasanya manis dan empuk kalau ini cuma kulitnya aja yang berwarna ungu dalamnya putih aku gak mau Bi," tolak Arum membuat Hasan cukup pusing untuk mengatasi perubahan sikap Arum.
'Astaghfirullah, sabar Hasan, ini demi calon anak kamu,' batin Hasan bersuara.
Hasan menarik nafas sebanyak mungkin kemudian mengeluarkannya perlahan, mencoba menguatkan hati dan memperbesar rasa sabarnya.
"Baiklah kita akan cari di tempat lain." ujar Hasan, mengembalikan satu ubi yang dia pegang.
"Maaf ya Pak, istri saya tidak mau ubi yang seperti ini," dengan sopan Hasan meminta maaf pada sang penjual karena tak jadi membeli barang dagangannya.
"Istrinya minta yang seprti apa Mas?" sahut sang penjual masih dengan sikap ramahnya meski Hasan tidak jadi membeli barang dagangannya.
"Dia minta ubi ungu yang dalamnya juga berwarna ungu pekat Pak," jawab Hasan.
"Kalau ubi ungu seperti itu di sini jarang ada, ubi yang seperti itu biasanya ada di daerah pegunungan, Mas bisa mencarinya di kota B, kalau di sini pasti sulit nyarinya karena belum panen raya." Bapak penjual ubi itu menjelaskan semua yang dia tahu.
"Terima kasih informasinya Pak, semoga dagangan bapak laris," ujar Hasan.
__ADS_1
"Amin," sahut sang Bapak.
"Abi," lirih Arum menarik ujung baju Hasan saat mereka sedang berjalan ingin masuk ke dalam mobil.