Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Desy Merasa Aneh


__ADS_3

"Kamu mau tanya apa, Nak?" sang Ayah mulai membenahi posisi duduknya sambil mengalihkan pandangan menatap ke arah Desy yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Sebenarnya semua barang dan uang yang di berikan padaku ini daei siapa?" keluar sudah, pertanyaan yang sudah satu bulan ini terus membayangi fikiran Desy, bayangkan saja biasanya Desy hanya mendapat jatah lima ratus ribu untuk satu bulan dan kedua orang tuanya tak pernah memberikan uang jatah pada Desy dengan di bungkus amplop, biasanya mereka akan memberikan uang begitu saja tanpa di masukkan amplop.


Desy juga merasa aneh dengan berbagai macam barang kebutuhan juga bermacam-macam camilan yang Desy tahu harganya cukup mahal. Biasanya Desy hanya akan di bawakan beberapa snack dan masakan sang Ibu saja, tapi bulan kemarin Ibu Desy justru membawakan sesuatu yang jauh lebih banyak dan mewah dari biasanya.


"Kenapa kamu tanya seperti itu, Nak?" bukannya menjawab Ayah Desy justru balik bertanya, pasalnya Pak Sulaiman dan yang lain sudah terikat janji untuk tidak menceritakan tentang Huda dan pinangan yang sudah di lakukannya.


"Maaf sebelumnya Ayah, Ibu, bukan maksud Desy menghina atau tak mensyukuri apa yang telah kalian berikan padaku, karena aku sangat yakin jika semua yang kalian berikan itu yang terbaik tapi apa yang Ayah dan Ibu kasih bulan kemarin sangat berbeda dari biasanya," jelas Desy.


"Berbeda bagaimana Nak?" sahut Ibu Desy yang sejak tadi diam dan menyimak percakapan Desy dan sang Ayah.


"Ibu dan Ayah biasanya memberiku lima ratus ribu untuk satu bulan, tapi bulan kemarin kalian memberiku tiga kali lipat, di tambah semua barang dan makanan yang kalian kirim semuanya mahal-mahal, sangat jauh dari barang yang biasa aku pakai dan snack yang biasa Ibu bawakan," Desy kembali menjelaskan alasan dia merasa aneh dan bingung.


Mendengar penjelasan sang putri sukses membuat kedua bola mata sang Ayah dan Ibu langsung melebar, begitu pula dengan ekspresi wajah Vina yang tampak terkejut, bayangkan tiga kali lipat dari jatah biasanya itu berarti satu juta setengah, sungguh beruntung sekali kakaknya itu dalam fikiran Vina.


"Itu sudah jadi rezekimu, Nak, terima dan syukuri saja apa yang ada!" Ayah Desy tak punya kata-kata ataupun penjelasan yang bisa di berikan kepada sang putri karena janji tak bisa dia ingkari.


"Ayah, Ibu, maaf bukannya menolak, tapi apa yang kalian berikan itu terlalu banyak, aku merasa menjadi beban bagi kalian jika kiriman yang kalian beri sebanyak itu." Tutur Desy.


Sejak kecil Desy memang tipe gadis yang mandiri, dia tak pernah merepotkan orang tuanya, tak sekalipun Desy menyusahkan orang tuanya dengan permintaan-permintaan yang sulit di penuhi oleh mereka, Desy selalu menerima apapun yang di berikan orang tuanya tanpa protes sedikitpun.


"Jika kamu merasa uang jatahnya terlalu banyak, kamu bisa menabungnya, Nak!" sahut Ibu Desy mencoba membantu Pak Sulaiman sang suami yang terlihat bingung di sebelahnya.


"Benar, Nak, kamu tabung saja sisanya!" timpal Ayah Desy dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu lega setelah mendengar sang istri menyahuti perbincangan keduanya.

__ADS_1


"Baiklah, Desy akan menabungkan sisanya. Tapi kalau bisa jangan terlalu banyak Bu, karena tujuan Desy berada di sini untuk mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, jadi harus belajar hidup apa adanya," ujar Desy.


Kedua orang tua Desy hanya tersenyum manis ke arah sang putri, bagaimana mereka bisa mengurangi jatah yang di berikan Huda untuk Desy jika mereka saja awalnya tidak tahu berapa uang yang di berikan pada Desy bahkan mereka juga sempat terkejut karena ternyata uang kiriman dari Huda cukup banyak.


"Eh, ini Ibu dan Ayah bawakan makanan dan beberapa cemilan juga barang yang kamu butuhin selama satu bulan, bagaimana kalau kita ke kamarmu untuk menatanya?" usul Ibu Desy mengalihkan pembicaraan agar putrinya itu tak lagi membahas uang atau apapun yang berhubungan dengan Huda.


"Ayo ke kamar, Dek!" Desy langsung mengajak sang Adek untuk ikut ke kamar bersamanya.


"Desy! ambil uangnya dulu baru pergi." Cegah Ayah Desy, pasalnya sejak tadi Desy belum mengambil uang yqng di ulurkan oleh sang Ayah.


"Terima kasih Ayah," ucap Desy yang di tanggapi dengan senyuman dan anggukan oleh sang Ayah.


Ketiganya berjalan bersama menuju kamar Desy dengan dua kardus penuh dengan barang dan makanan yang di bawakan oleh Orang tuanya.


"Rasanya cukup lama juga aku tidak masuk ke sini ya Kak," celetuk Vina sambil memperhatikan keadaan sekitar pesantren yang terlihat cukup ramai dengan para santri yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


"Kemarin-kemarin aku ujian Kak, jadi gak bisa ikut," Vina mengutarakan alasannya tidak bisa ikut ke pesantren pada Desy.


"Assalamualaikum," ucap ketiganya saat sampai di kamar.


"Waalaikum salam," sahut Shinta, saat ini hanya ada Shinta di dalam kamar.


"Shinta, bagaimana kabarmu, Nak?" sapa Ibu Desy.


Shinta sudah akrab dengan keluarga Desy sejak lama, bahkan Shinta sering sekali berkunjung ke rumah Desy saat libur pesantren.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik, Ibu sendiri bagaimana kabarnya?" sahut Shinta.


"Alhamdulillah baik," jawab Ibu Desy.


"Vina, lama gak lihat kamu datang ke sini, ke mana aja?" kini giliran Vina yang di sapa oleh Desy.


"Kemarin-kemarin sibuk ujian Kak, jadi gak bisa ikut soalnya harus belajar di rumah," hawab Vina.


"Wahh anak rajin," celetuk Shinta.


"Ya rajinlah, kan Adek aku, beda sama kamu Shin," Desy menyahuti percakapan sang Adik dan sahabatnya.


"Idih nyahut aja kayak listrik," cicit Shinta.


"Sudah-sudah jangan ribut! lebih baik kita beresin barang kamu dulu." Sela Ibu Desy.


"Siap Bu," jawab Desy.


"Apa perlu aku bantu Desy?" tawar Shinta.


"Emang kamu tega lihat temenmu yang cantik ini beres-beres sendiri?" jawab Desy.


"Okey aku bantuin, asal entar aku kamu kasih hadiah." Ujar Shinta.


"Soal itu mah gampang, udah bantuin aja jangan nyerocos mulu!"tegas Desy.

__ADS_1


Keempatnya mulai membuka barang yang tadi di bawakan oleh Ibu dan Ayah Desy, dan benar saja Ibu Desy dan Vina terkejut melihat isi di dalam kardusnya, bagaimana tidak semua yang ada di dalam kardus berisi barang-barang yang mahal dan makanan yang biasa di jual di alf***t.


'Pantas saja Desy bertanya dan merasa aneh dengan apa yang aku beri, ternyata isinya sesuatu yang tidak pernah aku belikan untuknya saat mengirim ke pesantren,' batin Ibu Desy sambil menatap satu per satu makanan dan barang yang tadi terbungkus rapi dalam kardus.


__ADS_2