
"Hoek ... hoek ... hoek ...." suara Zahra menggema di dalam kamar mandi terdengar sampai keluar.
"Kamu kenapa, Dek?" Husein yang sejak tadi duduk diam di atas kasur memangku laptop yang sejak tadi dia mainkan langsung berdiri menghampiri Zahra yang tengah mual-mual di dalam kamar mandi.
Tak ada sahutan dari dalam kamar mandi, tapi suara Zahra tak lagi terdengar membuat Husein yang masih setia berdiri di depan pintu semakin khawatir dan cemas.
"Zahra! Sayang, kamu gak apa-apa?" Husein kembali bertanya seraya menempelkan telinga di pintu kamar mandi. Berharap mendengar suara Zahra atau gerakan yang dia lakukan. Tapi semuanya masih sama, sepi seperti tak berpenghuni.
"Kalau sampai hitungan tiga kamu masih belum menyahut, aku akan mendobrak pintu ini!" ancam Husein yang sudah kalut dan bingung karena Zahra sama sekali tak menyahuti panggilannya.
Suasana masih saja sepi, Zahra tidak lagi terdengar di dalam.
Satu ...
Dua ...
'Ceklek'
Zahra yanh sebenarnya masih mengumpulkan kekuatan setelah mengeluarkan seisi perutnya langsung membuka pintu kamar mandi setelah mendengar sang suami sudah menghitung.
"Kamu tidak apa-apa? kalau kamu sakit atau tidak enak badan lebih baik kita ke dokter sekarang." Cerca Husein setelah melihat Zahra keluar dari kamar mandi.
"Diamlah, Mas! kepalaku makin pusing denger Mas ngomong tanpa jeda," seru Zahra membuat Husein terkejut bercampur bingung.
'Sejak kapan Zahra bisa bicara seketus itu?' batin Husein mulai bertanya-tanya.
Sejak pertama bertemu hingga saat ini Zahra bukanlah pribadi yang menyebalkan, tutur katanya selalu lembut menyejukkan jiwa, Zahra jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah membentak ataupun berkata dengan kata-kata ketus yang dapat menyakitkan hati orang yang mendengarnya.
Tapi pagi ini sungguh berbeda, Zahra berbicara dengan ketus di sertai tatapan sinis dan malas, sungguh Zahra yang sekarang sangat berbeda dengan Zahra yang biasanya.
Zahra langsung merebahkan diri di atas kasur sambil meletakkan lengan di atas kepala, terlihat jelas ekspresi lelah dan lemah di wajah Zahra yang tertutup lengan, sedang Husein justru bingung harus melakukan apa melihat sikap Zahra yang sangat berbeda pagi ini, suasana canggung tiba-tiba tercipta tak ada yang bersuara yang ada hanya keheningan.
"Mas," lirih Zahra setelah cukup lama tak terdengar suara.
"Iya, kenapa?" sahut Husein yang sejak tadi memilih duduk di sofa menatap laptop menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
__ADS_1
"Aku haus Mas, tapi aku gak kuat mau berdiri, apa Mas bisa buatkan aku susu sapi hangat?" ujar Zahra.
"Susu sapi hangat?" Husein mengulangi permintaan Zahra yang terasa begitu aneh di telinganya, Husein merasa aneh dengan permintaan Zahra, sejak kapan dia menyukai susu sapi? setahunya Zahra kurang suka dengan susu sapi yang katanya bau amis yang terlalu menyengat.
"Iya, aku tiba-tiba pengen susu sapi hangat, apa boleh?" Zahra mengulangi permintaannya untuk meyakinkan Hasan.
"Tunggu sebentar!" jawab Husein melangkah meninggalkan kamar menuju dapur.
Husein yang sebenarnya masih merasa jengkel bercampur bingung memilih untuk menuruti permintaan Zahra dari pada mengikuti ego ataupun rasa penasarannya.
"Bik, Sumik!" panggil Husein setelah sampai di lantai bawah.
"Iya, Tuan, ada apa?" sahut Bik Sumik berjalan dengan langkah cepat menghampiri Husein dengan kemonceng di tangan kanan dan serbet yang bertengger indah di pundaknya.
"Bik, apa di kulkas ada susu sapi?" tanya Husein saat melihat Bik Sumik berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa yang di maksud Tuan Husein susu sapi asli?" bukannya menjawab Bik Sumik malah balik bertanya memastikan jika apa yang di fikirkannya benar.
"Iya, Bik, susu sapi asli," jawab Husein.
Selama ini Husein dan Zahra memang kurang menyukai susu sapi, tapi keduanya gemar meminum susu kemasan yang ada di kotak besar, jadi pantas saja jika di dalam kulkas tidak ada susu sapi.
"Kira-kira kita bisa beli susu sapi di mana, ya Bik?" Husein kembali bertanya.
"Sepertinya sebentar lagi bakal ada penjual susu sapi yang akan lewat di depan rumah," jawab Bik Sumik.
"Bik Sumik tolong beliin susu sapi bisa, kan?" pinta Husein.
"Boleh, Tuan," Bik Sumik menyanggupi permintaan Husein.
"Tunggu sebentar ya, Bik!" Hasan menapaki tangga masuk ke dalam kabar berniat mengambil uang untuk membeli susu.
"Susunya mana, Mas," sergah Zahra saat melihat sang suami baru saja masuk ke dalam kamar.
"Di rumah tidak ada stok susu sapi, Dek, ini mau ambil uang. Kata Bik Sumik sebentar lagi bakal ada tukang jual susu lewat di depan rumah," jawab Husein.
__ADS_1
Tak ada suara jawaban lagi dari Zahra membuat Husein merasa lega, dia bergegas mengambil uang untuk di berikan pada Bik Sumik.
"Ini uangnya, Bik!" Husein memberikan satu lembar uang berwarna merah pada Bik Sumik.
"Tuan Husein mau beli berapa liter?" Bik Sumik kembali bertanya.
"Kemasannya berapa liter Bik?" Husein kembali bertanya, karena dia memang tidak mengerti harus membeli berapa liter.
"Macam-macam Tuan, ada yang satu liter, ada juga yang satu liter setengah," jelas Bik Sumik.
"Beli aja yang satu liter setengah!" titah Husein.
"Belinya cuma satu botol atau berapa Tuan?" Bik Sumik kembali bertanya.
"Kalau tiga botol uangnya cukup gak Bik?" Husein benar-benar tidak tahu harga susu sapi karena ini pertama kalinya dia beli. Biasanya dia langsung minum milik sang Kakak jika pengen tapi itu sangat jarang mengingat Husein kurang suka dengan susu sapi.
"Cukup Tuan, uangnya malah masih lebih kalau cuma beli tiga botol satu setengah literan," jawab Bik Sumik.
"Sisanya buat Bik Sumik saja, tapi nanti langsung masakin dan buatkan untuk Zahra! antar aja ke kamar ya Bik!" Husein kembali memberi perintah.
"Siap, Tuan," sahut Bik Sumik dengan penuh semangat, pasalnya dia akan mendapatkan uang tip yang lumayan bisa buat belanja di rumahnya.
Husein yang merasa sudah menyelesaikan tugas kini berjalan kembali masuk ke dalam kamr untuk melihat keadaan Zahra sang istri.
'Ceklek'
Baru saja pintu di buka suara protes Zahra langsung terdengar mengejutkan Husein yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Mas belum mandi ya?" sergah Zahra tanpa mengubah posisinya yang kini duduk bersandar di kepala ranjang.
"Belum, memangnya kenapa, Dek?" sahut Husein bingung mendengar pertanyaan Zahra yang terdengar cukup aneh di telinganya.
"Mas, Bau, aku gak tahan baunya," protes Zahra yang sukses membuat Husein terkejut sekaligus bingung.
Mendengar Zahra protes membuat Husein langsung bertindak, dia mencoba mengendus-endus badannya sendiri. Mencoba membuktikan apa yang di katakan Zahra benar atau salah.
__ADS_1
"Tidak bau, Dek, bahkan parfum yang semalam masih tercium," bela Husein saat tak mencium bau aneh kecuali bau parfum yang sempat di pakainya semalam.