
"Arum," panggil Fifi.
"Eh Mbak Fifi, habis dari mana?" tanya Arum saat melihat Fifi sudah segar dengan baju yang sepertinya baru di ganti.
"Dari kamar mandi, Arum sendiri dari mana?" Fifi yang penasaran melihat Arum yang baru saja keluar dari rumah Umik pun bertanya.
"Dari rumah Umik Mbak," jawab Arum jujur.
"Oh." Fifi hanya menjawab dengan satu huruf yang membuat bibirnya berbentuk bulat.
Arum dan Fifi berjalan beriringan menuju kamar, Arum yang ingin cepat-cepat mandi langsung mengambil koper yang tadinya tersimpan rapi di atas loker.
"Loh Arum mau ke mana?" tanya Fifi yang terlihat terkejut saat Arum menurunkan koper.
"Apa Arum ada masalah?" tanya Fifi dengan ekspresi wajah khawatir.
"Tidak Mbak, saya di suruh Umik bawa sisa baju di koper ke dalam rumah Umik." Arum kembali menjawab pertanyaan Fifi tanpa ada beban enteng, seenteng kapas.
"Kamu mau pindah?" mendwngar jawaban Arum akhirnya Fifi berfikir jika Arum akan pindah.
"Enggak Mbak, Saya tetap tinggal di kamar cuma sisa baju yang saya bawa di suruh simpen di rumah Umik." Jawab Arum.
"Kamu sau~"
"Arum," panggil Desy menghentikan pertanyaan yang akan di ajukan kembali oleh Fifi.
"Desy, Sinta," sahut Arum yang melihat kedua temannya itu datang dengan senyum mengembang.
"Kamu bawa koper mau ke mana?" tanya Sinta.
"Aku mau ke rumah Umik," jawab Arum.
"Kamu mau pindah ke sana?" tanya Sinta sedikit terkejut mendengar jawaban Arum.
"Enggak, ini sisa baju yang gak muat di loker, oh ya Aku duluan ya. Soalnya Umik nungguin kalau kelamaan di sini Aku juga gak enak." Arum yang merasa percakapan mereka akan menimbulkan banyak tanya dan menyita banyak waktu akhirnya memutuskan untuk segera pergi.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Arum berjalan menjauh menuju rumah Umik.
"Waalaikum salam," sahut ketiga teman Arum.
"Menurut kalian hubungan Arum sama Umik itu apa ya?" Fifi yang sejak tadi diam mematung melihat kepergian Arum kini mulai buka suara.
"Entahlah Mbak, yang Aku dan Sinta tahu cuma satu Arum itu anggota kamar D2 sama seperti kita." Jawab Desy.
"Mbak kita balik dulu ya, soalnya belum mandi takut masbug sholat maghrib gara-gara gak dapet kamar mandi." Desy yang tahu sifat buruk Fifi langsung berucap seraya menyikut pelan lengan Sinta agar ikut bersamanya.
"Aku juga, duluan ya Mbak." Setelah berpamitan Desy dan Sinta langsung pergi ke kamar mengambil baju ganti dan bergegas segera pergi mencari antrian kamar mandi.
"Kamu tahu sepertinya Mbak Fifi kurang suka sama Arum." Ucap Sinta saat ini Sinta dan Desy tengah menunggu antrian kamar mandi di teras bertingkat dekat kamar mandi.
"Kamu kok bisa bilang gitu gimana ceritanya?" tanya Desy.
"Kamu tahukan kalau Mbak Fifi suka banget sama Mas Hasan," Sinta mulai bergosip.
"Iya, terus apa hubungannya sama Arum?" tanya Desy yang masih belum tahu apa-apa.
"Astaghfirullah, kamu gak tahu breaking news pesantren hari ini?" Sinta yang memang bigos atau biang gosip selalu tabu berita terkini tentang perkembangan santri di pesantren. Karena dia di tugaskan di kantor sebagai pencatat murid baru ataupun membantu pekerjaan kantor pondok lain.
"Kau tahu Arum itu tak tercatat sebagai santri di sini, bahkan waktu dia pertama masuk ke pesantren ini dia tak mendaftar di kantor malah langsung masuk ke rumah Umik. Dan lebih janggalnya lagi Arum itu di beri izin untuk menempati kamar Neng Syafa. Padahal setahu kita Umik tidak pernah punya saudara seperti Arum." Sinta menceritakan semua yang dia tahu tentang kedatangan Arum.
"Astaghfirullah Sin, kita mending jangan bahas tentang Arum deh. Kasihan dia masak kita gosipin temen sendiri." Desy yang mulai menyadari jika sikapnya salah langsung mengingatkan Sinta.
"Astaghfirullah, maaf Aku suka lupa kalau dia teman kita," ucap Sinta cengengesan.
"Dasar kau bigos pesantren," Desy menoyor pelan kepala Sinta.
"Ishhh meski bigos gini Aku sahabatmu yang setia menemani dalam suka dan duka." Ujar Sinta dengan lagak dramatis.
******
Arum yang baru saja masuk ke kamar, meletakkan sisa barang-barang yang tidak muat langsung terkejut melihat beberapa foto dirinya waktu kecil yang berada di Lemari.
__ADS_1
"Loh kok banyak fotoku di sini," lirih Arum, mengambil kotak yang terbuka. Berisi foto masa kecilnya dan beberapa tangkai mawar yang sudah layu di sana.
"Kok bisa ada di sini? siapa yang nyimpen?" lirih Arum.
Arum yang tadinya mau menata sisa baju di lemari kini beralih duduk di tepi kasur membuka dan melihat setiap foto yang ada di dalam kotak.
Terlihat jelas jika foto yang si ambil adalah foto dirinya orang yang mengambil foto pasti memfoto dengan jarak jauh.
"Mungkin ini kerjaan Kak Husein," ujar Arum setelah lumayan lama memperhatikan setiap foto yang ada di kotak.
Arum yang merasa jika waktu mandinya akan habis jika tidak segera ke kamar mandi langsung bergegas mengambil baju ganti dan handuk setelah menyimpan kembali kotak yang dia pegang tadi.
"Kak Hasan," sapa Arum yang tengah melihat Hasan mengambil minum di dapur dekat kamar mandi.
"Hm," satu kata yang keluar dari mulut Hasan.
Hasan yang selalu bersikap dingin membuat Arum tak peduli, sejak kecilHasan memang seperti itu berada di dekatnya berasa ada di kutub utara, Dingin.
Arum terus melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi mulai membersihkan diri.
Sedangkan di luar kamar mandi Hasan tersenyum lucu melihat tingkah Arum dan mendengarnya memanggil namanya membuat jantung Hasan berdetak lebih kencang sekencang Rosi saat balapan.
'Semoga Aku yang di pilihnya' batin Hasan.
Hasan mengetahui rencana perjodohan antara Arum dan salah satu darinya, saat itu Hasan tengah merapikan kertas-kertas yang baru saja dia kerjakan tak sengaja dia mendengar percakapan Umik dengan Bunda Arum, mereka tengah membahas perjodohan yangakan mereka lakukan.
Hasan tersenyum lebar mendengarnya dan dia bertekad akan merebut hati Arum, gadis pujaan hatinya selama ini Hasan diam-diam menaruh hati pada Arum hanya saja dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya itu.
Arum gadis cantik dan baik yang mampu mengobrak abrik hati kedua Putera pesantren, entah siapa yang akan Arum pilih dan siapa yang akan menjadi takdirnya biar waktu yang menjawab semua.
Arum yang telah selesai dengan ritual mandinya langsung pergi ke kamar untuk bersiap-siap untuk sholat berjamaah.
"Umik," panggil Arum yang melihat Umik mengambil mukenah untuk dia pakai.
"Arum sudah siap, Nak?" tanya Umik tersenyum lembut ke arah Arum.
__ADS_1
"Sudah Umik," jawab Arum.
"Ya sudah, kita langsung ke mushollah sebentar lagi sudah maghrib." Arum yang awalnya ingin bertanya kembali tentang apa yang tadi sempat dia tanyakan dan belum di jawab oleh Umik mengurungkan niatnya mendengar ajakan Umik.