Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Pengalaman berharga


__ADS_3

Dengan gerakan kilat Arum menyelesaian mandinya, membersihkan semua lumpur yang menempel di tubuhnya. Kemudian mencuci baju yang tadi di pakai.


"Kak Husein," panggil Arum dengan wajah yang kembali cerah, secerah sinar mentari pagi. Arum keluar dari tempat yang mirip kamar mandi dengan keadaan wajah yang segar terdapat beberapa tetes air yang masih menempel di wajahnya.


Sejenak Husein terdiam mematung menatap ke arah Arum, mengagumi setiap inci dari wajahnya yang terlihat begitu sempurna.


"Kak Husein!!" panggil Arum mencoba menyadarkan Husein dari lamunannya.


"Eh, M~maaf kenapa tadi?" tanya Husein.


"Aku udah selesai, apa gak lebih baik kita gabung dengan yang lain?" tanya Arum sedikit ragu.


"Oh iya, ayo!" Husein berjalan lebih dulu memberi isyarat agar Arum mengikutinya dari belakang. Dengan penuh semangat Arum mengikuti langkah Husein, berjalan mendekat ke arah Ibu-Ibu yang tadi menanam padi bersama Arum.


"Sini Nak, kita makan bareng!" ajak salah satu Ibu penanam padi.


Arum melihat semua bungkusan masih tertata rapi di hadapan masing-masing pekerja, begitupun dengan bungkusan milik Pak Marto.


"Loh kok belum makan?" tanya Arum.


"Kami sengaja menunggu kalian selesai membersihkan diri, biar kuta busa makan bersama, kalau makan sendiri-sendiri nikmatnya bisa berkurang." Ucap Mbak Hana tersenyum lembut ke arah Arum dan Husein.


Husein mengambilkan satu bungkus makanan yang di letakkan di atas piring berbalutkan daun pisang.


"Ini daun pisang bukan?" tebak Arum menoleh ke arah Husein.


"Iya, makanan kalau di bungkus daun pisang seperti ini rasanya akan jauh lebih nikmat. Apalagi di makan bareng-bareng kenikmatannya berkali-kali lipat." Jawab Husein penuh keyakinan.


Arum hanya manggut-manggut mendengarkan jawaban yang Husein berikan.


"Kak Husein," lirih Arum.


"Iya," jawab Husein singkat, menghentikan sejenak tangannya yang sedang mengambil nasi dan ikan.


"Sendoknya mana?" tanya Arum, sejak tadi Arum bingung menatap semua orang yang sedang makan. Mereka makan dengan tangan tanpa sendok sedangkan Arum yang hidup di luar negeri sudah terbiasa makan dengan sendok. Arum begitu bingung karena tak tahu cara makan dengan tangan.


"Kalau makan di tengah sawah gini, enaknya dengan tangan Arum. Jadi Mbak Hana gak pernah bawa sendok jika mengirim makanan ke sawah." Jelas Husein.


"Terus Aku harus makan dengan tangan Kak?" tanya Arum ragu.


"Iya," Husein kembali memberi jawaban singkat pada Arum membuat Arum harus bertanya kembali.


"Caranya bagaimana?" tanya Arum.

__ADS_1


"Kamu perhatikan caraku makan! setelah itu coba kamu praktekkan." Husein tak memberi teori tapi langsung menunjukkan caranya, menurut Husein memberitahu cara lewat tindakan itu lebih mudah dari pada harus menjelaskan lewat teori.


Arum memperhatikan cara Husein makan dan mulai mengikutinya meski awalnya terasa sulit dan belepotan tapi Arum tetap berusaha dan akhirnya Arum bisa makan dengan tangan dan mulai menikmatinya.


"Emm bener juga rasanya lebih enak jika makan dengan tangan." Gumam Arum.


Hari ini adalah hari yang memberi banyak pengalaman baru bagi Arum, menikmati indahnya sawah di pedesaan, membantu menanam padi dan makan bersama dengan tangan adalah pengalaman paling berharga bagi Arum.


"Terima Kasih untuk pengalaman berharga yang Kakak berikan hari ini," ucap Arum tersenyum manis ke arah Husein.


"Iya, sama-sama." Husein membalas senyuman Arum.


"Aku balik dulu ya Kak." Pamit Arum meninggalkan Husein, dan Husein hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi ucapan Arum.


Dengan langkah penuh semangat Arum melenggang pergi meninggalkan Husein menuju kamar, bersiap-siap untuk pergi ke kantor Hasan dan belajar bersama di sana.


"Assalamualaikum," ucap Arum masuk ke dalam rumah Umik setelah mempersiapkan segalanya.


"Waalaikum salam," sahut Hana.


"Mbak Hana, apa Umik ada?" tanya Arum.


"Ada Mbak silahkan masuk!" Hana membuka lebar pintu rumah mempersilahkan Arum masuk.


"Terima kasih sudah di kasih tahu Mbak." Ujar Arum, Hana hanya tersenyum menanggapi perkataan Arum.


Arum berjalan menuju ruang keluarga, terlihat Umik sedang mengaji dengan khusuknya.


"Assalamualaikum, Umik." ucap Arum.


"Waalaikum salam," jawab Umik menghentikan kegiatannya mengaji menoleh ke arah Arum.


"Duduklah, Nak!" titah Umik.


"Umik, Arum mau belajar sama Mas Hasan sesuai dengan jadwal yang sudah di sepakati," ucap Arum.


"Pak Marto sudah siap di halaman, Arum tinggal ke sana saja. Nanti Pak Marto yang akan mengantar." Jelas Umik.


"Baiklah Umik, Arum pamit dulu. Assalamualaikum," Pamit Arum mencium punggung tangan Umik.


"Waalaikum salam, hati-hati Nak." Pesan Umik.


"Iya, Umik," jawab Arum melenggang pergi keluar rumah menghampiri Pak Marto yang sedang memanasi mobil.

__ADS_1


"Pak Marto," panggil Arum.


"Neng Arum, silahkan masuk!" Pak Marto membukakan pintu untuk Arum.


"Pak Marto jangan panggil Neng panggil Arum aja." Protes Arum yang merasa tak nyaman dengan panggilan yang di berikan oleh Pak Marto.


"Kalau panggil Neng gak mau bagaimana kalau panggil Mbak Arum saja?" Pak Marto yang enggan memanggil nama Arum menambahi kata Mbak di depannya.


"Kalau itu boleh Pak, asal jangan Neng!" tutur Arum.


Pak Marto melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor Hasan yang letaknya lumayan jauh.


Arum menikmati pemandangan yang terlihat begitu indah, sawah yang membentang dan sesekali terlihat gunung yang terpampang di samping jalan.


Dari kejauhan terlihat sebuah pabrik yang begitu luas dengan satu gedung tertinggi di dalamnya. Pak Marto memperlambat laju mobilnya dan berbelok menuju pabrik yang Arum lihat.


"Pak apa ini pabriknya?" tanya Arum.


"Iya, Mbak Arum, ini pabrik yang di kelolah oleh Mas Hasan." Jawab Pak Marto memarkirkan mobil tepat di depan pintu masuk di sebuah gedung tertinggi di dalam pabrik.


"Pak Marto," panggil Arum yang tak langsung turun dari mobil.


"Kenapa Mbak?" tanya Pak Marto menoleh ke arah belakang.


"Pak, saya takut. Bisakah Pak Marto temani saya?" pinta Arum.


"Baik Mbak," Pak Marto turun dari mobil di susul Arum yang juga ikut turun berjalan sedikit cepat mendekat ke arah Pak Marto berdiri.


"Pak Hilman," panggil Pak Marto pada seorang satpam yang sedang berdiri di depan pintu.


"Iya Pak Marto, ada apa?" Satpam yang ber name tage Hilman berjalan mendekat ke arah Pak Marto.


"tolong parkirkan mobil ini," Pak Marto memarkirkan mobil dan mengambil kunci mobil dari tangan Pak Marto.


"Mari Mbak," ajak Pak Marto.


Arum mengangguk dengan senyum yang mengembang di bibirnya, berjalan mengikuti langkah Pak Marto.


"Permisi Mbak Sisi," ucap Pak Marto pada reseptionis yang sedang bertugas.


"Iya Pak Marto," sahut sang repestionis.


Banyak karyawan yang sudah mengenal Pak Marto karena sebelum Hasan memutuskan untuk membawa mobil sendiri Pak Martolah yang menjadi supirnya.

__ADS_1


__ADS_2