Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Ajakan Huda Sarapan Bersama


__ADS_3

Malam terus berganti begitu pula dengan hari yang selalu terlewati penuh dwngan kejadian yang tak bisa di duga, seperti saat ini Husein yang sudah siap untuk pergi ke rumah Zahra bersama Umik dan Abinya harus menundanya sebentar karena tadi dia sempat terkena genangan air sisa hujan semalam yang menggenang di depan halaman pesantren Umik.


"Husein lebih cepat sedikit, Nak! nanti keburu siang!" titah Umik yang kini sudah siap dengan baju sutra kesayngannya.


"Baik Umik," jawab Husein singkat sambil berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar.


Husein kembali berganti baju yang tadinya rapi dengan jas dan kemeja kini memakai baju lebih santai, Husein memakai celan jeans yang tak terlalu ketat di padukan dengan hem lengan panjang yng di lipat bagian pergelangan tangannya.


"Astaghfirullah, kamu pakai baju apa Nak?" tanya Umik yng melihat perbedaan penampilan Husein yang tadi dan sekarang.


"Ini baju anak muda Umik, Husein biasanya pakai baju ini saat kuliah," jawsb Husein santai.


Sebenarnya jas dan kemeja yang tadi di pakai oleh Husein merupakan pilihan Umik, dan Husein yang tak ingin membantah ataupun mendebat hanya bisa mematuhi keinginan Umik dan memakainya.


"Tapi kamu mau mencari hari baik untuk pernikahnmu, Nak, kenapa tidak memakai baju yang resmi saja?" tanya Umik yang kurang menyukai pilihan sang anak.


"Husein tahu Umik, percayalah baju ini sudh cukup sopan kok," jawab Husein dan Umik hanya bisa diam tanpa menjawab lagi ucapan Husein yang akan panjang jik di teruskan.


"Umik bukankah biasanya keluarga mempelai wanita akan datang ke rumah sebagai balasan dari kedatangan kita kemarin, dan membahas kapan hari baik untuk melangsungkan pernikahan?" tanya Husein yang mengerti adat dan kebiasaan di daerahnya.


"Itu biasanya, Nak, tapi ini bukan acara biasa melainkan acara yang luar biasa, sudah jangan banyak tanya! lebih baik kamu masuk mobil dan kita berangkat ke rumah Zahra." Titah Umik yang langsung di patuhi oleh Husein.


Perjalanan ke rumah Zahra kali ini terasa begitu lama, karena Husein yang sudah tak sabar bertemu dengan kekasih hatinya.


"Umik, silahkan masuk!" sambut Rina yang ternyata sudah duduk di teras menunggu kedatangan Husein dan kedua orang tuanya.


"Terima kasih," sahut Umik.


Seutas senyum tak pernah luntur dari bibir Husein sejak berangkat tadi, senyuman yang terlihat begitu indah menghiasi wajahnya yang semakin berseri-seri.


"Kami datang ke sini untuk membicarkan perihal hari baik pernikahan anak-anak kita," ucap Abi Ilzham yang kini duduk di sebelah Umik.

__ADS_1


"Apa kalian punya usulan kapan hari baik itu di laksanakan?" sambung Abi Ilzham.


"Kami ikut keputusan dari keluarga Nak Husein saja, kapan hari baik itu akan di laksanakan?" jawab Papa Zahra.


"Bagaimana kalau awal bulan depan?" usul Umik.


"Jika awal bulan depan dalah hari yang baik maka kami ikut saja Umik," jawab Mama Rina.


"Terus Kalian sekeluarga kapan datang ke rumah kami untuk kami kenalkan dengan saudara dan tetangga kami jika kalian calon besan dan calon istri putera kami." Umik kembali menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Pa, menurutmu kapan kita bisa pergi ke rumah Umik?" bukannya langsung menjawab Mama Rina malah menanyakan pertanyaan yang sama pada suaminya.


"Bagaimana kalau akhir pekan ini?" usul Papa Zahra.


"Boleh, kami akan persiapkan segalanya nanti." Jawab Umik.


Dan kesepakatan pun telah tercapai, Husein dan Zahra akan menikah di awal bulan depan dan keluarga Zahra akan datang akhir pekan ini untuk silaturrahmi.


Pagi yang cerah bagi setiap makhluk yang dapat menikmayi kehangatan mentari pagi ini, Huda yang telah bertekad untuk melupakan Arum dan memilih Desy sebagai penggantinya kini mulai melancarkan aksinya. Satu minggu terakhir yang akan dia gunakan untuk memberi kesan terbaik bagi Desy agar dia tak melupakan kehadirannya.


"Desy!" panggil Huda.


Saat ini Desy sedang menjemur baju di halaman belakang, usai sholat subuh tadi dia langsung beranjak pergi ke halaman belakang untuk menjemur baju sebelum berangkat ke sekolah.


"Mas Huda," sahut Desy sejenak menghentikan aktifitasnya menjemur baju.


"Tumben pagi-pagi sudah ada di sini," sambung Desy yang merasa aneh dengan kehadiran Huda di halaman belakang sepagi ini.


"Memang ada larangan pergi ke halaman belakang di pagi hari?" sahut Huda.


"Tidak ada Mas Huda, saya cuma merasa aneh saja lihat Mas Huda ada di sini sepagi ini," jawab Desy jujur.

__ADS_1


"Aku akan datang ke sini setiap pagi untuk melihat mentari yang menjadi penyemangat dalam hidupku." Jawaban Huda membuat Desy mengernyitkan dahi bingung, mentari apa yang di maksud oleh Huda? sedangkan saat ini hari masih sedikit gelap dan mentari belum muncul ke permukaan hanya sedikut cahaya yang terlihat.


"Mentari, maksudnya?" tanya Desy seraya memperhatikan sekeliling yang masih terlihat remang-remang.


"Mentari kehidupan yang menjadi cahaya dalam hatiku dan penyemangat dalam hidupku," jawaban Huda semakin terasa aneh dan membuat Desy semakin bingung.


"Mas Huda bicara saja pada intinya, jujur saya bingung dengan ucapan Mas Huda," ucap Desy jujur.


"Mentari yang ku maksud itu kamu Desy," jujur Huda sambil menatap lekat ke arah Desy yang msih terdiam mencerna ucapan Huda kemudian langsung menunduk menyembunyikan rasa malunya mendengar pengakuan Huda.


"Kamu semakin terlihat menggemaskan saat bersemu seperti itu, dan Aku harap hanya aku yang bisa melihatnya," sambung Huda membuat Deay semakin merasa malu.


"Kamu sudah sarapan Desy?" tanya Huda.


"Belum Mas Huda, ini masih terlalu pagi untuk sarapan.


"Bagaimana kalau kita sarapan bareng?" tawar Huda yang membuat Desy terkejut.


"Sarapan bareng bagaimana Mas Huda? bukankah Mas Huda sarapannya bareng Umik dan keluarga?" tanya Desy yang tahu dengan pasti jika Desy memang sarapan bersama keluarga besar Umik.


"Mulai hari ini kita akan sarapan bersama di sini. Dan kamu harus datang lagi ke sini tepat pukul enam pagi sebelum berangkat ke sekolah!" Huda memberi perintah pada Desy yang masih bingung melihat perubahan sikap Huda pagi ini.


"Mas Huda serius dengan ucapan Mas?" tanya Desy yang sedikit sangsi dengan perintah yang di katakan oleh Huda.


"Sejak kapan aku pernah berbohong padamu Desy? aku serius apa kamu mau atau menolaknya?" Huda kembali bertanya.


"Bagaimana dengan Umik dan peraturan pesantren Mas Huda? apa aku boleh datang dan sarapan bersama Mas Huda di sini?" tanya Desy yang takut melanggar peraturan dan mendapat teguran dari Umik.


"Kalau itu yang kamu takutkan, jangan khawatir karena aku akan mengurusnya untukmu." Jawb Huda dengan senyum yang terlihat begitu menawan di wajahnya yang sudah tampan.


"Bagaimana? apa kamu bersedia sarapan bersamaku sebelum aku berangkat ke Australia?" Huda kembali menanyakan kesediaan Desy atas ajakannya.

__ADS_1


__ADS_2