
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju mension yang di maksud Sang Nenek,
"Nenek habis dari mana? kok berjalan sendirian." Tanya Arum.
"Nenek dari rumah Nak, mau ke rumah Anakku nengokin cucu." Jelas Sang Nenek.
"Kenapa gak nyuruh Anak atau cucu Nenek saja yang jemput?" tanya Arum, yang kini menoleh ke arah Nenek.
"Nenek tidak mau merepotkan mereka, tapi Nenek malah ngerepotin kamu Nak, maafin Nenek ya." Ujar Nenek penuh rasa penyesalan.
"Nenek tak perlu bicara seperti itu, saya ikhlas dan senang kok nganterin Nenek." Arum yang memang tulus dan tak merasa keberatanpun tersenyum dan menjelaskan pada Nenek jika dirinya tak merasa di repotkan.
"Kamu sangat baik Nak, semoga Allah memberimu kebahagiaan dunia dan akhirat," Nenek mengusap lembut rambut Arum yang telah di kuncir kuda.
"Amin Nek," jawab Arum.
"Non apa ini rumah yang tadi Nona maksud?" tanya Pak Marto yang menghentikan mobil tepat di sebuah rumah, bukan rumah tapi lebih tepatnya mension.
"Nek, apa bener ini rumahnya?" tanya Arum.
"Iya Nak, benar ini rumahnya." Jawab Sang Nenek.
"Masuk saja Nak! Nenek akan bicara pada penjaganya." Titah Sang Nenek.
Pak Marto menjalankan mobil masuk ke dalam rumah yang sebenarnya lebih pantas di sebut mension. Hingga seorang penjaga menghentikan mobil dan mendekati kami.
"Permisi Pak, mau cari siapa?" tanya sang penjaga yang bername tag Imam.
"Imam, mereka bersamaku." Ujar Nenek menurunkan kaca mobil dan berucap.
"Oma Lastri." Sang penjaga langsung menundukkan kepala hormat dan berjalan berbalik menuju gerbang kemudian membukanya lebar.
Mobil terus melaju sampai depan teras jarak antara gerbang dan teras cukup jauh karena ada taman dan kolam renang yang berada tepat di depan mension.
"Ayo turun!" Ajak Nenek yang ternyata bernama Lastri tersebut.
"Maaf Nek, bukannya menolak tapi Arum harus segera sampai rumah." Arum berusaha menolak ajakan Nek Lastri dengan nada dan ucapan selembut mungkin.
"Masuk dulu Nak, Nenek akan sangat senang jika kamu bersedia mampir di gubuk Nenek ini." Nek Lastri mengatakan mension mewah ini gubuk, apa Arum gak salah dengar atau memang Nenek Lastri yang terlalu kaya, Arum tak bisa berbuat apapun selain menuruti ajakan Nenek.
__ADS_1
Nek Lastri berjalan lebih dulu dengan Arum dan Pak Marto yang mengekor di belakangnya.
Ceklek ....
Pintu rumah terbuka nampaklah seorang wanita paruh baya dengan dandanan modis khas Ibu sosialita, beberapa perhiasan yang terlihat bertaburan berlian dan mutiara bertengger indah di beberapa bagian tubuh sang Ibu.
"Oma, kenapa tidak mengabari dulu kalau mau ke sini?" ucap Sang Ibu berjalan mendekat dan mencium punggung tangan Nenek Lastri.
"Aku tak mau merepotkanmu, Nina." Sang Nenek malah berbalik melihat ke arah Arum.
"Arum, sini Nak!" titah Nek Lastri.
"Iya, Nek," sahut Arum berjalan mendekat ke arah Nenek Lastri.
"Dia siapa Bu?" tanya Ibu sosialita yang Arum tahu bernama Nina.
"Dia anak yang menolong Ibu," jawab sang Nenek.
Nenek Lastri membuka kacamata hitam yang sejak tadi di pakainya, kemudian tersenyum simpul menatapku.
'Apa? jadi Nenek Lastri tidak buta. Dia hanya memakai kacamata hitam dan berlagak seperti orang buta' batin Arum
"Kamu pasti mengira Nenek buta?" tebak Nenek Lastri.
"Maaf Nek," ucap Arum penuh dengan nada penyesalan.
"Tidak perlu meminta maaf, mata Nenek memang sudah tak normal. Rasanya sedikit sakit ketika terkena sinar matahari makanya Nenek pakai kacamata hitam. Dan fisik Nenek yang memang lemah semakin terlihat seperti orang buta." Jelas Nenek pada Arum.
Arum hanya tersenyum, Nina mengajak kami masuk ke dalam rumah dan mengajak kami makan siang mengingat saat ini sudah waktunya makan siang.
"Makanlah dulu! dan terima kasih sudah mengantar Ibu saya." Ibu Nina tersenyum ramah ke arah Arum.
"Sama-sama eh~" ucapan Arum menggantung, dia bingung harus memanggil Ibu sosialita di hadapannya itu dengan sebutan apa.
"Panggil saja Aku Tante, Tante Nina." Ibu sosialita itu tersenyum seraya mempersilahkan Arum makan.
"Tante, maaf sebelumnya. Apa saya boleh mengajak sopir saya ikut makan di sini bersama kita?" Ragu-ragu Arum bertanya.
Arum yang sejak kecil memang dididik mandiri dan rendah hati, tak pernah sedikitpun membedakan status. Bagi Arum semua orang sama kecuali di mata Allah sang maha pencipta.
__ADS_1
"Boleh Nak, silahkan!" sahut Nenek Lastri dan Tante Nina hanya tersenyum dan mengangguk menanggapinya.
"Syukurlah, Pak Marto sini!" Arum menoleh ke arah Pak Marto yang berdiri berada tak jauh dari tempat Arum makan.
"Tidak usah Non, Bapak di sini saja." Pak Marto terlihat begitu sungkan dan menolak ajakan Arum.
"Pak ayolah! kita makan bersama Pak Marto juga belum makan, Kan?" Arum masih berusaha mengajak Pak Marto untuk makan bersamanya.
"Pak ayo sini kita makan bersama!" Tante Nina yang sejak tadi diam kini membuka suara.
Setelah Tante Nina meminta Pak Marto berjalan dan ikut makan bersama, di tengah-tengah acara makan yang penuh ke kenikmatan.
"Siang semua," suara berat seorang laki-laki mengejutkan acara makan mereka.
"David," panggil Tante Nina yang membuat mereka semua menoleh ke sumber suara termasuk Aku.
"Wah lagi ada tamu Bunda?" tanya David berjalan mendekat menyalami dan mencium punggung tangan Bunda dan Omanya.
"Kamu dasar anak nakal!" Tante Nina memukul pelan dada David.
"Biar surprise Bunda." Jawab David enteng melepas pelukannya dan beralih memeluk Nenek Lasti, sedang Arum dan Pak Marto hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun.
"Bunda mereka siapa?" David kembali bertanya kali ini pertanyaan David di sertai dengan jari telunjuk yang menunjuk ke arah Arum dan Pak Marto.
"Ohh, mereka orang yang membantu mengantar Oma Dav." Jelas Tante Nina.
"Loh memangnya Oma dari mana Bunda?" tanya David yang kini menatap bingung ke arah Nenek Lastri tapi melempar pertanyaan ke Bundanya.
"Oma habis dari rumah lama, katanya rindu sama Opa." Tante Nina kembali menjelaskan situasinya.
"Ya Allah Nek, lain kali hati-hati." David mencium pipi Neneknya.
"Khem," Arum yang merasa jadi obat nyamukpun berdehem menyadarkan mereka agar melihat ke arahnya.
"Maaf Nak, jadi lupa kalau masih ada tamu. Mari silahkan kita lanjutkan makannya." Nenek Lastri berucap dan di turuti oleh semua yang ada di ruang makan.
Akhirnya kami semua makan dengan tenang hanya dentuman sendok yang terdengar menggema di ruang makan. Setelah makan selesai Arum berpamitan pulang tapi langkahnya terhenti oleh suara berat David.
"Tunggu!" cegah David saat melihat Arum keluar dari rumah.
__ADS_1