
"Bole Kak," jawab Arum.
Keduanya berjalan beriringan menuju tempat penjemputan dimana keluarga Hasan biasa menjemput, terlihat Syafa dan sang suami sedang duduk di sebuah tempat makan yang tersedia di sana bersama Abi dan Umik.
"Assalamualaikum Tante," sapa Hasan sembari meraih dan mencium punggung tangan Syafa.
"Kak, kalau ketemu si kembar gini berasa tua Aku," celetuk Syafa dengan senyum yang mengembang.
"Bukannya kamu emang udah tua Dek," sahut Ilzham yang sedikit ilfill dengan ucapan Syafa.
"Kakak tahu kan kalau Aku generasi yang menolak tua, dan perlu ku ingatkan jika umur itu hanya sebatas angka tapi jiwaku akan tetap muda," Syafa selalu mengatakan kalimat yang sama setiap kali bertemu dengan Uqi dan Ilzham.
"Aku bosan dengar kalimatmu Dek," sarkas Ilzham yang di tanggapi dengan kekehan oleh anggota keluarga yang lain.
"Tunggu, tungu! Aku kayak pernah lihat gadis di samping Hasan," ujar Syafa yang baru menyadari kehadiran Arum, padahal sejak tadi Arum sudah berdiri tepat di samping Hasan dan ikut menyalami tangannya.
"Coba tebak siapa dia!" titah Uqi.
"Arum, sini Nak duduk sama Umik!" sambungnya.
"Emmm," Syafa terus mencari jawaban di dalam otaknya mencoba mengingat siapa yang saat ini ada di samping Hasan sang keponakan.
"Kak Rifki!" satu kata yang sedikit menyinggung Ilzham, sungguh Kakak laki-laki Syafa ini sangat sensitif saat membahas tentang Rifki.
"Itu nama Papa Saya," sahut Arum.
"Khem," deheman Ilzham sudah mewakili segalanya dan keluarga Ilzham begitu mengerti arti dari deheman yang keluar dari mulut Ilzham.
"Waahh kamu makin cantik ya Arum," puji Syafa sambil menunjukkan deretan giginya yang begitu putih.
"Dia calon mantuku Dek," cicit Umik.
"Whatt??? Kakak jadi ngewujud'in rencana perjodohan yang kakak buat dengan Kak Fia?" Syafa yang begitu mengerti jika Ilzham masih saja suka cemburu saat Uqi sang Kakak Ipar bertemu dengan Mantan pacarnya yang kini akan menjadi calon besannya itu.
Umik hanya mengangguk sebagai jawaban, tapi ekspresi berbeda di tunjukkan oleh Ilzham. Wajahnya terlihat masam seperti mangga muda.
__ADS_1
"Mommy!!" teriak Aly yang begitu kegirangan setelah mendapat satu cup ice cream di tangannya.
"Arum, ini untukmu!" Husein memberikan satu cup ice cream rasa cokelat ke arah Arum, Ice cream rasa cokelat memang ice cream kesukaan Arum sejak kecil dan Husein masih sangat jelas mengingatnya.
"Wah makasih Kakak," ujar Arum yang senang mendapat ice cream kesukaannya gratis pula.
Semua anggota keluarga tak begitu menghiraukan perlakuan Husein kepada Arum, tapi hal itu sangat berbeda dengan Hasan yang mulai merasakan hawa panas dalam dirinya.
"Umik, lebih baik kita segera berangkat ke rumah Ummah sebelum kesorean." Beo Hasan dengan nada dingin yang mulai memancar di setiap ruangan membuat siapapun yang merasakannya jadi takut.
"Iya kamu benar Nak, Abi, Syafa ayo berangkat!" ajak Umik berdiri memberi isyarat agar segera pergi.
Sepanjang perjalanan Hasan lebih banyak diam, tak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya, hawa panas yang sejak tadi muncul masih menguasai diri Hasan meski sekuat tenaga hasan mencoba menahan dan menghilangkannya.
"Masya Allah, anak dan cucu Ummah sudah datang." Sambut Ummah yang terlihat menyiram bunga.
"Ummah," Syafa yang memang telah menahan rasa rindunya tak bisa lagi menahan diri.
"Syafa, kapan kamu kembali Nak?" tanya Ummah sembari mengelus pucuk kepala Syafa yang masih tertutup kerudung.
"Syafa baru aja sampai langsung ke sini Ummah." Jawsb Syafa.
"Itu lagi di gendong sama Husein." Syafa menunjuk ke arah Husein dan keluarga yang lain, mereka baru saja keluar dari dalam mobil.
Syafa tadi turun lebih dulu saat mobil masih mencari tempat parkir yang tepat.
"Aly! sini Sayang!" panggil Ummah.
"Enggak Aly mau sama Om Husein," tolak Aly yang semakin mempererat pegangan tangannya ke leher Husein.
"Kok Om? harusnya panggil Kakak Aly." Protes Ummah yang merasa panggilan Aly salah.
"Aly suka panggil Om, panggilan Kakak itu untuk Aly," sahut Aly.
Saat ini Syafa memang sedang mengandung dua bulan dan dia selalu memberi pengertian pada Aly jika dirinya akan menjadi seorang Kakak jadi Aly merubah panggilannya pada Husein, dulu dia memanggil Husein Kakak tapi ketika dia tahu jika dirinya akan menjadi seorang kakak Aly mengubah panggilannya menjadi Om. Dan Syafa yang memang ingin Aly mengerti hanya bisa menuruti tanpa bisa menolaknya.
__ADS_1
"Baiklah terserah Aly, tapi Ummah kangen sama Aly. Sini gendong Ummah!" ajak Ummah yang memang sudah dua bulan ini tak menggendong sang cucu, rasa rindunya begitu menumpuk di dadanya.
"Ndak mau, Aly maunya sama Om Husein." Aly kembali menolak ajakan Ummah.
"Aly, gak boleh bersikap seperti itu sama Ummah," Syafa yang merasa kasihan melihat Ummah yang terus-terusan mendapat penolakan dari Aly akhirnya mengingatkan sang anak.
"Ummah bawel Mom, Aly capek dengernya." Sahut Aly.
"Sudahlah jangan di paksa! nanti kalau capeknya hilang dia bakal mau kok." Ujar Buya yang terlihat keluar dari rumah, sepertinya Buya baru saja selesai sholat.
Acara temu kangen antara Syafa dan sang Ummah juga Buya sudah selesai, kini semua keluarga duduk di ruang keluarga kecuali Aly, Husein dan Desy yang saat ini sedang berjalan-jalan di kebun teh milik keluarga Ilzham.
"Om, sini!" panggil Aly saat melihat Husein sedang serius menerima telfon.
Sikap Husein membuat Aly sedikit jengkel karena sejak tadi Husein sibuk menelfon.
"Om, sini!!" kini suara Aly terdengar jauh lebih keras.
"Iya, iya Om ke sana." Husein yang sangat mengerti sifat asli Aly langsung berjalan mendekat ke arah Aly sebelum dia nangis meraung-raung.
"Ada apa Aly?" tanya Husein.
"Ambilkan apel itu!" pinta Aly sambil menunjuk ke arah pohon apel yang sedang berbuah dengan lebatnya.
Husein yang memang tak bisa menolak permintaan Aly langsung naik ke atas pohon mengambil apel yang di inginkan Aly, untung saja tadi Husein memakai celana jeans panjang jadi dia bisa naik ke atas pohon dengan leluasa.
"Desy!" panggil Husein.
"Iya Mas Husein," sahut Desy.
"Tangkap!" titah Husein melempar satu Apel ke arah Desy.
Dengan langkah tergopoh-gopoh Desy mencoba menangkap Apel yang di lempar oleh Husein.
"Wahh Mbak Desy hebat!!" sorak Aly saat melihat Desy berhasil menangkap Apel yang di lempar oleh Husein.
__ADS_1
Ketiganya begitu asyik memakan beberapa buah apel yang sudah di petik, duduk di bawah pohon menatap indahnya pemandangan kebun teh yang terbentang di hadapan mereka.
"Mas Husein ya?" sebuah suara mengalihkan pandangan ketiganya yang sedang asyik menikmati buah Apel.