Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Syei'


__ADS_3

Siang telah berganti malam, cahaya mentari kini telah berganti dengan rembulan yang di temani bintang, hari paling bersejarah bagi Arum telah berlalu berganti malam yang penuh dengan kebingungan.


"Abi!" panggil Arum yang baru saja melihat Hasan masuk ke dalam kamar.


"Iya, Syei'," sahut Hasan yang membuat Arum merasa bingung dengan sebutan Syei' yang di ucapkan oleh Hasan.


"Syei', maksudnya apa Bi?" tanya Arum.


"Syei' itu di ambil dari kata Saiun yang artinya sewiji-wijine dalam bahasa jawa dan dalam bahasa indonesia artinya satu-satunya," Hasan yang mengerti jika Arum masih sangat awwam dalam ilmu agama menjelaskan Syei' yang dia maksud.


"Oh," satu kata terlontar dari bibir Arum yang kini telah mengerti apa maksud dari panggilan yang di sematkan oleh Hasan.


"Ada apa?" kini giliran Hasan yang bertanya.


"Tadi Kak Steve ngasih hadiah buat kita, ini untukmu." Arum memberikan satu kado yang dia pegang ke arah Hasan.


"Hadiah, wah Kakakmu baik sekali," celetuk Hasan.


"Katanya hadiah itu sebagai simbol kalau dia udah ngerestuin Abi buat jadi suami Arum," imbuh Arum.


"Alhamdulillah jika Kakakmu merestui, sekarang tinggal kamu yang berusaha membuka hati," ucapan Hasan sukses membuat Arum terdiam padahal Hasan mengatakannya dengan nada dan ekspresi biasa saja.


"Maaf," cicit Arum yang merasa tak enak hati karena masih belum bisa membuka hatinya untuk Hasan.


"Tenang saja, Aku tidak akan memaksamu. Biarkan semuanya mengalir apa adanya, Aku percaya suatu saat kamu pasti bisa menerimaku." Hasan mengatakannya dengan nada begitu lembut membuat Arum terhipnotis sampai dia tak menyadari jika Hasan berucap sambil mengusap kepala Arum yang masih tertutup kerudung.

__ADS_1


"Te~terima kasih," sahut Arum gugup karena saat ini dia baru menyadari jika tangan Hasan masih bertengger indah di bahunya, Arum yang baru sadar reflek langsung menghindar membuat Hasan terpaksa menjauhkan tangannya.


"Maaf," sekali lagi kata maaf itu keluar dari mulut Arum yang bingung harus berkata apa lagi, dia yang menghindar bukan karena memang ingin menghindar tapi karena gerakan spontan yang tubuhnya berikan saat di sentuh oleh orang yang masih asing baginya.


"Sudahlah, jangan minta maaf terus! lebih baik sekarang kita buka hadiah yang di berikan oleh Kak Steve." Hasan yang tak ingin membuat Arum merasa tertekan akhirnya berinisiatif untuk mengajak Arum membuka kado dari pada harus berada di suasana yang tegang.


************


Selepas dari acara ijab Huda kembali ke pesantren dengan perasaan yang campur aduk, antara bahagia karena Arum sudah menikah dengan laki-laki yang tepat, tapi di sisi lain Huda juga merasa kecewa karena selama ini dia telah menjaga jodoh orang lain.


"Huft, takdir itu emang sulit untuk di tebak, sekalipun sudah menjadi kekasih belum tentu akan menjadi istri, pacaran sama siapa nikahnya sama siapa?" keluh Hasan yang merasa lucu karena selama ini ternyata dia menjaga jodoh sepupunya.


Huda yang sedang kalut memikirkan semua yang pernah terjadi melihat Desy yang sedang menjemur baju di halaman belakang rumah yang khusus di pergunakan untuk menjemur baju, sedangkan Huda sedang diam melamun di kursi panjang yang ada di sana dengan secangkir kopi yang di letakkan di samping tempatnya duduk.


"Mas Huda," respon Desy yang langsung menghentikan menjemur baju dan beralih melihat ke arah Huda.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Huda tanpa mengubah posisinya.


"Mas Huda sudah lihat Kan, Akun lagi jemur baju." jawab Desy yang merasa aneh dengan pertanyaan Huda, lagi pula biasanya Huda tak menyapanya justru Desy yang biasa menyapa Huda lebih dulu.


"Aku tahu kamu lagi jemur baju. Nama kamu Desy Kan?" Huda yang lupa-lupa ingat dengan nama gadis yang ada di hadapannya mencoba memastikan jika nama dia memang Desy seperti dugaannya.


"Benar, memangnya ada apa?" Desy semakin bingung mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Huda.


"Gak ada apa-apa, cuma lagi pengen ngobrol aja," ucapan Huda saat ini sungguh membuat Desy semakin merasa aneh juga bingung.

__ADS_1


"Memangnya Mas Huda mau ngobrol soal apa?" tanya Desy dengan ekspresi wajah yang di buat biasa saja meski sebenarnya ada berjuta pertanyaan yang berdiam di hati Desy.


"Jika kekasihmu pergi menikah dengan saudaramu sendiri apa yang akan kamu lakukan?" Huda yang merasa membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan memberinya saran memilih untuk bercerita ke Desy, seorang gadis yang baru dia kenal tapi setiap ucapannya mengandung kebijaksanaan.


"Saudara? apa Mas Huda mengalaminya?" Desy yang mendengar pertanyaan Huda kini merasa penasaran jiwa kepo yang selama ini bersembunyi tiba-tiba keluar mendominasi dirinya.


"Jawab saja! Aku hanya ingin tahu jawabanmu," Huda memang ingin bercerita dengan Desy tapi tidak menceritakan semua yang terjadi secara detail.


"Kalau Aku akan pasrah dan memohon pada sang pencipta cinta yang saat itu tumbuh agar aku bisa ikhlas dan melupakan kekasih yang ternyata bukan takdirku, dan Aku akan memohon supaya di berikan pengganti yang memang tepat dan terbaik untukku." Jawaban yang membuat Huda tersenyum miris, karena berbicara itu lebih muda dati pada melakukannya sendiri.


Desy yang melihat senyum miris di bibir Huda kembali berucap, "Mungkin Mas Huda berfikir berbicara itu lebih mudah dari pada melakukannya sendiri," tebak Desy.


"Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu?" Huda semakin tertarik untuk terus berbicara dengan Desy.


"Mas Huda harus bisa memahami setiap kata yang Aku ucapkan, Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, ingatlah Mas Huda jika apa yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita tapi apa yang kita butuhkan memang harus kita dapatkan! jadi jika apa yang kuta inginkan tidak kita dapatkan maka kita harus bersabar karena apa yang hilang pasti akan di ganti dengan sesuatu yang kita butuhkan dan yang pasti lebih baik untuk kita," Desy benar-benar terdengar bijak membuat Huda terdiam mematung mendengar apa yang di ucapkan oleh Desy.


"Mas Huda?" Desy mencoba menyadarkan Huda yang terdiam mematung menatapnya.


"Mas Huda!!" suara Desy kini naik satu oktaf membuat Huda langsung terkejut dari lamunannya.


"Astaghfirullah, kenapa harus teriak-teriak sih?" keluh Huda yang merasa terkejut dengan suara keras Desy.


"Maaf Mas, saya tadi khilaf. Habis Mas Huda diam mulu gak ngerespon ucapanku, kalau sampai kesambet Aku juga yang repot," imbuh Desy.


"Sudahlah, lanjutkan aja jemur bajunya!" Huda yang merasa sedikit malu karena kepergok sedang melamun akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan Desy yang kembali melanjutkan menjemur baju setelah Huda benar-benar pergi menghilang di balik pintu.

__ADS_1


__ADS_2