Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Menemui Calon menantu


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan pintu mengusik Arum yang sedang terlelap dalam dunia mimpi setelah menghabiskan satu porsi nasi padang yang di berikan oleh Desy.


Arum menggeliat pelan merasa terusik dengan suara ketukan pintu yang semakin kencang memekakan telinga.


"Iya sebentar," sahut Arum dengan nada malas.


"Abi, minggir dulu!" Pinta Arum sembari menyingkirkan tangan Hasan yang masih melingkar indah di perutnya.


"Emm lima menit lagi Syei'," gumam Hasan semakin mempererat pelukannya.


"Bi, ada yang ngetuk pintu," Arum mencoba memberitahu Hasan yang masih saja terlelap di sampingnya.


"Isshh siapa sih ganggu orang tidur aja?" geram Hasan yang langsung berdiri dengan mata tertutup berjalan menuju pintu.


Arum hanya bisa tersenyum lucu sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Hasan yang saat ini justru terlihat seperti seorang bocah kecil yang terusik saat bermain.


"Siapa sih siang-siang ribut gangguin kamar or~" suara Hasan menggantung di udara setelah melihat siapa yang sejak tadi mengetuk pintu kamar dengan keras dan berkali-kali.


"Apa? mau marah, hm?" Umik yang sejak tadi berdiri di depan pintu mengetuk pintu berkali kali sambil memanggil kedua insan yang sedang berkelana di dunia mimpi kini tengah menajamkan mata menatap lekat sang putera yang terlihat sedang emosi hendak memarahinya.


"Udah tahu hari ini hari resepsimu, masih aja molor, makanya kalau malem itu tidur jangan olahraga mulu, acara belom selesai udah drop dulu kamu," Umik mulai mengomel melihat tingkah menjengkelkan Hasan.


Bagaimana tidak jengkel jika semua orang sedang sibuk menyiapkan acara resepsi Hasan dan Arum justru terlelap dalam dunia mimpi.


"Maaf Umik, Hasan tadi ketiduran," meminta maaf adalah hal terbaik yang bisa di lakukan oleh Hasan dari pada harus berdebat atau melawan sang Umik yang pada akhirnya dia akan tetap kalah. Meski sebenarnya dia tidak salah tetap saja Umik akan menang.


"Sudahlah, Arum mana?" tanya Umik yang langsung menerobos masuk ke dalam kamar dan menyingkirkan lengan Hasan yang menghalangi jalannya.


"Mungkin dia masih di kamar mandi Umik," jawab Hasan berjalan menghampiri Umik yang kini duduk di sampingnya.


"Kamu pergilah ke mushollah rumahmu, sholat saja di sana, biar Umik yang temani Arum berias." Tutah Umik.


"Baik, Umik," jawab Hasan yang langsung menuruti ucapan Umik tanpa mendebatnya lagi.


Bagi Hasan melawan Umiknya bukanlah pilihan yang baik, karena selain takut durhaka apa yang di katakan Umik selalu benar dan maduk akal.


"Umik," lirih Arum sesaat setelah keluar dari kamar mandi, Arum melihat Umik sedang duduk di kasur.

__ADS_1


"Kamu sudah sholat, Nak?" tanya Umik.


"Belum Umik, ini masih mau ganti baju dulu terus sholat." Jawab Arum.


"Sholatlah dulu! biar Umik panggilkan MUA yang sejak tadi menunggu kalian di ruang keluarga," Pamit Umik seraya pergi meninggalkan kamar Arum.


"Iya, Umik," sahut Arum dengan ekspresi wajah canggungnya.


********


"Kamu mau ke mana Sayang?" tanya Arif yang melihat sang istri hendak pergi dari kamar.


"Aku mau lihat calon mantu kita Yah." Jawab Imah tanpa menghentikan langkahnya.


"Mantu siapa maksudmu?" Arif yang mendengar jawaban Imah langsung bangun dan berdiri menghampiri Imah yang masih di depan pintu.


"Astaghfirullah aku lupa gak bilang sama Kamu," ucap Imah.


"Coba ceritakan siapa calon menantu yang kamu maksud tadi!" desak Arif agar Imah mau bercerita.


"Anak kita sedang suka pada seorang santri yang ada di sini," Imah menceritakan tentang Huda yang sedang menyukai seorang gadis di pesantren Uqi.


"Aku tadi memperhatikan sikapnya saat ada seorang santri yang mengantar makanan untuk kita. Tatapan Huda pada gadis itu sangat berbeda dan aku sangat tahu jika anak kita itu sedang jatuh cinta padanya," Imah menjelaskan dari mana dia tahu jika Puteranya menyukai seorang gadis di pesantren.


"Apa kamu yakin dia emang menyukai gadis itu? apa kamu gak salah tafsiran?" tanya Arif yang menyangsikan kebenaran dari apa yang di katakan istrinya.


"Ayah, aku ini Ibunya dan aku orang yang melahirkannya jadi aku tahu dengan pasti bagaimana tatapan anakku pada seorang gadis," tegas Imah.


"Aku tahu Sayang, temui saja dulu calon mantu kita nanti jika aku sudah tidak lelah kamu bisa menunjukkannya padaku." Arif yang saat ini memang merasa begitu lelah kembali merebahkan diri di atas kasur empuk yang terlihat menggiurkan untuk di tempati.


"Apa Ayah tidak mau ikut?" tanya Imah.


"Tidak, nanti juga bakal ketemu," jawab Arif sambil tidur kembali ke posisi semula.


"Yasudah, aku pergi dulu." Pamit Imah melenggang pergi meninggalkan Arif yang sedang menikmati rebahannya.


Imah melangkah pergi menuju dapur di mana biasanya seorang santri membantu Adiknya. Dari kejauhan terlihat Desy sedang mencuci tumpukan piring yang ada di tempat cucian piring.


"Mbak!" panggil Imah seraya menepuk punggung Desy yang sedang fokus mencuci piring.

__ADS_1


"Eh Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Desy dengan sopan dan senyum yang terlihat begitu manis.


"Nama kamu siapa?" tanya Imah.


"Namaku Desy, em~" raut wajah bingung terlihat jelas di wajah Desy.


Saat ini dia sedang bingung harus memanggil apa pada seorang wanita paruh baya yang memanggilnya.


"Kamu bisa panggil Aku Ibu," ujar Imah yang mengerti jika gadis di hadapannya itu sedang bingung.


"Iya, Ibu," jawab Imah dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Kamu sudah lama jadi santri di sini?" tanya Imah.


"Alhamdulillah saya sudah tiga tahun jadi santri di sini," jawab Desy.


"Cukup lama juga ya, kamu masih sekolah atau sudah lulus?" Imah kembali bertanya.


"Saya kelas tiga SMA Bu," jawab Desy.


"Emm, kamu sering ya bantuin Umik di sini?" Imah terus saja bertanya karena rasa penasarannya masih belum terpuaskan.


"Alhamdulillah sering Bu, saya memang suka membantu di sini saat libur atau pulang sekolah." Jawab Desy.


'Kenapa Ibunya Mas Huda tanya terus sih? apa ada yang salah denganku?' batin Desy.


"Ibu!" suara Huda terdengar begitu mengejutkan Imah dan Desy yang sedang asyik berbincang.


"Huda, kamu ngapain ke sini?" tanya Imah yang merasa aneh dengan kehadiran Huda secara tiba-tiba.


"Harusnya aku yang tanya ke Ibu, ngapain Ibu di sini?" bukannya menjawab pertanyaan sang Ibu, Huda malah balik bertanya padanya.


"Aku hanya ingin main ke dapur saja, memangnya tidak boleh," jawab Imah singkat dan seenaknya.


"Main kok ke dapur, main itu ke pantai Bu," jawab Huda santai.


"Panas Ibu malas main ke sana." Lagi-lagi Imah menjawab pertanyaan Huda seenaknya.


"Kamu ngapain di dapur? mau masak?" Imah yang belum mendapat jawaban dari Huda kembali bertanya.

__ADS_1


"Mau minum." Jawab Huda sembari berjalan menuju tempat minum dan pergi meninggalkan dapur sebelum sang Ibu semakin banyak bertanya.


__ADS_2