Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kunjungan Orang Tua Desy


__ADS_3

Genap seminggu kepergian Huda membuat Desy mulai merindukan sosok yang dulu selalu menemaninya setiap makan di pagi dan sore hari. Hari ini adalah hari jum'at di mana semua kegiatan di pesantren di liburkan.


"Mbak Desy, di panggil Umik!" seorang santriwati menepuk pundak Desy yang sedang berjalan kembali ke kamar setelah mandi.


"Umik di mana Mbak?" sahut Desy.


"Mbak Desy di tungguin di dapur ndalem," tutur sang santriwati.


"Baiklah, terima kasih Mbak," ujar Desy melenggang pergi menuju kamar dan bersiap untuk pergi ke dapur di mana Umik sedang menunggu.


"Assalamualaikum, Umik," ucap Desy sesaat setelah sampai di depan pintu dapur.


"Desy, masuk sini, Nak!" titah Umik saat melihat Desy berdiri si depan pintu.


"Umik manggil saya?" tanya Desy.


"Iya, Umik perlu bantuanmu menyiapkan makanan untuk para pekerja di sawah, dan Umik juga minta tolong nanti anterin ke sana sama Mbak Hana." Umik mengatakan tujuannya memanggil Desy ke dapur.


Desy yang sudah terbiasa membantu Umik langsung membantu Umik memasak di dapur, hingga beberapa menu masakan selesai di masak.


"Mbak Hana!" panggil Umik.


"Iya, Umik," sahut Hana berjalan mendekat ke arah Umik yang sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya membungkus makanan sedangkan Desy membantu memasukkan makanan yang sudah di bungkus ke dalam kantong plastik.


"Tolong temani Desy mengantarkan makanan ini untuk para pekerja di sawah. Setelah itu kamu dan Desy bisa kembali lagi ke sini." Umik memberi instruksi pada Hana.


"Baik, Umik," jawab Hana.


"Ayo Mbak Desy!" sambungnya mengambil alih satu kantong plastik berukuran cukup besar untuk di bawa dan satu kantong lagi di bawa sendiri oleh Desy.

__ADS_1


Desy yang mendapat ajakan Hana langsung berjalan mengikuti langkahnya menuju sawah milik pesantren. Sepanjang perjalanan menuju sawah terlihat begitu indah


Perjalanan menuju sawah terasa begitu menyenangkan, pemandangan indah yang terpampang nyata di depan mata begitu memanjakan panca indra, di tambah suara gemericik air dari sungai yang biasa di lewati Desy saat membuang sampah membuat suasana semakin indah. Tapi keindahan yang tersaji kembali mengingatkan Desy pada sosok Huda yang dulu pernah dia temui di sisi sungai, sawah yang akan dia datangi melewati tempat pembuangan sampah di mana dulu Desy pernah bertemu dan berbincang dengan Huda yang kini telah pergi entah kapan akan kembali.


"Desy!" tegur Hana yang melihat Desy tak lagi berjalan mengikutinya, dia hanya terdiam mematung menatap batu besar yang berada di tepi sungai.


"Hey, Desy!" kali ini suara Hana naik satu oktaf mencoba menyadarkan Desy yang terlihat sedang melamun.


"Eh, i~iya Mbak Hana, ada apa?" sahut Desy gagap karena sejak tadi dia asyik mengenang setiap kata dan kejadian yang pernah dia lalui bersama Huda di batu besar itu.


"Ayo jalan! malah melamun," Hana kembali menegur Desy agar dia tak lagi melmun, pasalnya melamun di daerah pesantren bukanlah hal yang baik.


"Siapa juga yang melamun sih Mbak," elak Desy.


"Sudah tidak usah mengelak! lain kali jangan sampai melamun lagi, gak baik." Sahut Hana mencoba mengingatkan Desy.


"Iya, Mbak Hana," jawab Desy melanjutkan perjalanan melangkah mengikuti langkah Hana menuju sawah yang semakin dekat.


"Mbak Desy, di tunggu keluarganya di balai," ucap salah satu anggota kamar Desy.


"Terima kasih sudah di kasih tahu," sahut Desy berdiri berjalan sedikit cepat menuju balai pengiriman.


"Assalamualaikum," ucap Desy sesaat setelah sampai di balai, Desy langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya kemudian duduk di anatara mereka.


"Waalaikum salam," sahut Kedua orang tua Desy hampir bersamaan.


"Adek mana kok gak ikut?" tanya Desy saat melihat kedua orang tuanya hanya datang berdua tanpa adik kesayangannya.


"Adek kamu di rumah, tadi tak enak badan makanya gak ikut," jawab Ibu Desy.

__ADS_1


"Oh iya, Ibu tumben ke sini sekarang, bukankah waktu ngirim aku masih jum'at depan?" tanya Desy.


"Ibu hanya kangen saja dengan putri Ibu yang cantik ini, Ibu juga ada sesuatu yang ingin Ibu berikan padamu." Jawab Ibu Desy seraya mengambil sebuah kotak kecil berwaena merah hati dari saku celananya.


"Ibu punya apa?" tanya Desy dengan ekspresi wajah penasaran.


Ibu Desy memberikan satu kotak berbentuk hati berwarna merah ke arah Desy. Dan membukanya tepat di hadapan Desy.


"Ini untukmu, Nak." Ucap Ibu Desy.


"Untuk Desy? kenapa Ibu tiba-tiba membelikan Desy cincin?" tanya Desy yang merasa aneh, pasalnya Desy begitu tahu kondisi keluarganya, keluarga Desy termasuk keluarga sederhana yang jarang sekali membeli perhiasan karena pendapatan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


"Sudah jangan banyak tanya, sini tanganmu! biar Ibu yang memakaikannya." Ibu Desy yang sudah terlanjur berjanji pada Huda agar tak memberitahukan dari siapa cincin itu memilih untuk langsung memakaikannya tanpa menjawab pertanyaan sang Putri.


"Ini cincin mahal Bu," lirih Desy menatap lekat ke arah cincin putih bertahtahkan berlian di tengahnya. Meski Desy jarang sekali membeli perhiasan tapi dia masih mengerti mana cincin yang mahal dan biasa saja karena Desy sering memilihkan cincin yang pas untuk Umik saat beliau hendak bepergian.


"Jangan lihat dari harganya, Nak! tapi terima dengan penuh rasa syukur, ingatlah untuk tetap menjaga cincin ini apapun yang terjadi!" pesan Ibu Desy yang di tanggapi dengan anggukan oleh Desy.


"Cincinnya bagus Bu," lirih Desy.


"Ini jatah untukmu bulan ini." Ibu Desy memberikan satu amplop berwarna coklat ke arah Desy.


"Terima kasih Ayah, Ibu," ujar Desy mengambil alih amplop yang ada di depannya.


Sebenarnya ada banyak tanya yang bersemayam di benak Desy mengingat Sang Ibu tak pernah memberinya uang yang berada di dalam amplop, biasanya sang ibu akan memberinya uang tunai langsung tanpa amplop.


"Dan di dalam sini ada beberapa cemilan juga minuman yang bisa kamu makan, kalau dalam kantong plastik ini isinya makanan, kamu bisa memakannya bersama teman kamarmu yang lain!" tutur Ibu Desy.


'Kok banyak banget, tumben sekali Ibu dan Ayah memberiku makanan sebanyak ini dan uangnya tumben juga di masukkan amplop,' batin Desy.

__ADS_1


Desy yang tak pernah berani melawan ataupun banyak bertanya pada kedua orang tuanya hanya bisa diam memendam segala rasa penasaran dan aneh yang ada di benaknya tanpa bisa mengungkapkannya.


"Terima kasih Ayah, Ibu, tapi seharusnya tak usah sebanyak ini dengan Ibu dan Ayah datang sudah membuatku senang," ujar Desy memeluk kedua orang yang paling berharga dan berjasa dalam hidupnya.


__ADS_2