Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kotak Hadiah Dari Pengagum rahasia


__ADS_3

Husein terlihat begitu posesif pada Zahra, dan hal itu sontak membuat senyum Zahra semakij melebar.


"Terima kasih Bu, Pak, kalau sudah tidak ada lagi saya permisi." Pamit Sifa seraya sedikit menundukkan kepala tanda hormat sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangan Husein.


"Aaaa ...." Husein membuka mulut memberi isyarat agar Zahra kembali menyuapkan salad buah yang dia bawa tadi.


"Sejak kapan kamu berubah jadi bayi seperti ini, Mas?" Zahra merasa heran melihat tingkah Husein yang tiba-tiba manja padanya.


"Sejak aku menikah denganmu, dan belum ada Husein junior yang tumbuh dalam rahimmu, maka selama itu pula aku akan tetap menjadi bayi yang sering manja padamu," jawab Husein dengan senyum menggoda.


Zahra hanya tersenyum lucu sambil menggelengkan kepala menatap lekat ke arah Husein yang sedang tersenyum menggoda padanya.


Husein begitu bahagia menjadi suami Zahra, gadis yang hampir sempurna di matanya.


~


Jika Husein dan Zahra sedang menikmati masa-masa indah berdua dan menyslurkan segala rasa cinta yang mereka rasakan, maka berbeda dengan Desy yang kini sedang bingung, gosip yang awalnya hanya menjadi rahasia umum, kini semakin memanas.


"Desy!" panggil salah satu teman kelas Desy.


"Iya, kenapa?" sahut Desy dengan ekspresi bingung yang tergambar jelas di wajahnya.


"Ada titipan buat kamu," jawab teman Desy.


"Titipan apa?" Desy semakin bingung mendengar jawaban teman sekelas yang jarang sekali menyapa.


"Gak tahu, tadi ada yang menghadangku saat berangkat sekolah dan sedikit memaksaku untuk memberikan ini padamu tanpa memberitahu dari siap," temsn Desy menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Baiklah, terima kasih," ucap Desy mengambil sebuah kotak yang di letakkan di atas meja.


"Oke, aku pergi dulu." Pamitnya melangkah pergi meninggalkan kelas menuju kantin karena saat ini sudah waktunya istirahat.


"Desy, ayo pergi ke kantin!" ajak Shinta yang baru saja masuk ke dalam kelas setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi.


"Tunggu sebentar!" sahut Desy sambil terus menatap kotak berwarna merah dengan bentuk hati.

__ADS_1


"Eh tunggu! itu kotak apaan?" tanya Shinta berjalan cepat mendekat ke arah Desy yang masih saja menatap kotak yang ada di depannya.


"Gak tahu, aku aja bingung ini kotak apaan," jawaban Desy membuat jiwa kepo Shinta terbangun.


"Lah kamu dapat dari mana?" tanya Shinta yang penasaran dengan kotak yang ada di meja Desy.


"Tadi ada yang ngasih ke aku. Tapi pas aku tanya ini kotak dari siapa malah dia jawab gak tahu, aneh kan?" Desy menjelaskan asal usul kotak yang sekarang ada di hadapannya.


"Sini biar aku buka!" Shinta mengambil ali kotak yang ada di hadapan Desy.


"Mau ku apain kotak itu Shinta?" cegah Desy saat melihat tangan Shinta sudah bertengger indah di atas kotak.


"Mau aku bukalah, mau di apain lagi? dari pada penasaran dan hanya bisa menerka-nerka, mending langsung di eksekusi." Jawab Shinta enteng sambil menyobek kertas kado yang terbungkus rapi melapisi kotaknya.


'Sreeekkk'


Suara sobekan kertas terdengar sedikit keras karena Shinta menyobeknya dengan kasar.


"Ishhh, pelan-pelan kali, Shin!" tegur Desy yang melihat Shinta menyobek kertas kado dengan gerakan kasar.


"Cuma kertas aja Desy, aku gak sabar pengen tahu isinya," jawab Shinta sambil terus membuka kotak hingga terbuka sempurna dan terlihat apa yang ada di dalam kotak.


"Wahhh, lengkap banget, kayaknya ini dari penggemar rahasiamu deh," tebak Shinta.


"Entahlah, aku sendiri juga masih bingung," sahut Desy yang benar-benar tak mengerti siapa pengirim kotak yang dia terima saat ini.


Tanpa bertanya atau menunggu persetujuan Desy, Shinta langsung membuka surat yang ada di dalam amplop berwarna biru dengan kertas yang memiliki warna senada.


Dear, Matahariku.


Engkau terlihat seperti senja yg yang menghiasi sore hariku sebelum gelap datang.


Tapi aku tak pernah berharap engkau menjadi senja yang hanya datang dan menghiasi hariku sesaat, kemudian pergi meninggalkanku.


Aku berharap engkau menjadi mentari dan rembulan yang akan menemsni setiap hariku.

__ADS_1


Wahai engkau pencuri hati yang telah lama beku, izinkan aku bertanya dengan segala ketulusan yang ku punya, berharap engkau memberiku jawaban yang sebenarnya.


Apa kamu sudah mempunyai seorang kekasih yang sudah mengikat hatimu?


Dan benarkah kabar burung yang ku dengar, jika dirimu sudah bertunangan dan akan segera menikah dengannya?"


Aku menunggu jawaban darimu, ku harap engkau membalas surat yang mungkin tak berarti ini, tapi Aku sangat mengharapkan balasan darimu.


Yang mencintaimu,


Reyhan


"Khem, Reyhan sang pengagum rahasia, kayaknya Mas Huda punya saingan baru ini," seru Shinta dengan tatapan menggoda.


"Ssstttsst, diem! gak usah banyak komen!" Desy menyumpal bibir Shinta, kemudian mengambil alih kertas biru yang sejak tadi di pegang oleh Shinta.


"Apaan sih," sarkas Shinta sambil menepis tangan Desy yang menempel indah di bibirnya.


Desy langsung menyimpan kotak pemberian dari Reyhan yang entah siapa dan Reyhan yang mana? yang dia tahu saat ini dia harus segera menyembunyikan kotak itu dari semua orang terutama seksi keamanan sebelum timbul masalah yng akan menyulitkannya.


"Jangan bilang siapa-siapa dan jangan keras-keras kalau ngomong! kalau sampai ada yang tahu bisa bahaya," bisik Desy tepat di telinga Shinta.


"Beres, asal coklatnya kau kasih ke aku satu saja," pinta Shinta dengan senyum sengklek yang sering membuat Desy jengkel.


"Ini makan!" Desy mengambil satu cokelat yang ada di dalam kotak dan memberikannya pada Shinta sebagai tutup mulut, agar Shinta tak lagi membahas atau mengatakannya terlalu keras.


"Sudah kau simpan?" tanya Shinta yang kali ini berucap dengan nada rendah.


"Sudah, ayo ke kantin!" jawab Desy setelah menyimpan kotak yang untungnya berukuran tidak terlalu besar di dalam tas ranselnya.


Shinta dan Desy berjalan beriringan menuju kantin untuk mengganjal perut yang sebenarnya sudah ramai demo minta di isi, meski tadi sudah sarapan tapi tetap saja merasa lapar setelah beberapa jam mendengar dan mencatat setiap pelajaran yang di pelajari.


"Ayo!" sahut Shinta menggandeng lengan Desy.


Tanpa di sadari Desy, dua pasang mata menatap lekat ke arah Shinta dan Desy yang berjalan bergandengan tangan menuju kantin.

__ADS_1


"Semoga dia cepat membalas suratku, dan aku segera tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kebenaran gosip yang beredar," gumam Reyhan yang sering sekali menatap Desy dari jauh secara diam-diam.


"Rey, gue laper, loe masih mau di sini merhatiin setiap gerakan tu cewek, atau mau ke kantin? gue udah laper banget," keluh sahabat Reyhan yang tak di respon olehnya.


__ADS_2