
"Assalamualaikum," ucap Arum dengan nada sopan dan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Waalaikum salam," sahut ketiga orang yang sedang duduk di ruang tamu yang sontak menoleh ke arah Arum yang tengah berdiri di ambang pintu.
Ekspresi wajah Paman dan Bibi Hasan begitu terkejut melihat Arum yang berdiri di ambang pintu, Keduanya begitu mengenal wajah Arum, wajah seorang gadis yang fotonya sering di kirim oleh Huda.
"Paman, Bibi kenalkan dia Arum calon istriku," Hasan berdiri menghampiri Arum yang masih setia berdiri di ambang pintu.
Sungguh pertemuan yang sebenarnya ingin sekali di hindari oleh Arum, entah takdir macam apa yang Arum alami saat ini. Niat Arum yang ingin menghindar dari segala sesuatu yang dapat menimbulkan masalah justru kini semakin di pertemukan.
"Ayo masuk Sayang!" ajak Hasan dengan senyuman paling menawan yang dia tunjukkan Hasan sebagai sambutan atas kedatangan Arum.
"Terima kasih Kak," jawab Arum berjalan perlahan dan duduk di kursi sebelah Hasan.
"Bibi," Arum berjalan mendekat meraih tangan Bibi Hasan yang tak lain adalah Imah mama dari Huda.
Imah yang masih tertegun melihat wajah Arum hanya bisa diam tanpa bisa menanggapi Arum yang sedang mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangannya, tapi Imah justru hanya diam tanpa bisa melarangnya.
"Bibi, calon istriku mau mencium punggung tangan Bibi." Hasan yang melihat Arum yang hanya bisa diam akhirnya memilih untuk menegur sang Bibi yang masih saja diam mematung dengan mata yang terus meneliti ke wajah Arum.
"Eh, maaf Bibi melamun." Jawab Imah meraih tangan Arum.
__ADS_1
"Istrimu cantik Hasan, sungguh kamu pintar mencari istri," puji Imah mencoba mengorek informasi tentang Arum tanpa harus tergesa-gesa.
"Bibi bisa aja, padahal Bibi juga masih cantik kok," sahut Arum.
Ketiganya melanjutkan obrolan bersama sang Paman dan Bibi kini berjalan dengan lancar, meski jauh di lubuk hati Imah dan Arif hanya bisa menahan diri menekan segala rasa yang tiba-tiba muncul. rasa penasaran pada Arum begitu besar mengingat foto yang di kirimkan Huda sangat-sangat mirip, keduanya hanya bisa berdo'a agar gadis yang ada di foto hanya mirip bukan orang yang sama.
"Assalamualaikum," ucap Huda yang baru saja datang .
"Waalaikum salam, bagaimana Sayang? apa kamu sudah betah di sini?" tanya Imah yang merasa semakin bingung.
Imah yang melihat putra satu-satunya itu telah datang langsung berdiri berjalan cepat menghampiri Huda kemudian memeluknya dengan erat tanpa memperdulikan apapun di sekitarnya.
"Alhamdulillah,"Jawab Ayah dan Ibu Hasan yang kini tersenyum bahagia melihat anaknya yabg telah mendapat.
"Tunggu!" cegah Imah yang melihat Arum akan pergi keluar dari rumah.
"Ada apa Ibu?" sahut Arum menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah belakang.
"Kamu mau ke mana Nak?" tanya Imah yang melihat Arum hendak pergi dengan satu kantong paperbag di tangannya.
"Saya mau balik ke asrama Ibu." Jawab Arum yang memang tak ingin terus berada di ruang tamu yang pada akhirnya akan menghancurkannya.
__ADS_1
"Duduklah dulu Nak! jangan terburu-buru!" Imah tetap mencegah Arum pergi dan pada akhirnya Arum hanya bisa mengiyakan dan menuruti apa yang Ibu Huda itu inginkan.
Arum kembali duduk tak jauh dari Hasan yang juga sudah duduk di kursi.
"Arum orang mana Nak?" tanya Imah penuh kehati-hatian.
"Saya asli kota A, hanya saja sejak beberapa tahun yang lalu saya resmi pindah ke Australia mengikuti Ayah yang mengelolah perusahaan keluarga di sana." Jawaban Arum sungguh membuat kedua orang tua Huda langsung melebarkan matanya. Bagaimana tidak nama asal kota juga wajah Arum benar2 sama dengan gadis yang ada di foto yang di kirimkan oleh Sang putera yaitu Huda.
-
-
-
-
-
Kakak2 maaf lagi upnya sedikit, mohon di maklumi jika ada kata yang salah atau kurang di mengerti karena Author benar2 berjuang dalam menulis cerita ini karena saat ini author kembali sakit, meski hanya mual muntah dan pusing tapi author masih belum mampu up lebih dari ini.
Maaf ya kak, tetep dukung Aku ya kak agar aku lebih semangat lagi ....
__ADS_1