
Semua keluarga Arum langsung tersenyum bahagia melihat tingkah Arum yang langsung menarik tangan Hasan untuk ikut bersamanya. Apalagi mendengar panggilan Arum yang sudah berubah pada Hasan membuat senyum itu semakin merekah.
Semua keluarga Arum tahu jika Arum di jodohkan sedangkan dia sendiri masih memiliki kekasih, tapi keluarga Arum terutama Fia tak pernah tahu jika kekasih Arum itu anak dari Arif yang tak lain mantan kekasihnya, dunia ini sungguh terasa sempit karena takdir pertemuan mereka hanya berputar di situ saja, tapi mau bagaimana lagi takdir manusia tak bisa di ubah.
Arum, Steve dan Hasan berjalan masuk ke dalam dapur mencari para pelayan yang biasanya membantu mereka, sedang Bunda Fia, Rifki dan Oma Arum masuk ke dalam kamar Oma Sofi untuk melihat keadaannya saat ini. Oma Sofi memang sudah lebih baik tapi tak sembuh secara total, dia masih membutuhkan perawatan dan penjagaan juga kontrol rutin ke rumah sakit, hal itulah yang membuat Oma Arum tak bisa pulang.
Senja yang indah telah berlalu berganti malam dingin penuh bintang yang menghiasi langit, tapi kegelapan berubah jadi terang dan dingin berubah menjadi hangat karena kebersamaan yang di ciptakan oleh para cucu Oma Arum.
"Oma sini!" Arum melambaikan tangan memberi isyarat pada Oma agar ikut bergabung. Saat ini Oma Arum sedang berdiri di ambang pintu dengan Oma Sofi yang duduk di atas roda.
"Oma Sofi juga, ayo sini gabung!" sambung Arum yang melihat Oma Sofi tersenyum bahagia dengan mata berbinar menatap kebersamaan yang di ciptakan oleh cucu Oma Arum.
"Bahagia sekali jadi kamu Kak," cicit Oma Sofi.
"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu Dek?" sahut Oma Arum, sejak kecil mereka terbiasa memanggil Kakak dan Adik, dan kebiasaan itu di bawa sampai mereka tua dan memiliki cucu.
"Lihatlah, anak, cucu dan menantumu begitu kompak saat bersama. Sedangkan Aku hanya bisa diam sendiri di rumah sebesar istana ini tapi sepi seperti kuburan, anak cucuku lebih memilih pergi ke luar negeri dan jarang sekali mengunjungiku di sini, mereka berkunjung dan berkumpul setahun sekali, itupun kalau mereka punya kesempatan kalau tidak Aku akan tetap sendiri." Oma Sofi mengungkapkan segala rasa yang dia rasakan saat ini.
"Sebenarnya kita sama Dek, aku juga sendirian di mension tapi tadi Aku sempat berbicara kembali tentang keinginanku agar mereka kembali pulang." Ujar Oma Arum.
"Terus bagaimana respon Rifki?" tanya Oma Sofi.
"Dia menyanggupi untuk kembali tinggal di mension, hanya saja dia masih belum bisa kembali sekarang karena pekerjaan dan tanggung jawabnya di sana masih belum bisa di gantikan oleh Steve, karena Steve masih punya pekerjaan di singapura." Oma Arum menjelaskan semua alasan anaknya yang masih belum bisa kembali.
__ADS_1
"Kamu lebih beruntung Kak, sekalipun anakmu cuma satu tapi dia masih mau memikirkan kebahagiaanmu, berbeda dengan Aku yang memiliki anak lebih dari satu tapi semua anakku lebih mementingkan kebahagiaan mereka sendiri dari pada kebahagiaanku. Bahkan di saat Aku sakit seperti ini mereka masih saja sibuk dan tak ada waktu untuk menemaniku sekalipun Aku telah memintanya," setetes demi setetes air mata Oma Sofi mengalir, dia menangis tanpa suara dengan tatapan yang masih lurus ke depan tanpa sedikitpun beralih.
"Oma! ayo!" Arum yang melihat kedua lansia yang sejak tadi di panggilnya hanya diam tanpa bergerak, atau pun berpindah kini kembali memanggil agar keduanya ikut bergabung.
Oma Arum dan Oma Sofi langsung tersenyum senang melihat Arum yang begitu bersemangat untuk mengajak keduanya bergabung, tanpa fikir panjang Oma Arum berjalan ke arah Arum dan yang lain sambil mendorong kursi roda yang di duduki Oma Sofi.
"Ayo makan Oma!" Arum yang melihat kedua lansia yang merupakan nenek kesayangannya langsung mengambilkan sepiring seafood dan dua buah jagung bakar dan memberikannya pada kedua Omanya.
"Oma gak makan seafood dulu, Nak," ujar Oma Sofi.
"Kalau begitu Oma makan jagung bakar ini saja." Arum memberikan satu tusuk jagung bakar ke arah Oma Sofi.
"Apa Oma Arum juga gak makan seafood?" tanya Arum.
Sebenarnya Oma Arum memiliki nama Asih hanya saja dia sudah terbiasa di panggil Arum sejak kelahiran Arum. Karena dulu Aeum selalu memanggilnya Oma Arum yang artinya Oma Asih itu Omanya Arum, jadi semua orang ikut memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Tante, Ibu, ini minumannya." Kini giliran Bunda Fia yang memberikan dua gelas teh hangat untuk kedua lansia yang ada dihadapannya.
"Terima kasih ya, Nak," ucap Oma Arum dengan mata yang berkaca-kaca, rasa syukur kini membuncah menguasai isi hatinya melihat betapa perhatiannya menantu dan cucunya itu..
Kehangatan begitu terasa di teras belakang rumah Oma Sofi, suasana sepi berubah menjadi ramai dengan keberadaan Arum dan keluarganya.
"Syei'!" panggil Hasan saat melihat Arum berjalan mendekat ke tempat Steve yang kini berdiri di depan panggangan sedang memanggang daging.
__ADS_1
"Emm, iya Bi, ada apa?" sahut Arum sembari berbelok melangkah ke arah Hasan berada dan mengurungkan niatnya untuk meghampiri Steve.
"Ada apa Bi?" tanya Arum saat berada tepat di sampingnya
"Kamu mau ke mana?" tanya Hasan.
"Aku mau ambil daging yang terlihat sudah matang di sana." Arum menunjuk ke arah Steve yang masih fokus memanggang daging yang terlihat menggiurkan.
"Ambillah daging yang kamu mau! setelah itu kembali ke sini dan temani Abi!" tutah Hasan dengan senyum manis yang timbul di wajahnya.
"Baiklah, terima kasih sudah ngizinin aku, tunggu di sini biar Aku ambilkan!" Arum sungguh terlihat begitu manis dan menggemaskan meski hanya dengan cara menurut dan juga tersenyum mampu membuat Hasan tak pernah bisa melupakan senyuman itu.
Hasan masih saja terus memandang Arum yang berjalan menghampiri Steve.
"Kak, aku minta dagingnya donk!" pinta Arum.
"mana piringnya?" tanya Steve yang melihat Arum tak membawa apapun.
"Bentar aku ambil Kak,. Tadi lupa," jawab Arum seraya berjalan menuju tempat piring di simpan.
"Loh, kok cuma ambil satu Arum?" Steve kembali bertanya melihat Arum hanya membaea satu piring di tangannya.
"Sudah gak usah banyak nanya, orang yang banyak nanya itu biasanya metong duluan loh Kak," jawab Arum yang merasa malas untuk menjawab pertanyaan Steve justru menjawab seenaknya.
__ADS_1
"Dasar kau adik durhaka, bukannya jawab malah bahas mati, ni ambil dan pergi sana!" Steve memberikan beberapa potong dan meletakkannya di atas piring yang di bawa oleh Arum.
"Thanks Kak, soal tasi maaf ya Arum sengaja," Arum malah tersenyum bahagia setelah mendapatkan apa yang dia mau kemudian berlalu menghampiri Hasan yang duduk sendiri di atas ayunan kayu yang ada di teras belakang sedilit jauh dari keluarga Arum yang lain.