
"Tenang aja, nyocap bocap gue orangnya asik kok." Zein menyikut lengan Husein yang berwajah tegang.
"Ishh diem loe! gue lagi gerogi tahu," sahut Husein.
"Hebat juga Adek gue bisa bikin Husein gerogi," ujar Zein sambil terkekeh geli melihat teman yanh biasanya selalu terlihat tegas di depan bawahannya itu kini terlihat gerogi hanya karena akan bertemu dengan orang tuanya.
Husein tak lagi menimpali ucapan Zein, dia memilih untuk diam dan mengendalikan diri agar tak terlihat terlalu gerogi di hadapan kedua orang tua gadis pujaan hatinya.
"Mama, Papa!" sapa Zahra sesaat setelah sampai di ruang makan.
"Zahra duduklah, Nak!" sahut Mama Zahra.
"Loh ada Husein juga, sini iku gabung! kita makan bersama." sambung Mama Rina yang tak lain adalah Mama Zahra.
"Ini dari Kak Husein Ma." Zahra memberikan satu parsel yang dia bawa dan Husein juga ikut memberika satu parsel yang dia bawa pada sang Mama.
"Masya Allah kenapa
Selama ini Mama Rina tak pernah tahu jika Husein adalah putera dari Uqi pemilik pesantren yang dulu pernah dia tempati sebagai tempatnya menimba ilmu sebelum menukah.
Husein yang mendengar perintah Mama Rina langsung meraih tangan kedua orang tua Zahra dan ikut bergabung makan bersama yang lain, Husein memang beberapa kali ikut makan bersama dengan keluarga Zein tapi saat Husein ke rumah Zein sekalipun dia tidak pernah bertemu dengan Zahra karena Zahra baru saja lulus kuliah di luar negeri.
"Makanlah!" titah Papa Zahra.
Semua keluarga termasuk Husein makan dengan tenang hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar menggema di ruangan.
"Ma, Papa berangkat dulu ya." Pamit Papa Putri.
Mama Zahra yang mendengar suaminya berpamitan akan berangkat kerja langsung berdiri mengambil jas dan tas kerja yang terletak di kursi kosong tak jauh dari tempat mereka makan.
"Papa berangkat dulu." Papa Zahra juga berpamitan pada anak-anaknya yang di sambut oleh Zahra dan Zein dengan mencium tangan sang Papa.
__ADS_1
Husein yang melihat keakraban keluarga Zahra merasa terharu dia juga ikut mencium punggung tangan Papa Zahra.
"Sudah, lanjutkan makannya!" ujar Pap Zahra karena sebenarnya acara sarapannya belum selesai tapi Papa Zahra lebih dulu pergi karena ada meeting penting pagi ini.
Mama Zahra ikut mengantar Sang Suami sampai ke depan pintu sedangkan Husein dan yang lain melanjutkan Makan.
"Udah gak usah di pantengin terus! nyocap bocap gue emang udah sweet dari sononya." celetuk Zein yang melihat Husein justru terdiam menatap kepergian kedua orang tua Zahra.
"Lihat nyocap bicap loe guw jadi pengen cepet-cepet nikah." sahut Husein.
"Kalo udah pengen nikah kenapa gak langsung nikah aja? loe kan udah punya segalanya." timpal Zein.
"Gue nunggu Adek loe siap." Ujar Husein.
"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...." Zahra yang mendengar ucapan Husein langsung terbatuk-batuk.
"Minum dulu!" Husein menyodorkan segelas air ke hadapan Zahra.
"Terima kasih," ujar Zahra yang langsung mengambil segelas air yang di berikan oleh Husein.
Zein yang sejak dulu mengenal Husein percaya jika Adiknya akan bahagia jika bersama dengan Husein, oleh sebab itu Zein merestui dan mengizinkan Zahra berkenalan dengan Husein.
"Maaf ya tadi Mama tinggal, sekarang ayo kita lanjutkan makan!" seru Mama Rina yang baru saja kembali setelah mengantarkan Sang suami berangkat kerja.
"Ngomong-ngomong Husein sudah lama tidak ke sini, ke mana saja?" tanya Mama Rina.
"Saya lumayan sibuk ngurusi resto dan Hotel yang saya kelolah Tante," jawab Husein dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Cukup banyak juga ya pekerjaanmu," ucap Mama Rina.
"Alhamdulillah Tante, saya cuma nerusin aja, sebenarnya semua usaha yang saya punya milik orang tua yang di wariskan pada saya." Jelas Husein.
__ADS_1
"Dia Putera seorang kiyai loh Ma," sela Zein yang sejak tadi hanya menyimak percakapan Husein dan sang Mama.
"Wah benarkah?" Mama Rina yang sejak tadi biasa saja kini malah tertarik ingin mengetahui siapa Husein sebenarnya.
"Iya Ma, Zein mana pernah bercanda soal identitas orang ke Mama," Zein mencoba meyakinkan Sang Mama dengan apa yang di ucapkannya.
"Cuma pesantren biasa Tante," Husein merasa sungkan jika Mama Zahra sampai tahun kalau dia Putera Seorang Abi Ilzham.
"Dia emang gitu Ma, suka merendahkan diri, bahkan di kampus dulu sampai gak ada yang tahu kalau dia putera seorang Kiayi pemilik pesantren besar," Zein yang memang mengagumi sifat rendah hati Husein mengungkapkannya pada sang Mama.
"Oh ya, wah Kamu sungguh rendah hati. Kalau boleh Tante tahu di mana pesantrenmu?" tanya Mama Rina ceplas ceplos.
"Dia putera Abi Ilzham dan Umik Uqi pemilik pesantren Thoriqul Jannah," kali ini yang menjawab bukan Husein melainkan Zein.
"Apa?? Thoriqul Jannah??" Mama Rina yang sejak tadi bersikap biasa saja langsung terkejut dan menaruh sendok garbu yang di dipegang saking kagetnya.
"Iya, saya putera Abi Ilzham," Husein meyakinkan Mama Rina.
"Loh Ma, bukankah pesantren itu adalah pesantren tempat Mama dulu menimbah ilmu?" Zahra yang mendengar ucapan Husein langsung menghentikan makan dan menoleh ke arah Mama Rina.
"Masya Allah jadi Kamu Mas Muhammad Ali Husein putera dari Abi Ilzham. Tante sungguh tidak menyangka jika putera tante bersahabat dengan Putera Abi Ilzham, seorang guru yang juga pernah mengajar Tante." Ujar Tante Rina dengan mata berbinar karena saking bahagianya.
"Iya Tante," sahut Husein.
"Husein mau daftar jadi calon mantu Ma," celetuk Zein dengan senyum jahilnya.
"Zein, jangan mengada-ngada!" sahut Mama Rina yang merasa jika putrinya masih belum sederajat jika harus bersanding dengan Husein yang notabennya keturunan Kiyai besar seperti Abi Ilzham.
"Sebenarnya apa yang di katakan Zein memang benar Tante, kira-kira Husein di terima atau enggak jadi mantu Tante?" Husein yang merasa memiliki kesempatan langsung mengungkapkan keinginannya dengan segenap keberanian yang dia miliki, sedang Zahra yang mendengar ucapan Husein langsung menoleh ke arah Husein dan membulatkan mata sempurna.
"Jangan bercanda Nak!" Mama Rina masih belum yakin dan percaya jika Husein ingin jadi mantunya.
__ADS_1
"Saya serius Tante, bagaimana di terima atau tidak kalau Saya daftar jadi mantu Tante?" Husein yang tak ingin melepas kesempatan yang tercipta kembali meyakinkan Mama Rina jika dia serius dengan ucapannya.
"Jika kamu memang serius maka datanglah bersama orang tuamu dan bicarakan secara pribadi dengan Zahra putri tante, apa dia mau atau tidak karena jika kamu tanya ke Tante maka jawabannya pasti iya. Tapi semuanya Tante kembalikan pada Zahra karena dia yang akan menjalaninya." Jawab Mama Rina membuat seutas senyum muncul di Husein.