
Pagi mulai datang, rembulan penyinar malam telah berlalu. Hari baru juga harapan baru bagi Huda, entah mengapa beberapa hari ini dia ingin bertemu dengan Desy, gadis bijak yang sudah hadir tanpa permisi dalam hidupnya.
Entah cinta atau hanya pelarian semata? Huda merasa begitu nyaman berada di dekat Desy, pagi ini Huda berencana menemui Desy hanya sekedar ingin menyapa atau melihatnya dari jauh.
"Mas Huda!" panggil seorang gadis yang kini suaranya sudah mulai familiar di telinga Huda.
'Kebetulan sekali, baru aja Aku pengen menemuinya tapi dia udah nyapa duluan,' batin Huda yang saat ini berada halaman belakang tempat Desy biasa menjemur baju. Selain ingin menemui Desy, Huda memang suka menghabiskan waktu di halaman belakang. Menikmati semilir angin yang berhembus dari beberapa pohon yang ada di sana, di temani secangkir kopi dan setoples biskuit.
"Eh kamu Desy," sahut Huda menoleh ke arah Desy yang berada tepat di belakangnya.
"Mas Huda Aku mau bilang terima kasih kadonya, tapi Mas Huda ngasih Aku kado dalam rangka apa?" Desy langsung bertanya pada intinya setelah berterima kasih.
"Sebenernya kemarin itu Aku dalam masa sulit," ujar Huda, entah mengapa dia selalu merasa nyaman saat bercerita bersama Desy.
"Masa sulit bagaimana maksudnya?" sahut Desy dengan segala kekepoan yang dia miliki.
"Saat itu Aku harus merelakan seseorang yang cukup lama sudah menjadi ratu di hatiku, dan Aku terpaksa melupakannya karena dia telah menikah dengan saudaraku sendiri, tapi saat ini hatiku sudah cukup ikhlas untuk melepaskannya, sekalipun rasa sakit itu masih ada, tapi sudah sesakit waktu Aku pertama kali tahu tentang perjodohan yang harus dia laksanakan." Huda sejenak terdiam seolah melepas beban yang begitu berat dalam dirinya.
"Dan kau tahu Desy, Aku bisa sedikit melupakan semua rasa sakit itu karena apa?" sambung Huda sembari melempar pertanyaan pada Desy.
"Aku gak tahu, apa ada hubungannya denganku?" tanya Desy polos.
__ADS_1
"Semua itu karena masukan dari kamu, dan hadiah yang ku kirimkan itu hanya sebagai tanda terima kasihku," penjelasan Huda sebenarnya cukup membuat Desy merasa kecewa, entah mengapa Desy merasa jika apa yang di ucapkan Huda mampu membuat sudut hatinya terasa sakit tanpa luka.
"Aku bersyukur kalau ucapanku memang bisa bermanfaat untuk orang lain, dan Aku berharap Mas Huda bisa bertemu dengan gadis lain yang akan menjadi jodoh terbaik untuk Mas Huda," ucap Desy sambil menahan segala rasa yang bergejolak di hatinya.
"Kamu sudah jadi santri berapa tahun Desy?" Huda mencoba mengalihkan arah pembicaraan mencari topik yang cukup nyaman sebagai bahan perbincangan, Huda tak ingin Desy bertanya tentang hidupnya apalagi sampai tanya siapa gadis yang di maksud olehnya, jika Huda terus membahas masalah yang sama bisa di pastikan Desy akan menanyakan hal itu lebih dalam.
"Aku sudah lumayan lama, lima tahu lebih," jawab Desy.
Desy mulai menjadi santri saat umur dua belas tahun, seminggu setelah kelulusannya di sekolah dasar. Kedua orang tua Desy memang bukan orang kaya tapi tekad dan kemauan mereka yang tinggi mampu membiayai Desy untuk bersekolah di pesantren besar seperti pesantren yang dia tempati saat ini.
"Masya Allah, cukup lama juga kamu di sini. Pantas saja kamu bisa berbicara sebijak itu, ternyata kamu sudah lama ada di sini." Tutur Huda yang terlihat mengagumi Desy.
"Alhamdulillah jika memurut Mas Huda Aku bijak berarti hampir semua ilmu yang Aku dapat di sini bisa ku serap dengan baik," ucap Desy.
"Kamu setiap hari ke sini?" tanya Huda, dia sering sekali melihat Desy berada di taman belakang.
"Aku biasanya ke sini di pagi hari lebih tepatnya setelah sholat subuh Aku pasti ke sini untuk menjemur baju yang sudah di cuci oleh Umik, dan Aki akan kembali ke sini sore harinya untuk mengambil baju yang sudah kering." Desy memberitahukan alasan kenapa dia sering sekali ada di halaman belakang.
"Oh, Aku kira kamu ke sini cuma mau mengahbiskan waktu dan bersantai," Huda mengutarakan tembakannya.
"Tidak Mas Huda, di sini area ndalem jadi hanya keluarga Umik dan beberapa orang yang kebetulan mendapat tugas dari Umik yang bisa masuk ke sini, santri yang tidak punya kepentingan tak di izinkan untum berada di sini." Desy memberitahukan peraturan yang menurutnya tidak di ketahui oleh Huda, sedang Huda hanya mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Mas Huda sendiri sedang apa di sini?" kini giliran Desy yang mengajukan pertanyaan, pasalnya tak ada anggota keluarga Umik yang suka menghabiskan waktu di halaman belakang selain Huda, mungkin karena letaknya yang ada di belakang dan sepi juga menjadi alasan kenapa halaman ini jarang sekali di gunakan untuk bersantai seperti apa yang di lakukan oleh Huda.
"Entahlah, di sini Aku merasa lebih tenang dan damai, mungkin Aku terlalu sering berada di keramaian sampai bosan dan lebih suka dengan tempat yang sunyi seperti sekarang." Huda kembali mengutarakan apa yang dia rasakan. Desy benar-benar bisa membuatnya nyaman sehingga Huda bisa mengutarakan apapun yang dia rasakan tanpa ada rasa sungkan atau apapun.
"Terkadang sunyi itu tak selamanya menyakitkan, kita juga butuh waktu untuk menyendiri, memikirkan apa yang telah terjadi dan mensyukuri semua yang telah kita dapatkan. Kita juga bisa lebih dekat dengan sang pemcipta saat berada dalam kesunyian, karena kesunyian terkadang mengingatkan kita akan alam barza, di mana kita akan meninggalkan mereka yang kita sayang dan hidup sebatang kara di dalam tanah dengan segala bekal yang kita punya," tutur Desy membuat Huda seketika merinding setelah mendengarnya.
"Astaghfirullah, ucapanmu bikin merinding Desy," cicit Huda.
"Maaf, tapi apa yang Aku katakan benerkan?" Desy yang selalu mengaitkan kesunyian dengan alam barza meminta kebenaran pada Huda.
"Kamu benar, dan Aku juga setuju dengan apa yang kamu katakan. Lebih sering mita mengingat akan kematian dan alam barza maka akan lebih banyak amal baik yang akan kita lakukan, Aku juga percaya dengan mengingat mati Kita akan lebih berhati-hati dalam bersikap juga memperbanyak pahala." Huda juga ikut-ikutan membahas sesuatu yang keluar dari topik pembicaraan mereka sebelumnya.
"Sudahlah, kenapa kita harus bicara soal kematian sih," keluh Desy.
"Loh bukannya kamu duluan yang membahasnya? kenapa sekarang malah mengelub saat Aku ikut membahasnya?" tanya Huda yang heran dengan keluhan Desy.
"Iya juga sih, kenapa Aku jadi mengeluh?" tanya Desy pada dirinya sendiri membuat Huda tertawa meski dengan nada kecil karena melihat ekspresi wajah lucu Desy.
"Kamu ini lucu sekali Desy," seloroh Huda.
"Memangnya Aku marmud lucu, sudahlah kalau begitu Aku permisi pergi dulu Mas Huda, assalamualaikum." Pamit Desy yang merasa cukup lama berada di halaman belakang.
__ADS_1
"Oke, lain kali kita ngobrol di sini lagi ya," sahut Huda dengan senyum yang mengembang.
"Oke, sampai ketemu nanti." Jawab Desy melenggang pergi meninggalkan halaman belakang yang penuh dengan kenangan.