
Hari semakin larut,setelah obrolan cukup panjang Huda dan keluarga berpamitan untuk kembali pulang dan datang kembali esok untuk membicarakan tentang pernikahan yang akan segera di laksanakan.
"Jangan lupa di pakai gelangnya!" pesan Huda sebelum meninggalkan Desy.
"Siap, calon Imam," jawaban Desy membuat Huda bahagia mendengarnya.
"Aku pulang dulu, mimpi yang indah, besok kita bertemu lagi." Huda kembali berucap membuat Desy heran, jika Huda terus-terusan berpesan kapan dia akan pulang.
"Iya, hati-hati!" jawab Desy sambil tersenyum dan menggelengkan kepala melihat sikap Huda yang terasa jauh berbeda dari Huda yang dulu sebelum pergi ke Australia.
"Huda!" panggil Imah yang sedikit geram melihat Huda masih betah berdiri di tempat tak mau bergerak, sedangkan Imah dan yang lain sudah menunggu di dalam mobil.
"Iya, Ibu," sahut Huda berjalan dengan langkah berat menuju mobil meninggalkan Desy yang masih berdiri di tempat, rasanya terasa begitu berat meninggalkan Desy saat ini, rindu yang tertumpuk selama setahun seakan tak bisa di tebus hanya dengan sehari pertemuan.
"Sudah, jangan di pandang terus! inget belum halal!" Imah mengingatkan sang anak yang terlihat tak rela meninggalkan Desy, dia terus menatap Desy meski sudah berada di dalam mobil.
Huda yang mendengar ucapan sang Ibu langsung mengalihkan pandangannya menatap lurus ke depan dan tak lagi menoleh ke arah Desy.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Huda dan Desy, keduanya sama-sama sulit untuk memejamkan mata, saling mengingat satu sama lain. Jika Huda masih merasakan rindu yang belum tuntas, maka berbeda dengan Desy yang kini malah terdiam duduk mematung di atas kasur bersandarkan kepala ranjang.
"Apa semua yang terjadi ini nyata? atau hanya sebuah mimpi?" lirih Desy sambil menatap lurus ke depan mengingat semua yang telah terjadi.
Drrrrt ... ddrrrrttt ... dddrrrttt ....
Getar ponsel yang selama hampir setahun di pakai oleh Vina sang Adik kini mulai terdengar mengusik lamunan Desy.
"Siapa ya?" gumam Desy merasa asing dengan nomor yang menghubunginya, cukup lama Desy memandang ponsel yang saat ini dia pegang, hingga getaran terakhir Desy baru mengangkatnya.
"Hallo, ini siapa?" tanya Desy dengan dahi yang mengkerut karena heran.
"Assalamualaikum, ukhti, baru juga tadi sore kita pisah udah lupa aja kamu Desy," suara nyaring Shinta terdengar di sebrang telfon.
"Shinta, aku fikir siapa? nomor kamu baru lagi?" sarkas Desy yang melihat Shinta memakai nomor baru lagi.
"Iya, nomor yang lama udah ke blokir gara-gara gak ada yang pakai, ponselku kan istirahat panjang kalau aku ada di pesantren," jelas Shinta.
__ADS_1
Sebagai anak yang berasal dari keluarga cukup berada ponsel Shinta memang tak ada yang memakai karena seluruh anggota keluarga yang lain memiliki ponsel sendiri-sendiri.
"Malem-malem telfon ada apa?" tanya Desy yang merasa sedikit terganggu dengan telfon yang di lakukan oleh Shinta.
"Kamu gak suka ya aku telfon malem-malem gini?" jawaban yang tak di harapkan oleh Desy kini terdengar.
"Bukan gitu Shin, aku cuma heran aja, jam segini kamu belum tidur, kalau di pesantren jam segini kamu udah molor duluan," Desy mencari alasan agar Shinta tak lagi tersinggung.
"Ini hari pertama di rumah Desy, jadi aku masih menikmati suasana kamar yang nyaman dan film yang sudah lama ingin aku lihat, jadi sayang kalau mau langsung tidur," Shinta memberitahukan alasan dirinya belum tidur.
"Bukankah nanti kamu juga akan merasakannya tiap hari," ujar Desy.
"Iya, sih, tapi gak tahu kenapa aku masih betah bergadang dan malas untuk tidur," jujur Shinta.
"Eh, btw, bagaimana kabar Mas Huda yang kamu tunggu-tunggu itu? apa sudah ada kabar?" sambung Shinta.
Desy yang mendengar pertanyaan Shinta langsung menceritakan semua yang telah terjadi, dan penjelasan Desy sukses membuat Shinta terkejut.
"Jadi, sekarang kamu sudah resmi tunangan sama Mas Huda?" sahut Shinta yang kini justru semakin penasaran dengan kelanjutan cerita Desy.
"Wah selamat ya, ternyata penantianmu tidak sia-sia, aku tunggu undangan pernikahannya," ujar Shinta.
"Beres, sudah malam, tidur sono! jangan begadang! entar keriput baru tahu rasa kamu," pesan Desy.
"Siap, aku tidur dulu ya, kapan-kapan aku bakal mampir ke rumahmu. Tunggu aku!" pesan Shinta sebelum akhirnya menutup sambungan telfonnya.
Desy tersenyum bahagia mengenang semua yang telah terjadi, dia merebahkan diri menikmati kasur yang sudah lama tak dia tempati, meski tak semewah di rumah Shinta, tapi cukup memberi kenyamanan untuk Desy istirahat malam ini.
"Leganya," lirih Desy berguling ke kiri dan ke kanan menikmati lebarnya kasur yang dia tempati saat ini, biasanya dia akan berdesak-desakan dengan santri lain di pesantren tapi kali ini dia bisa tidur dengan lega.
Malam panjang telah berlalu, kini mentari pagi mulai muncul menampakkan sinarnya, hari ini Desy bangun jauh lebih awal dari biasanya, setelah sholat tahajjud sepertiga malam dia tak tidur kembali, tapi membaca dzikir sampai adzan subuh berkumandang.
"Pagi, Ibu," sapa Desy setelah selesai sholat subuh, dia langsung menemui sang Ibu untuk membantunya memasak di dapur.
"Pagi, Sayang, ini masih terlalu petang, kenapa sudah bangun? istirahatlah jika kamu masih lelah!" sahut Ibu Desy.
__ADS_1
"Tidak, Bu, pagi ini aku ingin menemani Ibu memasak. Ibu mau masak apa?" tanya Desy sambil melihat bahan yanh sedang Ibunya siapkan.
"Kemarin pagi Ibu sempat ambil daun singkong di belakang rumah, jadi Ibu mau masak urap-urap daun singkong kesukaanmu," jawab Sang Ibu.
"Wah urap-urap, apa ikan asinnya ada?" tanya Desy dengan ekspresi wajah berbinar.
"Ada, Ibu masih punya stok di kulkas, hari ini Ibu juga mau masak nasi jagung biar makin lengkap," tutur Ibu Desy.
"Wah alamat makan banyak aku hari ini," ujar Desy penuh semangat.
Dengan penuh semangat Desy membantu sang Ibu memasak menu sederhana tapi rasa istimewa.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Desy setelah semua menu sudah siap di atas meja.
"Desy, lebih baik kamu mandi dan siap-siap dulu! setelah itu kita makan bersama," titah Ibu Desy.
"Baik, Bu," jawab Desy yang langsung mengambil baju ganti dan bergegas mandi kemudian bersiap-siap untuk sarapan bersama yang lain. Cukup lama Desy bersiap-siap di dalam kamar hingga jam sarapanpun tiba.
"Loh kok sudah ada Mas Huda?" lirih Desy yang hanya bisa di dengar olehnya.
Desy sedikit terkejut saat dia keluar sudah melihat Huda duduk manis di ruang tengah, tempat biasa keluarga Desy makan bersama setiap pagi, sudah menjadi tradisi di keluarga Desy untuk sarapan bersama setiap pagi, dan di sanalah kehangatan sebuah keluarga selalu terasa.
-
-
-
-
-
-Kakak2 jangan lupa mampir ke karya baruku ya, dukung author biar makin semangat berkarya.
__ADS_1