
Desy yang melihat Ustad pengganti itu masuk langsung menunduk menyembunyikan wajahnya, sedang sang Ustad pengganti yang tidak tahu jika gadis yang dia tabrak pagi tadi sekarang menjadi muridnya.
"Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Huda kalian bisa panggil saya apa saja Ustad, Kakak atau apapun yang membuat kalian nyaman. Untuk sementara waktu saya akan mengajar di sini sekaligus jadi wali kelas kalian menggantikan Ustad Ilham." Huda menjelaskan keberadaan dan siapa dia, suasana kelas yang semula lumayan ramai karena obrolan para muridnya kini langsung berubah sepi, semua murid memperhatikan seorang Ustad pengganti yang begitu tampan sedang berdiri di depan kelas memperkenalkan diri.
"Baiklah sebelum saya mulai pelajarannya apa ada yang ingin bertanya?" sambung Huda yang sejak tadi tak mendapat respon karena semua murid yang akan dia ajari terdiam mematung menatap ke arahnya.
"Saya Ustad," seorang gadis yang duduk di bangku pojok dan terkenal pendiam juga sosok yang jarang memperhatikan sesuatu kecuali jika sesuatu itu berhubungan dengan pelajaran kini membuka suara dan ingin bertanya, benar saja sikapnya itu membuat seisi kelas langsung terkejut dan langsung melihat ke arahnya.
"Iya mau tanya apa? silahkan!" Huda mempersilahkan untuk mengatakan pertanyaannya.
"Ustad orang baru ya? kok gak pernah lihat sebelumnya?" tanya gadis itu.
Huda yang mendengar pertanyaan yang tak biasa itu langsung tersenyum dan menjawabnya dengan santai mencoba mencairkan suasana yang sedikit tegang.
"Dulu saya juga pernah menjadi santri di sini sebelum mendapat beasiswa ke luar negeri, jadi saya bukan orang baru hanya saja saya baru kembali." Jawab Huda dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Wahh, beasiswa ke luar negeri. Ustad pasti murid yang cerdas sampai dapat beasiswa ke luar negeri." Ujar beberapa murid yang mendengar jawaban Huda.
'Sungguh sempurna ciptaanmu ya Allah, sudah tampan, baik cerdas pula sungguh sempurna' batin Desy sambil menatap lekat ke arah Huda yang sedang membaca makna kitab.
"Khem," suara deheman Huda mengejutkan Desy yang masih setia melamun.
"Perhatikan dan catat baik-baik makna yang saya baca! karena setelah ini saya akan menyuruh kalian membacanya satu persatu." Huda yang merasa sedikit risih juga sedikit gerogi karena di tatap seperti itu akhirnya memberi perintah yang membuat suara kelas sedikit riuh dengan keluh kesah para murid di dalamnya.
"Ganteng sih ganteng tapi kalau kayak gini males juga," gerutu seorang santri yang hanya bisa di dengar santri lain yang ada di sebelahnya.
Berbeda dengan Desy yang langsung menundukkan kepala dan mulai fokus mendengar juga mencatat makna yang di bacakan oleh Huda, sekolah hari ini benar-benar terasa berbeda dari hari biasanya.
__ADS_1
Lain dengan apa yang di alami Desy, Arum justru merasa jauh lebih bahagia dan semangat karena Hasan memberikan materi yang sangat mudah di pahami juga hadiah yang membuat senyum Arum langsung mengembang.
"Ternyata kamu cepat juga bisa memahami apa yang Aku ajarkan," puji Hasan setelah melihat jawaban yang tertulis di lembar soal yang di berikan oleh Hasan.
Hari ini Hasan sengaja memberikan beberapa soal dadakan pada Arum, selain ingin mengetes seberapa faham Arum menyerap pelajaran yang di sampaikan olehnya, Hasan juga bermaksud mencari tahu seberapa cerdas calon istrinya itu.
"Arum di lawan," sahut Arum bangga.
"Sekarang mana hadiahnya?" Arum menengadahkan tangan meminta hadiah yang sudah di janjikan oleh Hasan.
Sebelumnya Hasan berjanji untuk memberi hadiah pada Arum jika dia bisa menjawab semua soal yang di berikan oleh Hasan.
"Tunggu di sini!" titah Hasan yang kemudian berdiri berjalan keluar ruangan menuju tempat sekretarisnya berada dan meminta satu paper bag berisi hadiah yang akan di berikan pada Arum.
"Ini untukmu, bukalah!" Hasan memberikan satu paperbag ke arah Arum yang sedang duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Wahhh beneran ada hadiahnya, kalau kayak gini di kasih soal tiap hari Aku juga mau," ucap Arum sambil meraih paperbag yang sudah ada di hadapannya.
"Apa kamu suka hadiahnya?" tanya Hasan yang ikut merasa bahagia melihat wajah Arum yang berbinar setelah melihat kripik tempe di hadapannya.
"Banget, makasih ya Kak," ucap Arum dengan senyum yang membuat Arum semakin terlihat cantik mempesona.
'Ya Allah cantik banget, andai sudah halal bakal langsung ku peluk ni anak,' batin Hasan.
"Kak, Kakak?" Arum yang melihat Hasan terdiam mematung sambil menatap ke arahnya kini memanggil dan mencoba menyadarkannya.
"Eh, sorry," ujar Hasan sesaat setelah sadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Kakak ngelamun ya?" tanya Arum setelah Hasan sadar dari lamunannya.
"Enggak," jawab Hasan berbohong, dia merasa malu untuk mengakuinya.
Arum yang mendengar jawaban Hasan hanya bisa tersenyum dan mulai memakan kripik tempe yang sejak tadi melambai untuk di makan.
"Emmm, kripiknya enak banget Kak," ucap Arum sambil mengunyah kripik yang sudah di buka.
"Kalau enak habisin! Aku mau lanjut nyelesaiin pekerjaan dulu." Ucap Hasan hendak berdiri meninggalkan Arum tapi langkahnya terhenti setelah mendengar Arum memanghilnya.
"Kak Hasan tunggu!" cegah Arum saat melihat Hasan hendak pergi meninggalkan Arum.
"Ada apa Sayang?" tanya Hasan sambil melihat ke arah Arum.
"Kalau Kakak langsung kerja lagi Aku siapa yang nganterin?" Arum yang biasanya langsung di antar pulang oleh Hasan atau terkadang supirnya itu kini merasa bingung dengan sikap yang di tunjukkan oleh Hasan padamya.
"Kamu duduk yang anteng di situ dan habiskan kripiknya." Jawab Hasan sembari meneruskan jalan menuju meja tempatnya bekerja.
Arum tak bisa menolak ataupun protes dengan sikap dan perintah yang di tunjukkan padanya, selain karena Arum tadi tidak bawa uang untuk pulang dia juga tak ingin jalan kaki karenanya.
Awalnya semua baik-baik saja hingga beberapa menit kemudian rasa bosan mulai hinggap mengusik Arum yang sudah menghabiskan dua bungkus kripik tempe di tangannya.
"Kak," panggil Arum membuyarkan konsentrasi Hasan.
"Ada apa?" sahut Hasan.
"Aku bosan, apa boleh Aku pinjam sesuatu yang bisa menghiburku?" tanya Arum.
__ADS_1
"Ikut Aku!" Hasan berdiri dan berjalan sambil memberi kode pada Arum agar dia mengikuti langkahnya.
"Ini ruangan pribadiku, di meja ujung sana ada laptop dan kamu bisa gunakan untuk apa saja, di sana ada TV dan semua yang kamu butuhkan, terserah kamu pakai untuk apa saja nanti kalau pekerjaanku selesai Aku akan kembali dan kita bisa pulang." Ucap Hasan kemudian melenggang pergi meninggalkan Arum sendiri di ruangan yang memiliki lumayan benda yang cukup menghibur bagi Arum.