
"Assalamualaikum, Bibik!" panggil Hasan saat masuk ke dalam rumah.
Setelah persiapan panjang akhirnya Husein dan keluarganya sampai di rumah yang akan di tempati oleh sepasang pengantin baru itu. Rumah berlantai dua yang terlihat begitu mewah dan luas dengan gerbang cukup tinggi menjulang di depannya, begitu juga dengan halaman yang ada di depan rumah membuat kesan luas semakin tercipta.
"Den Hasan sudah datang, maaf Den Bibik tidak menyambut atau membukakan pintu," sahut seorang wanita paruh baya, berusia empat puluh lima tahun berjalan menghampiri Husein.
"Tidak apa-apa Bik," jawab Husein dengan senyum ramahnya.
"Tadi Bibik ada di kamar mandi makanya gak tahu kalau Aden sudah datang." Jelas Bibik.
"Tidak masalah Bik, lagi pula tadi aku masuk juga gak bunyiin bel." Husein tak memarahi sang asisten karena tadi dia juga tak membunyikan bel. Husein punya kunci cadangan yang biasa dia gunakan kapan saja.
"Ini Neng Zahra ya Den?" tanya Bibik saat melihat satu anghota baru yang belum di kenalnya.
"Iya Bik, Zahra kenalin ini Bik Sumik yang biasa mengurus rumah kita, dan Bik Sumik akan stay dari pagi sampai sore saja untuk bantu dan nemenin kamu selama aku kerja." Husein mengenalkan Bik Sumik sang asisten yang akan menemani Zahra.
"Zahra, Bik," sahut Zahra memperkenalkan diri dengan senyum ramah yang terlihat di wajahnya.
"Siang, Bibik," sapa Arum yang baru saja masuk dengan satu kardus di tangannya.
__ADS_1
"Siang, Neng," sahut Bibik.
"Bik, tolong ambilkan kardus di bagasi ya, bawakan ke sini." Pinta Hasan yang juga membawa kardus di tangannya.
"Baik, Mas Hasan," jawab Bibik melangkah pergi keluar rumah untuk mengambil kardus yang di minta Hasan.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu menemukan gadis yang selama ini kamu cari, semoga pernikahan kalian bisa langgeng sampai mau memisahkan," do'a Umik terdengar begitu menyejukkan hati siapapun yamg mendengarnya.
"Amin," sahut semua keluarga yang kini sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Zahra, aku bawa banyak barang untukmu, bagaimana kalau kita menatanya?" celetuk Arum saat Bibik sudah selesai memasukkan kardus-kardus yang ada di bagasi.
"Iya, aku dan Kak Hasan sengaja belanja semua ini untuk kalian," jawab Arum.
"Wah banyak banget Kak, tumben Kak Hasan mau repot-repot beliin barang," cicit Husein.
Hasan terkenal malas untuk belanja barang sendiri, biasanya dia akan memesan online atau membelikan barang lewat aplikasi dan mengirimnya langsung ke Husein.
"Tadi aku sedikit maksa Kakakmu Husein, makanya dia mau," jawab Arum, sedang Hasan yang di tanya hanya diam.
__ADS_1
Umik tersenyum lucu melihat percakapan angkrab kedua putera dan menantunya itu, Husein memang mirip sekali dengan dirinya dan Arif sang Kakak, sedang Hasan begitu mirip sang suami, bahkan saat berkumpul seperti ini Ilzham hanya diam memperhatikan tanpa berkomentar.
"Kak, Arum," panggil Zahra mencoba mengalihkan perhatian Arum yang asyik mengobrol dengan Husein.
"Iya, kenapa Zahra?" sahut Arum mengalihkan perhatiannya melihat ke arah Zahra duduk.
"Bagaimana kalau Kakak menginap saja malam ini?" usul Zahra.
"Kalau aku terserah Kak Hasan saja, kalau dia mau aku juga mau," jawaban Arum membuat Hasan berada di posisi yang membingungkan.
"Abi dan Umik juga menginap di sini ya," Zahra juga meminta kedua mertuanya untuk menginap.
"Tidak bisa, kalau kami menginap pesantren tidak ada yang jaga," jawsb Abi Ilzham, sejak tadi dia hanya diam tapi mendengar menantunya meminta dirinya dan sang istri menginap Ilzham langsung menjawab tanpa bertanya ataupun memberi kesempatan pada Umik untuk menjawab.
"Baiklah, tidak apa-apa, tapi Kak Arum jadi nginep, Kan?" Zahra kembali bertanya pada Arum yang sejak tadi belum memberi jawaban.
"Sekali-sekali nginep di sini Kak, kuta barbeque bakar-bakar kayak dulu," Husein yang melihat sang istri begitu kekeh ingin sang kakak ipar menginap berusaha membujuk Hasan agar setuju untuk menginap.
"Baiklah, kita menginap di sini nanti malam," Hasan yang terdiam akhirnya buka suara, dia mengabulkan apa yang minta oleh istri sang Adik.
__ADS_1