
Husein duduk bersandar di sofa ruang keluarga setelah merasa lelah telah berkeliling ke selurih penjuru ruangan untuk mencari keberadaan Zahra. Husein memejamkan mata menikmati setiap rasa yang bercampur aduk dalam dadanya. Hingga satu nama terlintas di benaknya, tanpa banyak berfikir lagi Husein berjalan menuju kamar mencari benda pipih yang sejak pagi dia abaikan karena terlalu fokus menatap laptopnya.
"Ke mana ponselku?" gumam Husein sambil terus mencari benda pipih ajaib yang biasanya selalu dia simpan di atas nakas, tapi kali ini benda itu tak ada di sana.
Husein terus saja mencari di setiap sudut yang ada di ruangan itu hingga suara nada dering ponselnya terdengar meski samar tapi hal itu bisa membantu dia menemukannya.
"Nah, akhirnya ketemu juga," seru Husein setelah menemukan ponselnya di bawah bantal yang dia gunakan untuk tidur semalam.
Ponsel Husein masih berdering, tertera di layar ponselnya nama Zein sang Kakak Ipar.
"Kebetulan dia telfon, waktunya memang tepat," lirih Husein dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Sejak tadi, Zahra sudah mencoba menghubungi Husein, tapi Husein tak mengangkat panggilannya hingga membuat Zein sedikit marah pasa Zahra, dia mengira Husein marah karena Zahra pergi tanpa pamit.
"Bagaimana? apa dia mengangkat panggilan dariku?" tanya Zein dengan ekspresi wajah khawatir yang terlihat jelas di wajahnya.
"Belum, Kak," jawab Zahra kembali menelfon Husein.
"Hallo, Assalamualaikum," ujar Zahra yang mendengar panggilan ponselnya di angkat oleh Husein.
"waalaikum salam, apa ini kamu Zahra?" nada sahutan dari sebrang terdengar begitu jelas jika saat ini Husein sedang panim dan khawatir.
"Iya, ini aku, Mas," jawab Zahra.
"Syukurlah, jika ini kamu, apa kamu sedang bersama Kak Zein?" Husein kembali bertanya.
Apa yang di tanyakan Husein sukses membuat Zein mengernyitkan dahi bingung, mendengar nada khawatir dan panik yang terdengar jelas dari nada bicara Husein membuat Zein heran.
"Iya, ku sedang bersama Kakak sekarang," jawab Zahra.
"Kamu ada di mana?" Husein terus saja bertanya.
"Aku tadi sudah chat dan telfon kamu, Mas, tapi tak ada sahutan, apa Kamu masih belum membacanya?" Zahra menjelaskan apa yang sudah di lakukannya tadi.
__ADS_1
"Ponselku ada di kamar, sejak tadi aku nyariin kamu ke setiap ruangan. Tapi kamu gak ada, kamu ke mana? kenapa tidak izin padaku?" deretan pertanyaan keluar dari mulut Husein membuat Zein semakin terkejut dan geram dengan sikap sang Adik yang sudah keterlaluan.
"Aku pergi bareng Kak Zein ke pantai, Mas," jawab Zahra dengan ekspresi menyesal yang terlihat begitu jelas.
"Pantai mana? kenapa tidak izin dulu padaku?" sarkas Husein.
"Maaf, Mas, tadi aku terbawa emosi dan menghubungi Kak Zein memintanya untuk mengantarku ke pantai tanpa izin dulu padamu," ucap Zahra dengan nada bicara penuh penyesalan.
"Share lock di mana kamu sekarang! jangan ke mana-mana tunggu aku di sana!" titah Husein tegas tak terbantahkan.
"Baik, Mas," jawab Zahra tanpa bisa melawan atau mendebatnya.
Zahra menelfon dengan suara yang di keraskan, hingga percakapannya terdengar jelas oleh Zein yang duduk tepat di sampingnya. Tanpa basa basi Zein langsung menepikan mobilnya sambil menoleh ke arah Zahra dengan tatapan mengintimidasi memberi isyarat jika Zahra harus segera melakukan apa yang di minta oleh Husein.
"Sudah?" tanya Zein saat melihat sang Adik menaruh kembali ponsel sang Kakak di dashboard mobil di mana asal ponsel itu sebelum dia gunakan.
"Sudah Kakak, aku sudah mengirim lokasi kita dan ke mana tujuan kita saat ini." Jawab Zahra.
"Kak," rengek Zahra.
"Hm," sahut Zein singkat.
"Aku laper," keluh Zahra dengan ekspresi wajah memelas.
Zein yang sejak tadi memejamkan mata sambil bersandar di jok mobil kini mulai membuka mata dan menoleh ke arah Zahra.
"Tunggu di sini!" titah Zein.
Zein keluar dari mobil menuju jok bagian belakang. Mengambil satu kotak bekal makan yang tergeletak di jok belakang mobil.
"Makanlah!" titah Zein sambil menyerahkan kotak bekal makanan berwarna hijau tua ke arah Zahra.
"Ini kotak bekal makan milik siapa, Kak?" tanya Zahra heran melihat sang Kakak yang membawa bekal makanan, karena tak biasanya sang Kakak mau membawa kotak seperti yang ada di tangan Zahra saat ini.
__ADS_1
"Sudah makan saja! jangan banyak tanya!" sahut Zein yang kembali menyandarkan punggungnya ke jok mobil dan memejamkan mata.
"Katakan dulu! ini dari siapa, Kak?" Zahra masih saja terus bertanya karena tak mendapat jawaban dari sang Kakak.
"Jangan bilang ini dari pacar Kakak!" sambung Zahra sambil menebak asal kotak bekal makanan yang kini ada di tangannya.
"Kalau Iya, memangnya kenapa sih, Dek?" sahut Zein sedikit jengkel mendengar sang Adik yang terus saja bertanya.
"Ogah, aku gak mau ya makan makanan dari pacar Kakak, entar kalau ada jambi-jambinya bagaimana?" ujar Zahra membuat Zein heran dengan pemikiran sang Adik.
"Dek, kamu jangan ngada-ngada ya! zaman modern seperti sekarang kamu masih bahas masalah jambi-jambi, yang bener aja kamu," ujar Zein sambil geleng-geleng kepala tak percaya dengan ucapan Zahra.
"Kak, hal mistis kayak gitu masih ada loh, dan aku gak mau makan makanan ini titik," Zahra meletakkan kotak bekal makanan yang tadi di berikan oleh Zein di pangkuan Zein.
"Astaga, Adek gue satu ini kenapa sekarang makin nyusahin sih," keluh Zein.
"Kalau kamu gak mau makan ini, terus kamu mau makan apa?" sambung Zein menekan segala amarah yang mulai tersulut dengan tingkah sang Adik.
"Aku mau makan roti yang biasa di jual di alf***rt." Tegas Zahra.
"Zahra yang cantik jelita tiada tara, kamu bisa lihat Kan, kita sedang ada di mana?" sahut Zein yang kini benar-benar emosi menghadapi sang Adik, sedang Zahra yang mendengar ucapan Zein kini mulai memperhatikan sekitar. Saat ini keduanya berada di jalan yang di kelilingi pohon rindang karena jarak tempat mereka ke pantai sudah dekat maka sangat mustahil jika ada alf***rt di sana.
"Tapi aku ingin makan roti itu, Kak," Zahra kembali merengek.
"Pantas saja Husein kelimpungan, Adek gue kayak gini," lirih Zein dengan suara pelan yang terdengar samar di telinga Zahra
"Kakak ngomong apa barusan?" tanya Zahra yang mendengar suara Husein yang tak jelas.
"Gak ada, bagaimana kalau Kakak chat Husein saja dan meminta dia mencarikannya untukmu. Dan untuk sementara kamu makan aja camilan yang Kakak bawa sebagai pengganjal perut," Zein memberi solusi untuk Zahra.
"Baiklah, Kak, dari pada aku hatus makan makanan dari pacar Kakak mending aku makan camilan saja," sahut Zahra menyetujui saran Zein.
Untung saja Zein selalu menyediakan makanan ringan dan minuman di mobilnya, jadi dia bisa selamat dari permintaan Zahra yang sungguh merepotkannya.
__ADS_1