
Fia bernafas lega setelah kepergian Arif, bukan karena dia masih mencintai Arif tapi mengingat semua yang pernah terjadi padanya dulu cukup membuat Fia merasa bersalah hingga sekarang.
Karena keegoisan dan kata-kata tajam orang tuanya, keduanya harus putus dan Arif harus pergi dengan sejuta rasa kecewa yang tersemat dalam hatinya.
"ayo Bunda!" ajak Arum menggenggam erat tangan sang bunda.
Masa lalu tetaplah masa lalu, tak akan ada yang berubah ataupun berpindah. Biarlah menjadi sebuah kenangan yang akan terus terkenang dalam hati masing-masing tanpa harus di bahas ataupun di ulang.
Arif kini telah bahagia bersama istrinya begitu pula dengan Fia yang sudah mendapatkan cinta dari sang suami. Semuanya sudah berada di tempatnya masing-masing dengan cinta mereka.
Mobil Fia kembali melaju menuju rumah orang tuanya, meski dulu dia sempat begitu kecewa dengan keegoisan orang tuanya yang mengakibatkan putusnya hubungan Fia dan Arif, tapi sedikit pun Fia tak memiliki dendam pada keduanya.
"Bunda are you okey?" pertanyaan yang sama kembali terucap dari bibir Arum saat melihat sang bunda bersikap berbeda, dia hanya diam menatap lurus ke depan.
"Eh, Bunda gak apa-apa Sayang," jawab Sang Bunda.
"Arum," sambung Fia menatap lurus ke arah Arum.
"Iya, Bunda," sahut Arum.
"Apa kamu merasa keberatan atau terpaksa saat bunda menyuruhmu menikah dengan Hasan?" sungguh pertanyaan yang tak terduga keluar dari bibir Bunda Arum.
Arum sejenak terdiam dan terkejut mendengar pertanyaan yang sungguh mengejutkannya, bagi Arum menerima permintaan orang tua adalah hal yang wajib dia terima karena bagaimana juga orang tua adalah irang yang tidak akan pernah memilih hal yang buruk untuk anaknya.
"Bunda, Arum tidak pernah merasa seperti itu. Jadi Bunda tidak perlu khawatir karena Arum menerima semua keputusan Bunda dengan senang hati," Arum yang tak ingin melukai perasaan sang Bunda hanya bisa berbohong, meski hatinya kini tengah bimbang dan gundah tapu Arum tak bisa mengungkapkannya.
"Alhamdulillah jika memang seperti itu, Bubda bahagia mendengarnya," jawaban Arum benar-benar membuat hati Fia begitu bahagia dan lega.
Mobil terus melaju membelah jalanan yang pagi ini lumayan sepi tak padat seperti biasanya.
Di belahan dunia yang lain ....
__ADS_1
Huda sudah siap dengan satu koper penuh baju dan beberapa oleh-oleh yang akan dia berikan pada sang Kakak dan kedua orang tuanya, rindu yang terpendam selama berbulan-bulan akhirnya akan terpuaskan dengan pertemuan yang akan segera terjadi.
Huda sungguh tak menyangka jika dirinya di pilih untuk menjadi salah satu mahasiswa yang bertukar tempat belajar sementara waktu dan beruntungnya lagi Huda akan belajar di tempat sang tante, tepatnya bertukar tempat belajar di pesantren milik adik Ayahnya.
Dengan langkah pasti dan senyuman yang tak pernah luntur Huda berjalan menuju bandara dan menempuh perjalanan berjam-jam untuk kembali ke tanah air yang sudah berbulan-bulan dia tinggalkan.
Senyum masih terlihat di wajah Huda hingga dia sampai di bandara indonesia, koper yang dia seret semakin kencang menggelinding seiring dengan langkahnya yang bertambah cepat.
"Ayah, Ibu!!" panggil Huda melepas koper yang tadi dia pegang, kemudian menyalami dan mencium punggung kedua orang tu yang sudah lama dia rindukan.
"Kamu terlihat semakin tampan Nak." Suara lembut sang Ibu kembali terdengar jelas di telinga Huda, menimbulkan senyum yang terlihat semakin merekah.
"Ibu juga terlihat semakin muda dan cantik," sahut Huda sambil memeluk sang Ibu dengan perasaan bahagia yang membuncah.
"Kakak ke mana Bu?" tanya Huda yang sejak tadi celingukan mencari keberadaan sang Kakak.
"Kakakmu sedang sibuk ngurusi acar ulang tahun keysa," jawab Ibu Huda.
Keysa adalah keponakan Huda anak dari Kakak perempuannya, ketiganya berjalan menuju mobil dan kembali pulang ke rumah.
"Iya Nak, tadi Ibu sama Ayah membelikannya untukmu." Jawab Ibu Huda.
Sungguh tidak ada hal yang paling indah dan membahagiakan selain sat kita bersama dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai.
Bagi Huda pulang ke tanah air adalah hal yang paling membahagiakan berkumpul bersama keluarga dan yang paling membuat dia bahagia adalah kesempatannya untuk bertemu dengan Arum semakin terbuka lebar.
"Assalamualaikum, Sayang,"
Satu pesan chat berhasil Huda kirim, sudah beberapa bulan ini Huda sama sekali tak bisa menghubungi Arum sang pujaan hati.
Rasa rindu yang terpendam seolah semakin menyesakkan dada, Huda yang begitu mencintai Arum tak lagi bisa menahan diri untuk tidak menghubungi dan berusaha mencari di mana Arum berada, kekasih yang sudah lama menguasai hatinya.
__ADS_1
******
Siang telah berlalu cahaya mentari kini tak terlihat lagi, yang ada hanya gelap bercahayakan lampu juga bintang-bintang di langit, entah mengapa malam ini bulan tak nampak.
Arum hanya bisa diam menatap langit, setelah melihat sebuah notif di ponselnya, rasanya begitu berat untuk mengabaikan laki-laki yangs udah begitu baik padanya. Tapi akan semakin berat dan menyakitkan jika Arum harus tetap diam dan berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Bagaimanapun keadaan atau hasilnya nanti, Arum harus tetap berkata jujur dan mengungkapkan segalanya. Agar tak lagi ada hati yang tersakiti oleh keputusan yang akan dia ambil.
"Waalaikum salam,"
Balas Arum singkat, tak ada lagi kata manis yang biasa Arum ketik untuk membalas panggilan Sayang yang di berikan oleh Huda.
Sesaat setelah balasan pesan sukses di kirim, ponsel Arum langsung berbunyi memperlihatkan nama Sayang di layar ponselnya, dulu Huda sendirilah yang memberi nama Sayang untuk menyimpan nomernya di ponsel Arum.
" Assalamualaikum Sayang, bagaimana kabarmu?"
Pertanyaan pertama terdengar begitu lembut penuh rindu.
"Waalaikum salam, alhamdulillah kabarku baik,"
Arum kembali bersikap dingin sambil berusaha mengumpulkan keberanian untuk memutuskan hubungannya dengan Huda.
"Sayang, Aku rindu sekali padamu. Kapan kita bisa bertemu?"
Suara Huda kembali terdengar begitu lembut, menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.
"Maaf,"
Satu kata yang begitu sulit terucap dari bibir Arum, karena kata itu terucap bersamaan dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya. Meski Arum tak memiliki cinta untuk Huda, tapi kebaikan dan kelembutan yang selalu Huda beri mampu membuat hati Arum luluh dan merasa kasihan.
"Maaf untuk apa Sayang? apa ada sesuatu yang terjadi?"
__ADS_1
Keadaan Huda berbanding terbalik dengan Arum yang sedang mengumpulkan keberanian untuk memutuskan hubungan, Huda justru merasa semakin cemas dan bingung dengan satu kata berjuta makna yang terucap dari bibir Arum sang pujaan hati.
Arum masih saja terdiam tak bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Huda.