
Hasan tak menanggapi ucapan Arum, dia hanya diam dan langsung melangkah pergi masuk ke dalam rumah. Sungguh sikap Hasan membuat jantung Arum berdegub semakin kencang, rasa takut dan khawatir tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam hatinya, melihat sikap Hasan yang dingin seperti ini benar-benar berhasil membuat nyali Arum menciut.
Hasan duduk di sofa dan Arum juga Huda mengikuti apa yang Hasan lakukan, mereka berdua juga ikut duduk di sofa tak jauh dari tempat Hasan duduk, Arum benar-bensr merasa seperti seorang kekasih yang ketahuan selingkuh.
"Jelaskan!" ucap Hasan dengan tatapan dingin mematikan, ruangan yang sebenarnya bersuhu sejuk tiba-tiba menjadi dingin melihat tatapan Hasan.
Tatapan tajam mematikan seperti tatapan seekor harimau yang menemukan musuhnya sungguh memyeramkan.
"A~Aku akan menjelaskan semu~semuanya," ucap Arum terbata-bata, dia begitu gugup dan takut melihat tatapan Hasan.
"Jangan salah faham Dek!" Huda yang mengerti keadaan Arum menyela.
Hasan yang mendengar ucapan Huda langsung menoleh ke arahnya.
"Aku dan Arum memang pernah punya hubungan, tapi itu dulu sebelum Arum masuk ke pesantren ini. Dan kamu tenang saja hubungan kita sudah berakhir karena Arum lebih memilih kamu," Huda menjelaskan semuanya meski ada sedikit kebohongan yang terselip di dalamnya, tapi Huda tetap mengatakannya agar tak ada yang terluka, dan hubungan keduanya akan baik-baik saja.
"Kenapa waktu itu kamu bohong padaku Arum?" Hasan melempar pertanyaan yang terasa seperti bom atom dalam diri Arum.
"Bohong tentang apa Kak?" tanya Arum yang tak mengerti ke mana arah pembicaraan Hasan.
"Kalian tak pernah bertemu sebelumnya," jawab singkat Hasan mengingatkan kebohongan yang telah Arum lakukan.
__ADS_1
Seketika Arum menundukkan kepalaengingat jika dirinya pernah berbohong dan tak mengaku jika mengenal atau bertemu Huda di Australia.
"Maaf Kak, Aku tak bermaksud membohongimu. Aku hanya takut jika kamu akan marah dan membatalkan rencana pernikahan ini jika kamu tahu yang sebenarnya," kali ini Arum berkata jujur, meski masih tak ada cinta dalam hati Arum untuk Hasan tapi dia tak mau mengecewakan Bundanya yang terlihat begitu bahagia dengan rencana pernikahan yang sudah di rencanakan.
Hasan kembali diam tanpa suara membuat nyali Arum semakin ciut, Arum hanya bisa menundukkan kepala mengalihkan pandangannya dari tatapan mematikan Hasan.
"Kak Huda, kamu boleh kembali ke kelas. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan pada Arum," ucap Hasan dengan nada dan tatapan yang masih dingin sedingin salju.
Arum yang mendengar ucapan Hasan semakin di buat takut, untuk apa Hasan menyuruh Huda pergi dan membiarkan dia sendiri di ruang tamu bersama Hasan yang terlihat masih marah.
"Baiklah, Aku pergi dulu!" pamit Huda melenggang pergi meninggalkan Aku dan Hasan yang masih setia duduk di tempat.
"Apa ini Kak?" tanya Arum menatap ragu tumpukan map dan foto yang kini sudah mendarat sempurna di atas meja.
"Tanda tangani berkas itu dan pilih baju mana yang kamu suka!" titah Hasan dengan nada dingin dan tatapan tajam.
Sungguh Arum lebih suka di omeli seperti Bundanya yang sering mengomel saat dia telat bangun pagi dan melewatkan waktu sholat subuh dari pada harus berhadapan dengan Hasan yang diam dengan tatapan mengerikan di hadapannya itu.
"Berkas apa ini Kak?" tanyaku yang tak mengerti untuk apa Arum tanda tangan semuanya.
"Berkas pengajuan pernikahan ke KUA," lagi-lagi jawaban Hasan tak semanis dan selembut biasanya, Arum mulai mempelajari apa yang sedang di rasakan oleh Hasan.
__ADS_1
Dengan langkah mantap Arum menandatangani berkas yang di berikan oleh Hasan tanpa membacanya.
"Apa benar Aku harus tanda tangan di sini? dan di sini?" tanya Arum memastikan kembali di mana dia harus membubuhkan tanda tangannya.
"Hm," jawaban singkat Hasan terdengar sedikit menyakitkan hati,entah mengapa melihat Hasan yang bersikap dingin membuat sudut hati Arum sedikit berdenyut, mungkin saja Arum sudah terbiasa mendapat perlakuan yang lembut dari Hasan kini harus di hadapkan dengan Hasan yang dingin juga terkesan cuek.
Setelah berdehem Hasan tak lagi menghiraukan keberadaan Arum dia malah sibuk memainkan ponsel yang sekarang ada di tangannya, padahal sejak awal bertemu Hasan jarang sekali memainkan ponsel saat bersama dengan Arum.
"Ada sesuatu yang harus Aku lakukan, jadi pilih gaunnya besok saja. Maaf sebelumnya Aku permisi dulu Kak." Arum yang sudah tak tahan di cueki oleh Hasan akhirnya memilih berpamitan dan pergi.
Tak ada ceritanya sepasang calon pengantin harusnya memilih gaun pengantin bersama-sama bukannya diam dan menyerahkan semua pilihan kepada Arum, meski Arum tahu jika saat ini dialah yang salah tapi entah mengapa di cueki oleh Hasan membuatnya tak tahan dan ingin segera pergi menenangkan diri sebelum Arum ikut marah terpancing emosi oleh sikap Hasan.
Karenanya Arum memilih berpamitan dan melenggang pergi meninggalkan Hasan yang masih sibuk dengan ponselnya, Hasan sama sekali tak mencegah ataupun berkomentar mendengar Arum berpamitan, dia tetap fokus menatap layar di ponselnya.
Setelah melihat kepergian Arum Hasan yangs ejak tadi menahan diri langsung melempar ponselnya ke sofa samping tempat dia duduk, sungguh amarahnya saat ini telah memuncak ingin rasanya dia memberi hukuman yang akan membuat Arum terus mengingatnya dan melupakan Huda, tapi Hasan tak bisa berbuat apa-apa selain saat ini Arum belum sah menjadi istrinya rasa cinta dan sayang yang ada di dalam hatinya begitu dalam hingga dia tak mampu menyakiti hati maupun diri Arum.
"Akhhhh, kenapa harus Huda Arum? kenapa bukan orang lain? apa kamu kamu masih mencintainya dan bagaimana hubungan kalian dulu?" Hasan begitu frustasi mengingat jika Huda pernah memiliki hubungan dengan Arum, bagaimana tidak frustasi jika mantan dari istrimu itu Kakak sepupumu sendiri. Sungguh hidup ini begitu rumit dan menyakitkan.
Hasan terdiam menatap berkas-berkas yang telah di tanda tangani oleh Arum, fikirannya melayang jauh mengingat semua yang telah terjadi, entah apa yang harus Hasan lakukan saat ini diapun bingung. Hasan yang merasa telah lelah merebahkan diri menyandar di sofa dan menutup mata dengan lengannya berusaha mengontrol perasaan yang sedang berkecambuk dalam dirinya.
Andai dia tahu sejak awal mungkin dia akan mengalah dan mengikhlaskan Arum untuk Huda yang notabennya Kakak sepupunya sendiri, dan akan berusaha melupakan Arum. Semua itu dia fikirkan bukan karena cintanya tak dalam tapi Hasan melihat dengan jelas sorot mata penuh cinta yang bercampur kecewa di mata Huda yang terlihat begitu dalam membuat Hasan tak tega, Tapi semua yang terjadi membuat Hasan tak bisa mundur karena kedua keluarga telah setuju dan tanggal pernikahan sudah di tentukan apalagi acara pertunangan sudah di laksanakan.
__ADS_1