Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Serangan Dari Ikan Mujaer


__ADS_3

Malam ini terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya, menghabiskan malam bersama sahabat di pesantren memang hal yang menyenangkan, malam yang sunyi berubah jadi ramai dengan canda dan tawa mereka.


Malam penuh warnapun telah berlalu berganti pagi yang terlihat begitu cerah di hiasi kicauan burung yang ada di sebrang pesantren.


Jika semua santri sedang sibuk kerja bakti membersihkan pesantren, maka berbeda dengan Arum yang kini justru sibuk membantu Umik dan Hana memasak di dapur, tadi pagi setelah sholat subuh Umik memanghil Arum untuk membantunya memasak di dapur dan Ar yang mendapat panggilan dari Umik yang saat ini statusnya sudah menjadi calon mertua sekaligys gurunya hanya bisa mengiyakan tanpa bisa menolak.


"Mbak Arum, tolong bantu mengupas sayur saja! biar saya yang menggoreng ikannya." Ucap Hana sambil mengambil alih sepatula yang ada di tangan Arum dan sedetik kemudian sebuah letupan berhasil membuka suara Arum.


"Astaghfirullah!" teriak Arum yang mendapat serangan dari ikan mujaer yang di gorengnya.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Hasan yang kebetulan baru saja masuk ke dalam dapur, Hasan yang batu melangkahkan kaki di dapur reflek langsung berlari ke arah Arum yang berteriak.


"Mbak ini sepatulanya." Arum yang merasa tangannya sedikit panas karena letupan minyakpun langsung memberikannya pada Hana.


"Aku tidak apa-apa Kak," jawab Arum.


"Duduklah dulu! tanganmu melepuh," ucap Hasan berjalan menuju kursi tempat makan dan menggesernya agar Arum bisa duduk di sana.


"Tidak apa-apa Kak, ini hanya luka kecil saja tidak masalah," sahut Arum yang merasa jika luka yang ada di tangannya memang hanya luka kecil.


"Kecil atau besar kalau luka tetap saja luka, jadi diamlah biar aku ambilkan obat." Ujar Hasan berjalan menuju tempat p3k yang tersimpan tidak jauh dari tempat Arum duduk.


Arum yang melihat sikap berlebihan Hasan hanya bisa menggelengkan kepala heran, Hasan terlihat begitu khawatir dengan luka yang di dapat Arum membuat Arum merasa bersyukur karena calon suaminya begitu menyayanginya.


Dengan wajah penuh kekhawatiran Hasan membawa kotak obat dan perlahan mulai mengobati tangan Arum yang terluka.


"Tunggu!" cegah Arum menghentikan pergerakan tangan Hasan yang akan menyentuh tangan Arum yang terluka.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Hasan yang bingung dengan ucapan Arum yang mencegahnya untuk mengobati luka yang sekarang ada di tangannya.


"Bukan muhrim Kak, biar Aku obati tanganku sendiri." Jawab Arum dengan nada lembut dan senyum yang terlihat begitu manis.


"Astaghfirullah Aku lupa, tapi bukankah dala keadaan darurat seseorang yang bukan muhrim bisa saling bersentuhan dengan tujuan mengobati," Hasan yang mengerti hukum dalam islam mulai memberi pengertian pada Arum.


"Sudahlah Kak, ini hanya luka kecil dan Aku bisa mengobati sendiri jadi tak ada alasan untuk kita saling bersentuhan," jelas Hasan.


"Maka izinkan Aku menjadikanmu seorang gadis yang halal untuk Aku sentuh agar Aku bisa menjaga juga mengobatimu saat kamu terluka." Ucapan Hasan sukses membuat Arum bengong dan terkejut.


"Hah," sahut Arum dengan wajah terkejutnya.


Sedangkan Hasan yang sudah mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya kini malah diam berpura-pura tak terjadi apapun, Hasan malah berdiri melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih duduk terdiam.


"Jangan terlalu di fikirkan! obati saja lukamu setelah itu kamu bisa istirahat di ruang keluarga. Jangan teruskan! biarkan Mbak Hana yang melanjutkan masaknya." Titah Hasan dengan wajah tegasnya dan mampu membuat Arum langsung tunduk setelah mendengarnya.


"Kak, jangan di lihat gitu!" ucap Arum yang merasa risih di tatap begitu intens oleh Hasan.


"Emang kenapa?" tanya Hasan tanpa ada rasa berdosa sedikitpun.


"Ishhh, sudahlah Aku pergi dulu." Arum yang tak ingin berdebat juga tak ingin terus di pandang langsung berdiri melenggang pergi meninggalkan Hasan yang masih setia diam di tempat.


"Kamu mau ke mana?" tanya Hasan hendak berdiri dan berniat mengikuti langkah Arum yang berjalan menjauh menuju ruang keluarga.


"Katanya di suruh istirahat," ujar Arum.


"Ohh," sahutan singkat yang terdengar di bibir Hasan membuat Arum memutar bola mata malas.

__ADS_1


"Kakak mau ke mana?" tanya Arum yang merasa bingung melihat Hasan berjalan hendak mengikutinya.


"Mau ke kamar, kenapa mau ikut?" jawab Hasan menghindari rasa malu yang akan dia rasakan jika Arum tahu kalau dia hendak berjalan mengikuti langkah Arum.


"Oh," kini giliran Arum yang ber 'o' ria setelah mendengar jawaban Hasan.


Setelah menjawab pertanyaan Arum, Hasan langsung berjalan mendahului Arum menuju kamarnya. Sedang Arum yang sudah terlanjur memilih untuk mengikuti titah Hasan langsung berjalan menuju ruang keluarga dan duduk di sofa yang ada si sana.


Ceklek,


Beberapa detik setelah Arum duduk terdengar suara pintu kamar terbuka membuat Arum yang sedang duduk reflek langsung menoleh ke asal suara.


"Ada apa Kak?" tanya Arum setelah melihat Hasan keluar dari pintu kamarnya.


"Masuk dan istirahatlah di dalam! nanti aku akan memberitahumu jika masakannya sudah siap." Ujar Hasan yang membuka lebar pintu kamar memberi kode agar Arum masuk dan beristirahat di sana.


Arum yang mendengar perintah Hasan hanya bisa pasrah dan masuk ke dalam kamar Hasan. Terlihat jelas jika Hasan memiliki kepribadian yang rajin dan disiplin setelah melihat betapa rapi da harumnya kamar Hasan.


Kamar bernuansa putih dan abu-abu dengan deretan kitab yang tersusun rapi di sisi kanan ranjang dan satu meja beserta kursinya berada di sebelahnya, kamarnya begitu bersih di tambah bau pengharum ruangan bercampur minyak wangi Hasan begitu memabukkan membuat Arum sedikit terlena setelah menghirupnya.


"Kamarnya nyaman juga," lirih Arum yang langsung merebahkan diri di atas kasur berukuran sedang yang ada di sana.


"Tidur di sini jauh lebih nyaman dari pada di asrama," gumam Arum membandingkan alas tidur yang ada di asrama dengan kasur empuk milik Hasan yang notabennya pemilik pesantren.


Perlahan tapi pasti rasa nyaman yang tiba-tiba timbul membuat Arum merasa ngantuk, dan benar saja satu menit setelahnya Arum benar-benar tertidur dengan begitu nyenyaknya karena sejak tidur di asrama rasa nyaman yang dia rasakan perlahan memudar dengan sendirinya.


Entah sudah berapa lama Arum tertidur pagi ini, tapi Arum tak pernah sedikitpun merasa risih atau khawatir, meski dia sudah tahu jika kamar yang dia tempati saat ini adalah kamar Hasan sang calon suami.

__ADS_1


Berbeda dengan Arum yang sedang tidur dengan nyenyaknya sangat berbeda dengan keadaan Hasan yang sedang menyangga dagu menatap ke arah kamarnya yang terlihat masih tertutup rapat.


__ADS_2