
Perjalanan menuju pasar tradisional memakan waktu cukup lama. Sekitar setengah jam perjalanan telah ketiganya lewati, tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka yang ada hanya keheningan.
"Kita sudah sampai, apa perlu aku ikut turun untuk membantumu?" tanya Huda yang tahu persis sifat tantenya yang tak lain adalah Umik.
Umik pasti akan membeli banyak sekali barang saat ada acara, mulai dari hal terpenting sampai sesuatu yang terkadang tak di butuhkan juga ikut dalam daftar belanjaannya.
"Tidak usah Mas Huda, biar aku sama Shinta saja," jawaban yang tak di harapkan olrh Huda terdengar di telinganya.
"Coba ku lihat daftar belanjaannya!" Huda yang sangat mengerti sifat Umik berinisiatif melihat list barang yang akan di beli oleh Desy. Dan benar saja list barang yang tertera di selembar kertas dari Umik memiliki deretan huruf yang sangat rapi dan berjejer dengan jumlah yang sangat banyak.
"Yakin bisa bawa sendiri semua belanjaan ini?" Huda menunjukkan kertas yang tadi dia pegang.
Melihat betapa banyaknya list belanjaan yang harus di beli olehnya, seketika ekspresi wajah Desy berubah menjadi ragu. Jika barang yang di beli tak terlalu berat mungkin Desy dan Shinta masih mampu membawanya. Berhubung Umik bukan cuma menulis daftar barang ringan tapi juga ada yang berat.
"Jika Mas Huda tidak keberatan atau kerepotan dengan senang hati kami mau di bantu," kali ini bukan Desy yang berbicara melainkan Shinta yang cukup terkejut melihat list belanjaan yang akan dia bawa, dengan adanya Huda barang bawaan mereka akan sedikit berkurang.
"Teman kamu saja setuju, bagaimana denganmu Desy?" tanya Huda.
"Kalau Mas Huda gak keberatan gak apa-apa," jawab Desy.
Shinta hanya tersenyum samar melihat interaksi kedua manusia di hadapannya itu, keduanya sama-sama terlihat saling tertarik tapi menutup diri.
'Duhh kenapa aku jadi pingin buat mereka berdua semakin dekat ya?' batin Shinta mulai mengeluarkan ide-ide gilanya.
"Kalau begitu ayo jalan!" ajak Huda.
Desy yang mendengar ajakan Huda langsung menggandeng tangan Shinta berjalan masuk ke dalam pasar tradisional, dan benar saja barang belanjaan Umik memang sangatlah banyak sekalipun sudah ada Shinta yang membantunya membawa tetap saja Desy kewalahan.
"Sini biar aku yang bawa!" Huda yang melihat Desy membawa dua kantong plastik berukuran sedang dan terlihat berat langsung mengambil alih kantong teraebut.
"Tapi nanti Mas Huda capek lagi, sudah tidak usah biar Desy saja yang bawa." Ujar Desy yang merasa sungkan pada Huda.
"Sudah jangan banyak protes! kamu beli saja sisa bahan yang di butuhkan!" sahut Huda merasa begitu malas untuk berdebat.
"Aku juga mau di bawaiin kayak Desy Mas Huda," celetuk Shinta.
Sejak tadi Shinta sudah lelah membawa dua kantong plastik besar di tangannya.
__ADS_1
"Desy!" suara panggilan Huda menghentikan langkah Desy.
"Ada apa Mas Huda?" sahut Desy seraya membalikkan badan menoleh ke arah Huda.
"Temanmu kelelahan, apa masih banyak barang yang belum di beli?" tanya Huda.
"Kita masih dapat setengah dari barang yang tercatat di kertas ini," jawaban Desy membuat Huda memutar mata malas, Umik masih saja sama seperti dulu selalu membeli begitu banyak barang.
'Astaghfirullah,' batin Desy berkeluh kesah setelah menyadari jika belanjasn yang dia beli baru dapat setengahnya.
"Bagaimana kalau kita istirahat saja sejenak, dan kita taruh dulu belanjaan ini di mobil." Usul Huda.
Desy yang mendengar usulan Huda hanya diam dan tak menjawab membuat Shinta yang memiliki sifat apa adanya juga spontan kembali menyela.
"Sudah jangan banyak berfikir tinggal jawab iya saja susah banget." Celetuk Shinta yang membuat huda tersenyum samar, Shinta memang ceplas ceplos dan sifatnya itu menguntungkan bagi Huda.
"Baiklah, ayo kita istirahat dulu." Desy yang mati gaya dan tak bisa menolak akhirnya menyetujui tawaran Huda untuk beristirahat.
Ketiganya berjalan menuju tempat parkir di mana Huda tadi memarkirkan mobilnya.
"Iya, ada apa Desy?" sahut Shinta yang langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar panggilan Desy, begitu juga dengan Huda yang ikut berhenti menoleh ke arah Desy.
"Sini aku bantu bawa barangnya!" Desy membawakan satu kantong plastik di tangan Shinta.
"Wahh makasih ya Desy," ucap Shinta yang langsung memberikan satu kantong plastik ke tangan Desy dengan senyum sumringahnya sedang Huda hanya tersenyum tipis melihat kebaikan yang di tunjukkan oleh Shinta.
"Hm, ayo jalan!" ajak Desy berjalan mengikuti langkah Huda menuju mobil. Semua barang belanjaan telah masuk ke dalam bagasi.
"Desy, apa kamu tidak lapar?" tanya Huda.
"Emm, tidak Mas Huda," jawab Desy.
Mulut Desy boleh berkilah tapi perut yang sejak pagi hanya terisi satu piring porsi kecil nasi ity tak lagi bisa berbohong.
Kruk ... kruk ... kruk ....
Suara perut Desy membuat Huda tersenyum, saat ini Huda ingin sekali tertawa melihat tingkah lucu Desy. Tapi akal sehatnya masih bisa mengontrol tawa yang bisa membuat Desy malu karenanya.
__ADS_1
"Ishhh, biar aku yang jawab. Jawabanmu selalu tak sesuai fakta," sela Shinta yang cukup greget melihat tingkah Desy.
"Bener itu, lebih baik kamu saja yang jawab." Sahut Huda merasa senang jika Shinta yang menjawab semua pertanyaannya.
"Mas Huda, tadi itu Desy sarapan sedikit karena dia sedang tak enak makan memikirkan seseorang yang entah juga memikirkannya atau malah sebaliknya. Jadi saat ini dia pasti sedang lapar." Shinta menjelaskan keadaan Desy yang sebenarnya.
"Kalau begitu ayo ikut aku!" ajak Huda tak ingin berlama-lama di parkiran yang cukup panas.
"Tunggu!" cegah Desy membuat Shinta dan Huda bibgung.
"Ada apa lagi?" tanya Huda yang mulai semakin gemas dengan tingkah Desy.
"Kita selesaikan dulu benlanjanya baru kita makan, Aku gak bisa tenang sebelum daftar barang di kertas ini terbeli semua." Jawaban Desy membuat Huda semakin tertarik padanya.
Siapa yang tak tertarik dengan pribadi Desy yang begitu baik? Desy benar-benar gadis dengan kesempurnaan delapan puluh persen, meski wajahnya tak terlalu cantik tapi hatinya begitu putih bersih seperti salju.
"Jangan khawatirkan belanjaan! kamu tunggu di sini dulu!" titah Huda sambil meraih ponsel di saku celananya.
Huda sedikit menjauh dari Desy dan Shinta untuk menelfon dan membucarakan sesuatu dengan seseorang di sana.
"Tunggu di sini sebentar setelah itu kita bisa cari makan dengan tenang!" titah Huda sesaat setelah selesai menelfon.
Ketiganya hanya duduk diam tak jauh dari mobil sampai seorang laki-laki berjas yang terlihat tampan dan mapan datang menghampiri ketiganya.
"Ada apa Tuan?" tanya Laki-laki itu.
"Tolong belikan semua barang yang ada di kertas ini tanpa tertinggal satupun. Kalau sudah selesai telfon dan tunggu Aku di sini!" Huda yang biasanya kalem san penuh dengan kelembutan kini terlihat begitu tegas tak terbantahkan, sungguh pemandangan yang jarang sekali di dapatkan oleh Desy dan Shinta.
"Baik, Tuan," jawab Laki-laki itu.
"Desy!" Huda beralih memanggil Desy yang terdiam mematung.
"Iya, Mas Huda," sahut Desy.
"Kertasnya berikan padaku!" titah huda sambil mengulurkan tangan meminta Desy menyerahkan kertasnya.
"Ini." Tanpa membantah lagi Desy memberikan catatan barang yang dia bawa.
__ADS_1