Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Aksi Husein


__ADS_3

"Apa yang di ucapkan Arum ada benarnya Dek, aku pergi ke kantor mengurus berkas-berkasnya dan kamu survei di lapangan, jadi kita bisa melakukannya dengan cepat," Hasan yang sejak tadi diam mulai mengutarakan pendapatnya.


"Baiklah, aku juga setuju, jadi besok kita berangkat bersama." Husein juga menyetujui apa yang di usulkan Arum setelah mendengar jawaban dari Hasan.


"Besok aku tunggu kamu di sini. Dan kita berangkat dari sini saja." Ujar Hasan.


"Oke besok pagi aku ke sini," jawab Husein setuju.


"Baiklah semuanya sudah sepakat, sekarang lebih baik kalian minum dan makan dulu hidangannya," sahut Arum.


"Ayo di minum Zahra!" sambung Arum.


Ketiganya larut dalam percakapan yang terlihat langsung akrab kecuali Zahra, yang terlihat lebih sedikit pendiam.


"Baiklah Kak, kita pulang dulu. Besok kuta balik lagi." Pamit Husein.


"Apa kamu sudah menemui Umik?" tanya Hasan.


"Sebelum ke sini aku ke rumah Umik dulu Kak, tadi juga sarapan di sana." Jawab Husein.


"Bagus, kalau begitu hati-hati kalau pulang." Ucap Hasan.


"Siap, Kak Arum kita pulang dulu." Husein juga berpamitan pada Arum.


"Iya, kamu hati-hati di jalan!" sahut Arum dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Kak pulang dulu ya." Kini giliran Zahra yang berpamitan.


"Hm? hati-hati ya, Dek!" kini suara Arum lebih lembut dari sebelumnya.


Husein dan Zahra pun pergi meninggalkan Hasan dan Arum yang kini kembali berjalan masuk ke dalam kamar melanjutkan berkemas untuk besok.


"Syei' pergi yuk!" ajak Hasan sesaat setelah keduanya selesai mengemas baju yang akan di bawa besok.


"Mau ke mana, Bi?" tanya Arum bingung dengan ajakan tiba-tiba Hasan.

__ADS_1


"Kita beli makanan dan beberapa barang buat bekal besok." Jawab Hasan.


"Tunggu sebentar Bi! aku ganti baju dulu." Pamit Arum.


"Aku tunggu di depan. Jangan lama-lama Syei'!" sahut Hasan melangkah pergi meninggalkan Arum yang mulai berdiri berjalan menuju ruang ganti dan mulai bersiap, sedang Hasan berjalan menuju halaman rumah menyiapkan mobil yang akan mereka gunakan.


Keduanya menempuh perjalan tak terlalu jauh dari halaman pesantren menuju supermarket yang menyediakan berbagai jenis makanan.


"Abi mau beli apa?" tanya Arum saat keduanya sudah berada di dalam supermarket.


Hasan tak menjawab pertanyaan Arum tapi malah menggenggam tangan Arum mengambil beberapa camilan dan minuman dalam kemasan. Memasukkan segala barang yang di butuhkan ke dalam trolly.


" Abi, apa ini tidak kebanyakan?" tanya Arum saat melihat trolly yang mereka dorong telah terisi penuh.


"Tidak, kita berangkat berempat Syei', jadi butuh banyak makanan." Tutur Hasan.


"Memangnya kita ke sana naik apa Bi?" Arum kembali bertanya saat melihat begitu banyak makanan, minuman dan barang yang mereka beli.


"Naik mobil," jawab Hasan santai.


"Kamu tenang saja, nanti kita bisa sekalian jalan-jalan di sana. Kalau naik kereta atau pesawat gak bakal seru Syei', lagi pula cuma butuh waktu sepuluh jam kok untuk sampai." Jelas Hasan pada Arum, penjelasan Hasan membuat Arum pasrah, dia hanya bisa diam tanpa bisa memprotes ataupun mendebatnya.


~


"Zahra!" panggil Husein.


"Iya, Mas," sahut Zahra.


"Apa semuanya sudah siap?" Husein kembali bertanya setelah melihat dua koper yang tergeletak di hadapannya sudah penuh dengan barang yang akan mereka bawa besok.


"Sudah, Mas," jawab Zahra.


"Kemarilah!" titah Husein yang kini dudukdi samping Husein.


Zahra yang mendapatkan perintah dari sang suami terlihat begitu bingung antara menuruti apa yang suaminya perintahkan atau tidak? karena saat ini jantungnya berpacu begitu kencang, rasa gugup dan sedikit takut mulai hinggap dalam dirinya, mengingat kemarin dia tertidur dan belum memberikan apa yangs seharusnya sudah dia berikan sejak kemarin.

__ADS_1


"Mendekatlah, Dek!, aku ingin mengobrol dan duduk dekat denganmu." Ujar Husein saat melihat ekspresi wajah Zahra.


"Maaf, Mas," lirih Zahra tapi masih bisa di dengar oleh Husein.


Zahra berjalan mendekat ke arah Husein dan duduk di sampingnya bersandar pada kepala ranjang.


"Maaf untuk apa?" tanya Husein merasa aneh dengan permintaan maaf yang keluar dari bibir sang istri.


"Maaf, semalam aku ketiduran,"jawaban Arum membuat senyum Husein terlihat.


"Tidak apa-apa, aku tahu kamu lelah," Husein tersenyum manis menanggapi ucapan maaf Husein.


"Kenapa kamu tidak membuka kerudung saat di kamar?" sambung Husein mulai melancarkan aksinya mengusap pelan kepala Zahra yang masih tertutup kerudung.


Zahra yang mendengar pertanyaan sang suami tak lagi menjawabnya, dia langsung membuka kerudung yang selalu menempel setiap hari di kepalanya, terlihat rambut Zahra yang begitu indah semakin membuat kecantikan Zahra terpancar.


Tanpa aba-aba Husein langsung menarik ikat rambut yang mengikat kepala rambut indah sang istri hingga membuatnya tergerai.


"Kamu terlihat semakin cantik denganrambut yang di gerai seperti ini, Dek," bisik Husein yang sukses membuat Zahra merasa tersengat listrik, tubuhnya tiba-tiba menegang dan kaku seperti batu, sedangkan Husein yang melihat reaksi Zahra semakin bersemangat untuk terus berusaha membuat Zahra terbawa oleh permainan yang dia mainkan.


Tangan Husein terus saja mengusap pelan kepala Zahra hingga kini usapan itu turun sampai ke punggung, gerakannya begitu lembu dan satu arah membuat Zahra merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Apa aku boleh memintanya sekarang?" Husein kembali berbisik di telinga Zahra dengan nada suara sensualnya membuat Zahra merinding.


Zahra tak lagi bisa menolak meski sebenarnya rasa takut dan gugup masih saja menggelayuti dirinya, cerita tentang malam pertama yang katanya sakit membuat Zahra sedikut merasa takut, tapi dia tak bisa menolak ataupun lari dari kamar saat ini, karena apa yang di minta oleh Husein. sudah menjadi haknya yang harus di penuhi oleh Zahra, dia hanya bisa mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Husein yang melihat respon Zahra langsung memamerkan deretan giginyayang putih seputih salju di hadapan Zahra, apa yang di inginkannya akhirnya tercapai, Husein tak ingin malam pertamanya terjadi di tempat lain selain di kamarnya yang akan mereka kenang sampai akhir hayat saat mereka tidur di malam hari. Meski Husein masih belum tahu akan membawa ke mana istrinya setelah berbulan madu tapi yang Husein tahu dengan pasti kamar yang saat ini mereka gunakan adalah kamar Zahra dan mereka akan terus mengingat malam ini setiap kali menginap di rumah Zahra.


"Aku mencintaimu Zahra," Husein kembali berbisik sambil menjilat dan menggigit kecil daun telinga Zahra.


Zahra yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menegang, tangannya mencengkram kuat seprei yang ada di bawahnya sambil menutup rapat matanya, Zahra benar-benar merasa tersengat listrik bertegangan tinggi karena Husein adalah laki-laki pertama yang menyentuhnya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut dan perlahan, jangan terlalu tegang! cukup nikmati saja apa yang akan aku berikan." Husein kembali berbisik.


Zahra hanya bisa mengangguk mendengar apa yang Husein bisikkan, tanpa bisa bersuara. Membuat Husein merasa jika dirinya sudah mendapat persetujuan dari Zahra.

__ADS_1


__ADS_2