
Husein dan Zahra duduk menatap lurus ke arah danau yang terlihat semakin cerah karena perlahan mentari mulai muncul ke permukaan menunjukkan cahayanya.
"Aku bahagaia bisa bertemu denganmu Zahra, dan aku juga sangat bersyukur jika kita memang benar-benar berjodoh," ucap Husein yang saat ini mengalihkan pandangannya ke arah Zahra yang langsung menoleh ke arah Husein dan juga ikut menatapnya lekat.
"Minggir-minggir!" Zein yang sejak tadi melihat Adik dan sahabatnya saling pandang langsung berlari dan memberikan sebagian besar batang yang dia beli pada Ifan.
Zein langsung mendekat dan menengahi kedua insan yang saling memandang dengan binar cinta yang terpancar di wajah keduanya.
"Masya allah dasar teman durhaka, loe bisakan duduk di tempat lain, ngapain duduk di sini?" ketus Husein yang merasa terganggu dengan kehadiran Zein yang tiba-tiba duduk di antara dia dan Zahra.
"Gue cuma lagi nyelametin kalian berdua, harusnya kalian bilang terima kasih ke gue bukannya gerutu kayak gitu," bela Zein yang sedikit tidak terima dengan ucapan Husein.
"Terima kasih ke peganggu, aneh banget," gumam Husein.
"Inget ya Husein, Zahra! saling memandang lawan jenis yang belum sah ataupun halal itu hukumnya dosa karena termasuk zina mats, dan gue baru aja nyelametin kalian dari perbuatan yang bisa menimbulkan dosa." Zein terus berkilah meski dia sendiri tak begitu faham tentang apa yang di ungkapkannya barusan tapi Zein yakin jika yang di katakan barusan memang benar adanya.
"Sejak kapan loe peduli sama dosa kayak gitu? udah tobat loe mainin anak orang," Husein mulai berdebat meski dia tahu dengan pasti apa yang di ucapkan Zein memang benar adanya.
"Gue gak pernah ya mainin anak orang, gue cuma dalam pencarian cinta sejati, mereka yang hadir dan masuk dalam hidup gue bukan karena gue yang maksa tapi mereka sendiri yang mau," seperti biasa Zein selalu punya segudang alasan untuk membela dirinya sendiri, meski memang salah tapi Zein terus saja berkilah dan membela diri jika dirinya tetap benar.
"Kakak, gak boleh gitu, mereka juga perempuan sama kayak aku, jika aku berada di posisi mereka maka aku akan merasakan sakit yang sama seperti yang mereka rasakan." sela Zahra yang sejak tadi mendengarkan percakapan sang kakak dan sang calon suami.
Zein langsung mati kutu setelah mendengar ucapan menohok dari Zahra yang memang benar adanya. Membuat Zein dian seribu bahasa tanpa bisa berdebat.
"Tuh, dengerin calon bini gue, dia bener, loe harus berubah." Husein yang seolah mendapat pembelaan langsung menyerang Zein yang terlihat mati kutu mendengar ucapan sang adik.
"Diem loe!" sewot Zein yang langsung berdiri menjauh dari tempat duduk mereka berdua berniat dan berpindah mencari tempatduduk lain yang di duduki oleh Ifan.
"Mas Husein, ini makanan dari Mas Zein." Sesuai perintah Zein yang menyuruh Ifan untuk meletakkan makanan di tengah-tengah keduanya agar Husein dan Zahra duduk sedikit lebih menjauh.
__ADS_1
Pagi ini acara jalan-jalan yang cukup menguras emosi, pasalnya Zein selalu saja memiliki cara untuk memisahkan Zahra dan Husein jika mereka sedang berada di jarak yang cukup dekat.
"Ini sudah tugasku sebagai Kakak yang berkewajiban menjaga Adeknya," selalu saja kata-kata itu yang terucap dari bibir Zein ketika Husein memprotes ataupun berkeluh kesah.
"Husein!" panggil Zein yang kini sudah duduk di dalam mobil. Ketiganya sudah siap untuk kembali pulang.
"Apa?" sahut Husein sedikit ketus.
"Gue laper, sebelum pulang jangan lupa mampir ke rumah makan dulu!" jawab Zein.
Sebenarnya Zein sama sekali tak merasa lapar, tapi dia tahu dengan pasti jika sang Adik hanya makan sedikit dan bisa di pastikan jika saat ini Adiknya itu masih lapar.
"Loe mau makan apa?" tawar Huda.
"Lalapan," jawab Zein dengan senyum manis yang dia tunjukkan pada sang Adik yang hanya diam di tempat.
Ikan ayam bakar atau lalapan adalah makanan favorite Zahra, dia bisa menghabiskan dua porsi sekaligus jika makan dengan menu tersebut.
"Dengar Mas Husein," jawab Ifan tanpa menoleh dia masih fokus menatap ke depan karena masih menyetir.
"Cari rumah makan yang menyediakan lalapan seperti yang di minta oleh Zein!" titah Husein yang kemudian beralih mengambil ponsel yang dia taruh di saku celananya.
Sarapan pagi dengan ayam bakar plus lalapan pagi hari ini terasa begitu nikmat karena ada Zahra yang menemani.
"Kak Husein mau ikan yang mana?" tanya Zahra setelah mengambilkan nasi untuk Husein, konsep tempat makan yang di datangi oleh Husein dan yang lain memiliki konsep lesehan jadi pembeli bisa mengambil nasi dan ikan sesuai selera.
"Ambilkan aku ayam saja." jawab Husein dengan senyum yang merekah.
"Kakak tidak akamu ambilkan Dek?" sahut Zein yang sejak tadi di abaikan oleh Zahra.
__ADS_1
"Sebentar Kak, Zahra pasti ambilin buat Kakak." Sahut Zahra.
Dengan telaten Zahra mengambilkan satu persatu makanan untuk kedua laki-laki yang ada di hadapannya.
"Apa Kak Ifan juga mau aku ambilkan?" tawar Zahra yang sukses membuat Husein membelalakkan mata kaget.
"Eh tidak usah Neng Zahra, saya bisa ambil sendiri." Jawab Ifan sedikit gugup karena mendapat tatapan tajam dari Husein sang majikan.
~
"Syei'!" panggil Husein setelah keduanya selesai sarapan kini mereka berencana untuk pergi mengunjungi sang Ummah yang kemarin tidak sempat hadir di acara resepsi pernikahan mereka karena sakit.
"Ada apa Bi?" sahut Arum yang baru saja selesai mandi untuk yang kesekian kalinya.
"Aku mau jenguk Ummah. Apa kamu juga mau ikut atau kamu di rumah saja?" tawar Hasan.
"Abi bagaimana sih, aku pasti ikut untuk jenguk Ummah." Jawab Arum.
"Bukan begitu aku hanya takut kamu kelelahan jadi aku tawari dulu mau ikut atau tidak, kalau kamu lelah bilang saja nanti biar aku kasih tahu Ummah kalau istriku yang cantik nan jelita ini gak bisa datang karena lagi gak enak badan." Jelas Hasan.
"Aku ikut Bi, sekalipun aku capek nanti kan bisa tidur di dalam mobil. Jadi tidak masalah," ucap Arum.
"Baiklah, kamu siap-siap ya! Abi mau mandi dulu setelah itu kita berangkat." Titah Hasan yang kini berjalan mendekat ke arah Arum.
'Cup'
Satu ciuman berhasil di curi oleh Hasan membuat Arum yang berdiri tak jauh darinya terkejut karena mendapat serangan mendadak.
"Abi!" keluh Arum.
__ADS_1
"Sarapan penutup Syei'," sahut Hasan santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun kemudian melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih setia berdiri di tempat.