
"Desy! Kamu di panggil Mas Huda." Ucap seorang santri yang baru saja sampai di kamar Desy.
"Di panggil kenapa?" tanya Desy yang bingung dengan panggilan mendadak.
"Entahlah aku gak tahu, kamu di tungguin di halaman depan rumah Umik." Jawabnya seraya pergi berlalu meninggalkan Desy.
'Bukankah kita baru aja ketemu, kenapa sekarang manggil aku lagi,' batin Desy merasa heran dengan panggilan mendadak Huda.
"Udah kamu langsung pergi aja! kasihan tu calon laki kamu udah nungguin lama." Bisik Shinta tepat di telinga Desy.
"Ishhh apaan sih, jangan ngadi-ngadi deh!" sahut Desy sambil melangkah pergi meninggalkan Shinta yang masih diam di tempat.
Desy melangkah pelan sambil terus berfikir apa tujuan Mas Huda memanggilnya, padahal mereka baru saja bertemu, ada banyak pertanyaan yang muncul do benak Desy tapi tak satu jawabanpun dia dapatkan.
"Mas Huda manggil saya ada apa?" Desy yang sejak tadi sudah penasaran kini tak bisa lagi menutupi rasa penasarannya, dia langsung bertanya sesaat setelah sampai di halaman depan.
"Ummah meninggal dunia Desy, jadi Umik menyuruhku membawamu ke sana untuk membantu pekerjaan di sana." Jelas Huda.
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun, baiklah Mas Huda ayo kita berangkat." Ajak Desy yang kini justru bersemangat untuk segera pergi meninggalkan pesantren menuju rumah Ummah.
"Sebentar kita tunggu Ifan dulu." Ujar Huda.
Tadi setelah memakamkan Ummah. Ifan dan Huda pulang ke rumah untuk menjemput Desy yang saat ini tenaganya begitu di butuhkan. Sedang Desy yang mendengar nama Ifan di sebut hanya bisa diam tanpa berkomentar.
__ADS_1
"Apa semuanya sudah siap?" suara Ifan terdengar baru saja sampai di halaman rumah Umik dengan wajah yang jauh lebih segar.
"Sudah, ayo berangkat!" sahut Huda berjalan menuju pintu bagian belakang jok mobil dan mempersilahkan Desy masuk.
"Masuklah!" titah Huda yang saat ini sudah membuka pintu untuk Desy.
"Terima kasih Mas Huda," ucap Desy dengan ekspresi sungkan dan malu yang terlihat jelas di wajahnya, ini pertama kalinya dia mendapat perlakuan manis dari seorang pria yang pernah hadir di hidupnya, meski dulu ada seorang pria yang cukup spesial tapi tak semanis sikap Huda padanya.
'Sikapmu begitu manis Mas Huda, bagaimana aku tak bisa jatuh cinta padamu?' batin Desy sambil melirik Huda yang kini duduk di jok bagian depan sebelah kemudi.
Perjalanan menuju rumah Ummah cukup memakan waktu, karena selain letaknya yang jauh di pegunungan ada beberapa titik jalan yang rusak dan belum di perbaiki, jadi perjalanan sedikit terhambat.
"Fan, kita mampir ke warung es degan saja dulu. Aku haus," mobil yang sejak tadi sunyi hanya terdengar lantunan sholawat yang sengaja di nyalakan untuk menemani perjalanan kini terusik dengan suara Huda yang meminta berhenti.
"Boleh Mas Huda, kita berhenti di ujung jalan sebelum tikungan di depan." Jawab Ifan yang menyetujui permintaan Huda.
"Lumayan Mas Huda," jawab Desy dengan senyum semanis mungkin, Huda yang melihat senyum Desy merasa begitu senang entah mengapa meski hanya sebuah senyum rasanya begitu menyenangkan.
'Sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis ini,' batin Huda sambil mengalihkan pandangannya kembali lurus ke depan.
Mobil terus melaju hingga sampai di depan warung yang tadi di maksud oleh Ifan, warung yang terlihat cukup sederhana tapi ramai dengan pengunjung yang berarti menunjukkan bahwa es degan di tempat ini memang asli dan enak.
"Desy, kamu tunggu di mobil! biar aku dan Ifan yang membelinya." Titah Huda melarang Desy ikut turun dari mobil karena melihat begitu banyaknya pembeli di dalam warung.
__ADS_1
"Baik, Mas Huda," sahut Desy, hanya bisa menurut tanpa protes karena dia tak punya keberanian untuk protes pada Huda.
Apa yang di perintahkan Huda pada Desy membuat Ifan merasa curiga, pasalnya Huda bukanlah orang yang suka melarang atau mengatur orang lain kecuali pada dia yang dia sukai, tapi kecurigaan itu hanya bisa di simpan dalam hati tanpa bisa dia tanyakan atau ungkapkan karena bagaimanapun juga Huda adalah sepupu Husein yang statusnya merupakan majikan Ifan.
Huda meminta Ifan untuk membungkus es dan cemilan yang mereka beli agar bisa di minum dan dimakan di dalam mobil membuat Ufan semakin curiga dengan sikap Huda, pasalnya Huda biasa minum es dan makan cemilan di warung saat pergi hanya berdua dengan Ifan. Tapi kali ini dia memilih untuk membungkusnya sungguh terasa aneh bagi Ifan.
Keduanya kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa tiga kantong plastik di tangan Huda, awalnya Ifan meminta Huda agar memberikan kantong pelastiknya tapi dengan tegas Huda menolak dan ingin membawanya sendiri.
"Ini untukmu!" Huda memberikan satu kantong pelastik ke arah Desy yang masih saja duduk dengan anteng di tempatnya.
"Fan ini punyamu!" Huda juga memberikan satu kantong pelastik milik Ifan. Ketiganya menikmati es degan dan camilan yang tadi mereka beli terlebih dahulu di dalam mobil setelah itu kembali berangkat menuju rumah Ummah.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan yang terjadi tak satupun dari ketiganya berbicara, begitu pula dengan musik yang biasanya terdengar kini tak lagi di putar dan suasana hening di tambah perut kenyang sukses membuat rasa kantuk Desy mulai hinggap.
Perlahan rasa kantuk itu semakin merajalela membuat Desy tak lagi bisa menahannya, pelan tapi pasti Desy mulai memejamkan mata lelap ke dalam dunia mimpi yang sangat indah, jok mobil yang terasa lebih empuk dari pada kasur lantai tipis yang biasa di gunakan di pesantren di tambah ac yang terus menyala memberi sensasi dingin dan nyaman semakin mendukung Desy untuk lelap dalam dunia mimpi.
Mobil telah sampai di halaman rumah Ummah yang terlihat begitu ramai karena kedatangan para pelayat, tapi saat Huda menoleh ke arah belakang senyumnya langsung merekah melihat Desy tertidur dengan lelapnya, wajahnya terlihat begitu damai dan tenang membuat siapapun yang melihatnya ingin segera ikut lelap dengan memeluknya.
"Mas Huda!" panggil Ifan saat melihat Huda hanya terdiam mematung dengan senyum yang mengembang di bibirnya menatap ke arah jok bagian belakang.
"Kamu keluarlah dulu! biar aku yang membangunkan Desy." Sahut Huda tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Desy yang sedang terlelap.
"Baiklah, saya permisi dulu." Pamit Ifan keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan gerakan sedikit kuat membuat Desy yang tadinya terlelap langsung terbangun.
__ADS_1
'Dasar Ifan, ganggu aja,' batin Huda menggerutu karena kelakuan Ifan membuat Desy harus terbangun sebelum di bangunkan oleh Huda.
"Astaghfirullah, aku ketiduran," lirih Desy yang masih bisa di dengar oleh Huda.