Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Menemui Umik


__ADS_3

Setelah semua siap Arum dan Hasan berjalan keluar kamar bersamaan. Nampaklah suasana ramai di luar kamar, dengan langkah pasti keduanya berjalan menuju ruang keluarga di mana Umik sedang menunggu dan ternyata ada banyak keluarga juga para tamu yang lain sedang duduk menikmati hidangan yang di sediakan.


Ruang keluarga yang biasanya berfungsi untuk berkumpul bersama keluarga kini berbuah fungsi menjadi ruang tamu di mana ada banyak tamu yang datang dan duduk di sana.


"Wahhh pengantinnya cantik dan ganteng ya," celetuk salah seorang tamu yang menghentikan makannya saat melihat Hasan dan Arum datang.


"Alhamdulillah, ini putera dan menantu saya." Umik menyambut kedatangan Arum dan Hasan.


Ada banyak mata memperhatikan Arum dan Hasan, sedang keduanya hanya bisa diam dan sesekali tersenyum ramah menyambut para tamu.


Sejak pertama Arum datang dan duduk di samping Hasan juga Umik, tamu yang datang seolah tak ada habisnya, mulai dari keluarga, tetangga dan para alumni santri, semuanya datang untuk memberikan ucapan selamat pada Umik.


Padahal acara resepsi yang sebenarnya baru nanti sore di mulai, rasa lelah kini mulai menghinggapi Arum danterlihat jelas di wajahnya .


"Umik!" bisik Hasan.


"Ada apa, Nak?" sahut Umik dengan nada pelan.


"Aku pergi ke kamar dulu ya. Kasihan Arum, sepertinya dia lelah," pamit Hasan yang sejak tadi melihat wajah lelah Arum.


"Baiklah, kalian istirahat saja dulu! nanti sekitar jam dua siang akan ada MUA yang akan datang dan merias Arum. Jadi jangan ganggu dia sampai acara resepsi ini selesai!" Umik memberi peringatan pada Hasan agar tak mengganggu Arum.


"Beres Umik, Hasan gak bakal ganggu Arum kok, kalau gitu Hasan pergi dulu Umik." Pamit Hasan yang mendapat persetujuan dari Umik dengan isyarat anggukan kepala.

__ADS_1


"Syei', ayo ikut Abi!" ajak Hasan dengan nada pelan yang hanya bisa di dengar oleh keduanya.


Arum mengernyitkan dahi bingung dengan ajakan Hasan, pasalnya tamu yang datang masih banyak, sebenarnya Arum ingin bertanya tapi niatnya urung karena tak enak hati jika terlalu banyak mengobrol sendiri sedang tamu di depannya masih banyak.


"Kita mau ke mana Bi?" tanya Arum, meski bibirnya bertanya tapi kaki Arum tetap melangkah mengikuti langkah Hasan yang berjalan menjauh dari ruang keluarga menuju kamarnya.


"Kita istirahat dulu Syei', aku tahu kamu lelah," jawaban Hasan membuat seutas senyum muncul di bibir Arum. Suaminya ini benar-benar pengertian dia bisa tahu apa yang Arum rasakan tanpa harus menjelaskannya.


"Kok Abi tahu kalau aku lelah? aku kan gak pernah bilang," tanya Arum yang penasaran dengan pengetahuan Hasan yang menyatakan kalau dia tahu jika Arum sedang lelah.


"Kelihatan dari raut wajahmu Syei', sekarang lebih baik kamu istirahat dulu di kamar biar aku yang nemuin mereka." Usul Hasan yang mendapat anggukan dari Arum.


Arum berjalan hendak masuk ke dalam kamar, sedang Hasan berjalan keluar dari rumah Umik menuju halaman pesantren untuk melihat keadaan juga persiapan di sana.


"Kak Huda," sahut Arum saat melihat Huda yang baru saja keluar dari dapur berjalan mendekat ke arahnya.


"Selamat ya atas pernikahanmu, semoga menjadi sakinah mawaddah warohmah," untaian do'a keluar dari bibir Huda, wajahnya terlihat biasa saja tapi percayalah hati Huda saat ini sedang hancur berkeping-keping.


"Terima kasih kak, semoga kakak juga bisa cepat nyusul," Arum sedikit kikuk berbicara dengan Huda tapi dengan sekuat tenaga Arum mencoba menyembunyikannya.


"Ini untukmu." Huda menyodorkan satu kotak hadiah ke arah Arum. Sedang Arum hanya termenung menatap kotak yang di sodorkan ke arahnya. Jujur saja saat ini Arum merasa bingung antara mau mengambil hadiah dari Huda atau tidak.


"Ini hadiah pernikahan dariku, dan aku tak punya maksud apa-apa, lagi pula sekarang kamu sudah resmi menjadi adik sepupuku dan secara otomatis sekarang kuta saudara." Huda menjelaskan maksud dari hadiah yang dia berikan.

__ADS_1


"Maaf ya Kak," lirih Arum sembari menundukkan kepala.


"Maaf untuk apa? semua ini bukan salahmu juga bukan salahku, apa yang terjadi saat ini adalah takdir yang tak bisa kita ubah Arum, dan satu lagi aku sudah bisa menerima semua yang terjadi dengan ikhlas jadi kamu gak usah khawatir, anggap saja kita tak pernah punya hubungan sebelumnya." Ujar Huda dengan senyum yang di buat sebahagia mungkin meski saat ini hatinya sedang hancur dan menjerit kesakitan.


"Baiklah, terima kasih ya Kak," akhirnya Arum mengambil satu kotak yang sejak tadi menggantung di hadapannya.


"Semoga kamu bahagia, aku pergi dulu." Pamit Huda berjalan menjauh meninggalkan Aru dengan segala rasa bersalahnya.


"Maafkan Aku Kak Huda, semoga kamu bisa menemukan gadis yang jauh lebih baik dariku," gumam Arum sambil menatap kotak hadiah yang di berikan oleh Huda.


Tanpa keduanya sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya, menatap lekat dan menajamkan pendengaran memperhatikan Huda dan Arum yang sedang berbincang.


'Ternyata orang yang di maksud Mas Huda adalah arum, sungguh rumit jalan takdirmu dan sungguh beruntungnya kamu Arum bisa di cintai laki-laki baik seperti Mas Hasan dan Husein juga Mas Huda, seandainya Mas Huda bisa memiliki rasa seperti perasaannya padamu Arum, aku pasti akan menjadi gadis yang paling bahagia di dunia ini,' batin Desy bermonolog setelag menyaksikan interaksi Huda dan Arum.


"Desy!" panggil Shinta yang merasa sedikit jengkel, pasalnya sejak tadi Desy hanya diam mematung di tempat sedang Shinta kerepotan dengan beberapa barang yang harus dia bawa.


"Apa sih Shin?" keluh Desy yang merasa sedikit terkejut dengan panggilan Shinta yang tiba-tiba terdengar.


"Jangan ngelamun aja! ayo bantuin bawa piring kotor ini ke dapur, kamu lupa ya kalau di dapur masih banyak banget pekerjaan?" Shinta mengingatkan kembali setumpuk pekerjaan yang sedang menunggu mereka di dapur.


"Iya, iya ini aku bantuin," sahut Desy mengambil alih piring yang ada di tangan Shinta dan membawanya masuk ke dalam dapur untuk di cuci.


Shinta dan desy mendapat tugas membantu menghidangkan makanan dan juga mencuci piring bersama santri yang lain. Bagi Desy pekerjaan seperti ini sudah biasa dia lakukan saat ada acara besar di pesantren. Berbeda dengan Desy yang kembali melanjutkan pekerjaannya, Huda justru berbalik arah menuju halaman pesantren di mana dia biasa bertemu dengan Desy, menikmati setiap rasa sakit juga luka yang kini tengah dia rasakan.

__ADS_1


Bagi Huda cinta pertama itu sulit untuk di lupakan begitu saja, tapi sangat mustahil untuk di kejar apalagi di dapatkan, saat ini dia hanya bisa pasrah dan menikmati setiap rasa yang menyerang hatinya, hanya do'a yang mampu dia panjatkan dengan harapan terkabulnya do'a itu.


__ADS_2