
Pelayan yang tadinya tak percaya dengan apa yang di katakan Zahra kini diam mematung dengan wajah yang terlihat semakin pucat sambil menundukkan kepala, tapi berbeda dengan Zahra yang justru tersenyum begitu manis menatap pelayan di hadapannya.
"Sudah, jangan takut! aku tidak akan memarahimu," ucap Zahra lembut dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Sikap Zahra sontak membuat Sang pelayan terkejut dan reflek menoleh kearah Zahra yang masih setia tersenyum ke arahnya.
"Maksudnya bagaimana, Bu?" kini sikap Sang Pelayan terlihat begitu sopan dan nada bicaranya juga sangat lembut.
"Aku tidak marah dengan sikapmu, karena waktu resepsi tidak semua kariyawan di undang dan tahu siapa istri dari bos mereka, dan sikapmu tadi membuatku merasa aman dari para pelakor, jadi terus lakukan apa yang kamu lakukan tadi pada wanita lain yang mencari suamiku kecuali aku, dan satu lagi, kamu ingat-ingat wajahku ini! jangan beri kesempatan pada wanita lain untuk mendekati suamiku! dan aku akan memberitahu suamiku jika kamu bekerja dengan baik agar gajimu bisa naik sebagai imbalannya," Zahra mengatakan semuanya dengan senyum yang tak pernah luntur, dia memang terlihat kalem dan sabar, tapi jika berhubungan dengan pelakor maka semuanya akan berubah, Zahra akan menjadi singa betina yang kelaparan dan siap melahap habis mangsanya.
"Apa kamu mengerti dengan apa yang aku katakan?" sambung Zahra, saat melihat Sang Pelayan hanya diam tak meŕespon apayang baru saja dia katakan.
"Saya mengerti, Bu," jawab Sang Pelayan sambil menundukkan kepala.
"Baiklah, yang semangat kerjanya." Pesan Zahra menepuk lembut pundak Sang Pelayan kemudian melenggang pergi meninggalkannya menuju ruangan Husein.
"Eh satu lagi, tolong buatin jus jeruk ya! dan antar ke ruangan." Sambung Zahra sejenak berhenti menoleh ke arah Sang Pelayan sebelum melangkah terlalu jauh, dan sang pelayan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk!" sahut Husein dari dalam ruangan.
Zahra yang mendengar sahutan dari dalam ruangan langsung membuka pintu dan masuk ke dalam, terlihat Husein sedang memeriksa beberapa berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Masih sibuk, Mas?" tanya Zahra.
"Enggak kok, Dek, aku kira siapa? sini duduk deket Mas!" titah Husein berjalan duduk di sofa yang ada di ruangannya seraya mengajak Zahra dan memberi isyarat agar dia mendekat.
"Emang Mas ngira aku siapa?" tanya Zahra.
"Aku kira kamu salah satu kariyawanku, Dek, kalau mau masuk ruangan tinggal masuk aja! gak usah ketuk pintu segala. Lagi pula ruanganku berarti ruanganmu juga, Dek," tutur Husein sambil melingkarkan tangannya ke perut Zahra yang masih terlihat ramping.
"Mas, jangan gini!" keluh Zahra.
"Memangnya kenapa kalau kayak gini, Dek?" tanya Husein yang semakin mendekat dan sesekali menghirup aroma tubuh sang istri yang tertutup rapi oleh baju syar'i yang dia pakai.
"Kalau kayak gini aku kesulitan mau buka bekalnya, Mas," jawab Zahra menjelaskan alasannya mengeluh dengan sikap Husein.
__ADS_1
"Kamu bawa bekal apa, Dek?" Husein merubah posisi mengalihkan pandangannya pada kotak bekal susun yang sedang di buka oleh Zahra.
"Aku buatin salad buah dan buah segar untuk Mas," Zahra menunjukkan salad buah yang dia buat dan beberapa macam buah segar yang sudah dia potong.
"Emm, kayaknya enak dan seger banget, kamu beli atau buat sendiri?" tanya Husein sambil mencomot satu potong buah segar yang kini berada di hadapannya.
"Ishh, jangan pakai tangan Mas!" Zahra kembali memprotes sikap Husein.
"Memangnya kalau pakai tangan kenapa, Dek? bukankah makan itu lebih bagus pakai tangan?" Husein kini mengalihkan perhatiannya ke arah Zahra setelah mendengar larangan Zahra.
"Kalau tangan Mas bersih memang bagus, tapi tangan Mas kotor dan belum di cuci, sehat enggak sakit perut iya," Zahra mengatakan alasannya melarang Husein makan menggunakan tangannya.
"Kamu memang istri yang paling perhatian," ujar Husein seraya mencium pipi Zahra sekilas.
"Ishhh, sukanya nyuri-nyuri ciuman," cicit Zahra yang mendapat serangan tiba-tiba dari sang suami.
"Nyuri ciuman istri gak ada salahnya, Dek, yang ada kita bisa dapat pahala," Husein membela dirinya mendengar cicitan Zahra.
"Iya, iya aku tahu itu, sekarang Mas buka mulut, aaa ...." Zahra menyodorkan sesendok salad buah yang sudah dia buat ke arah mulut Husein yang di terima dengan senang hati dan senyum manis di wajahnya.
Tok ... tok .. tok ....
"Siapa sih? ganggu aja," keluh Husein dengan wajah cemberut mendengar suara ketukan pintu yang membuat Zahra menghentikan suapannya.
"Sabar, Mas," Zahra mengusap lembut lengan Husein agar dia bersabar dan tak lagi mengeluh.
"Masuk!" sahut Husein tak menggubris ucapan Zahra.
"Permisi Pak, saya mau ngantar jus jeruk pesanan Bu Zahra." Ujar sang pelayan yang tadi bertemu dengan Zahra.
"Masuklah! aku sudah menunggumu sejak tadi." Zahra melempar senyum manisnya ke arah sang pelayan agar dia tidak terlalu takut dan canggung.
Sang Pelayan itu terlihat begitu takut dan tegang dengan tangan yang sedikit bergetar, semuanya terlihat saat dia menaruh gelas di meja.
"Terima kasih," ucap Zahra dengan senyum manis yanh masih terlihat jelas di wajahnya.
"Sama-sama," jawab Sang Pelayan sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Tunggu!" cegah Zahra saat melihat Sang Pelayan hendak pergi meninggalkannya.
"Ada lagi, Bu?" sahut Sang Pelayan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Zahra.
"Siapa namamu?" tanya Zahra.
"Nama saya Sifa, Bu," jawab sang pelayan.
"Sudah berapa lama kamu kerja di sini?" Zahra kembali bertanya sedang Husein hanya menjadi penonton tak sedikitpun berkomentar.
"Baru enam bulan, Bu," jawab Sifa.
"Mas!" panggil Zahra sambil menatap sang suami dengan puppy eyes yang baru kali ini di lihat oleh Husein.
Sejenak Husein terdiam menatap lekat ke arah Zahra, dengan tatapan heran.
"Mas!" Zahra mengulangi panggilannya karena Husein tak merespon justru terus menatap ke arahnya.
"Iya, ada apa, Dek?" sahut Husein setelah sadar dari lamunannya.
"Jika aku meminta sesuatu padamu, apa boleh?" tanya Zahra.
"Tentu boleh, kamu mau minta apa?" jawab Husein, siapa yang bisa menolak permintaan Zahra yang kini sedang memperlihatkan puppy eyes yang membuat luluh hati Husein.
"Aku ingin Mas menaikkan gaji Sifa, apa Mas bersedia?" pinta Zahra.
"Beri Mas alasan untuk menaikkan gaji Sifa!" sahut Husein.
"Dia memberi pelayanan yang baik pada costumer, dan aku menyukai pelayanannya." Zahra memberi alasan pada Husein agar dia setuju dengan apa yang di minta.
"Baiklah, bulan depan gajimu naik sepuluh persen, tapi rahasiakan dari temanmu yang lain." Husein menyetujui keinginan Sifa yang di sambut gembira oleh Zahra.
"Tapi Mas punya satu permintaan yang harus kamu penuhi." Ujar Husein.
"Permintaan apa, Mas?" tanya Zahra.
"Jangan pernah tunjukkan wajah imutmu itu di hadapan orang lain!" jawab Husein.
__ADS_1
"Siap, Mas," Zahra tersenyum manis ke arah Husein.