Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Pindah ke Asrama


__ADS_3

"Mari saya tunjukkan lokernya." Ajak Fifi berjalan menuju loker yang tadi dia maksud.


Arum sempat terkejut melihat loker yang ukurannya sama seperti tempat penyimpanan pakaian dalam yang ada di mensionnya.


'Astaga, ini serius loker yang di maksud tadi. Apa mungkin ini tempat penyimpanan buku ya?' batin Arum mulai berperang menerka-nerka untuk apa loker yang di tunjuk oleh Fifi.


"Maaf Mbak, ini loker untuk menyimpan apa ya?" tanya Arum yang sudah tidak bisa menahan diri dengan rasa penasarannya.


Fifi tersenyum menanggapi pertanyaa Arum yang menurutnya lucu, baru kali ini dia bertemu dengan santri baru yang tidak tahu fungsi sebuah loker di pesantren.


"Ini tempat menyimpan baju Mbak," jawab Fifi.


Arum yang mendengar penuturan Fifi langsung terdiam mematung saking terkejutnya mendengar jawaban Fifi.


"Mbak," Fifi Menggoyangkan tangan di hadapan Arum mencoba menyadarkan Arum yang tengah terdiam menatapnya tanpa berkedip.


"Eh, Iya," Arum sedikit tergagap setelah menyadari jika saat ini dia tengah melamun.


"Mbak gak apa-apa?" tanya Fifi.


"Enggak apa-apa Mbak," jawab Arum mencoba bersikap setenang mungkin menjawab pertanyaan Fifi.


"Mari saya bantu merapikan baju dan yang lain," Fifi menawarkan diri membantu Arum.


"Boleh, terima kasih Mbak" Arum menerima tawaran Fifi dengan senyum sumringah.


"Mbak Arum, saya tinggal gak apa-apa?" Hana yang sejak tadi hanya diam menatap tingkah kedua gadis di hadapannya itu mulai bersuara.


"Gak apa-apa Mbak, terima kasih ya sudah membantu saya." Arum berterima kasih sebelum Hana pergi meninggalkan kamar.


"Sama-sama Mbak, Assalamualaikum." Pamit Hana yang kini pergi meninggalkan Arum dan Fifi yang kini mulai menata baju bawaannya.


"Waalaikum salam," jawab keduanya.


Sejak pertama datang ke pesantren tak banyak orang yang tahu kedatangan Arum, hanya Hana dan segelintir santri yang mengetahui kehadiran Arum. Jadi wajar saja jika Fifi tak mengetahui jika Arum sudah datang sejak kemarin.


"Wah, bajunya banyak Mbak. Tidak muat jika semuanya di masukkan," uhar Fifi yang kebingungan melihat betapa banyaknya baju san barang-barang yang di bawa oleh Arum.

__ADS_1


"Tidak masalah Mbak, saya akan mengambil beberapa potong baju dan barang yang penting. Sisanya nanti biar saya taruh di koper," Arum yang memang memiliki sifat supel tak mempermasalahkan tentang loker yang kecil. Meski awalnya dia sempat terkejut, tapi sedikitpun Arum tak pernah ambil pusing.


"Mbak baru datang?" Fifi membuka percakapan.


"Sudah dari kemarin saya ada di sini Mbak, memangnya kenapa ya?" jawab Arum yang juga merasa bingung dwngan pertanyaan Fifi yang berstatus ketua kamar.


"Oh pantas saja Saya tak melihat keluarga Mbak." Fifi memang merasa janggal dengan kedatangan Arum yang hanya di antar oleh Hana.


"Saya menginap di rumah Umik Mbak," jawsb Arum dengan senyum mengembang.


Fifi hanya manggut-manggut mendengar jawaban Arum tanpa ada niat untuk bertanya lebih dalam lagi.


"Mbak, apa di sini ada santri bernama Sinta dan Desy?" tanya Arum.


"Ada, kamu kok tahu kalau di sini ada santri bernama Sintadan Desy?" Fifi justru terlihat bingung dengan pertanyaan Arum yang terlihat mengenal kedua santri yang lumayan bandel itu. Sebenarnya bukan bandel lebih tepatnya sering telat dalam setiap kegiatan.


"Aku pernah ketemu mereka waktu mengaji subuh di mushollah, dan karena mereka Aku punya keyakinan untuk langsung pindah ke asrama dan memilih kamar ini." Jelas Arum.


'Ternyata mereka pintar juga mempromosikan kamar dan mengajak santri baru.' Fifi hanya bisa membatin tanpa suara.


"Loh mereka belum lulus sekolah?" tanya Arum yang lagi-lagi terkejut dengan pernyataan Fifi.


"Belom Mbak, mereka masih kelas dua SMA," Fifi menjelaskan apa yang dia tahu pada Arum sedang Arum hanya manggut-manggut tanda dia sudah mengerti.


"Mbak, Saya sama sekali tidak punya buku atau semacamnya. Apa Mbak bisa antar saya untuk membelinya?" Arum yang melihat tumpukan buku dan kitab yang tersusun rapi di rak khusus untuk kitab atau buku.


Arum hanya membawa satu buku dan satu bolpen yang di berikan Umik juga satu kitab yang Arum sendiri tak mengerti isinya, jangankan mengerti membacapun dia tak bisa.


"Mari saya antar Mbak." Fifi berdiri hendak mengantar Arum.


"Astaghfirullah Mbak tunggu!" ucap Arum yang melihat dompetnya kosong.


"Iya ada apa?" tanya Fifi mengernyitkan dahi bingung dengan ucapan Arum.


"Mbak apa di sini ada ATM?" pertanyaan yang sungguh membuat Fifi terkejut.


"Maaf Mbak, di sini gak ada ATM." Jawab Fifi.

__ADS_1


"Emm, maaf Mbak gak jadi. Saya ke rumah Umik dulu aja." Arum yang merasa bingung hanya bisa pergi ke rumah Umik untuk mencari solusi.


"Baiklah Mbak, kalau begitu saya permisi." Pamit Fifi pergi meninggalkan Arum yang masihberdiri di tempat.


"Aghhh sialnya Aku, padahal sebelum berangkat Bunda sudah mewanti-wanti untuk ambil uang dulu. Ini malah lupa dompetku hanya ada lima ribu aja, mana cukup." gumam Arum menatap dompetnya yang terlihat kering keronta hanya ada satu lembar uang lima ribuan.


Dengan langkah lebar Arum berjalan keluar kamar menuju rumah Uqi untuk mencari solusi dari masalahnya itu.


"Assalamualaikum," ucap Arum.


"Waalaikum salam," sahut Hana yang masih berada di ndalem, dia baru saja selesai membantu Uqi bersih-bersih.


"Mbak Arum. Silahkan masuk!" Hana membuka pintu mengajak Arum masuk ke dalam rumah.


"Mbak ada apa ke sini?" sambung Arum.


"Saya mau ketemu Umik, apa beliau ada?" tanya Arum dengan ekspresi penuh harap.


"Beliau masih ada di kamar mandi, Mbak Arum tunggu di ruang keluarga saja." Usul Hana.


"Baik Mbak makasih ya," Arum berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga, Arum duduk di sofa depan Televisi, dua munit kemudian Husein datang dengan secangkir kopi di tangannya.


"Arum," panggil Husein yang lumayan terkejut melihat dewi penolongnya datang kembali dan duduk manis bersandar di sofa


"Kak Husein," sahut Arum.


"Loh kamu kok balik lagi, ada apa?" tanya Husein.


"Kak Aku kemarin lupa belum ambil uang di ATM, dan saat ini Aku butuh uang buat beli buku dan perlengkapan lain yang belum Aku beli." Jelas Arum.


"Ohh, tunggu Umik saja. Nanti kalau beliau mengizinkan biar Aku antar kamu ambil uang di ATM." Tutur Husen.


"Baiklah, semoga saja Umik mengizinkan," gumam Arum penuh harap.


"Jangan cemas, jika Umik tidak mengizinkan Aku yang akan kasih uang ke kamu." Ujar Husein tanpa menoleh ke arah Arum, dia kembalifokus menatap layar di laptopnya.


"Wahh, Kakak cengengku sekarang sudah banyak uang." Ujar Arum tersenyum ke arah Husein dan jangan tanya perasaan Huseinmendengae pernyataan Arum.

__ADS_1


__ADS_2