Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Dasar Desy


__ADS_3

Malam terus berganti meninggalkan setiap kenangan yang telah terjadi, memulai hal yang baru dan akan menjadi kenangan saat semua telah usai.


"Arum!" panggil Desy.


"Iya Desy ada apa?" sahut Arum yang baru selesai menunaikan ibadah sholat subuh.


"Bagaimana acara hari ini?" tanya Desy.


"Acara apa?" tanya Arum yang merasa jika dirinya tak menghadiri acara apapun.


"Aku denger Umik tadi bahas masalah Fitting baju." Tutur Desy.


"Oh, Alhamdulillah lancar kok," jawab Arum.


"Terus kapan jadinya?" Desy kembali bertanya.


"Entahlah," Arum yang merasa malas untuk membahas hal yang bersifat pribadi saat ini menjawab pertanyaan Desy seadanya.


"Ishhh jawabanmu, sungguh tak menyenangkan," keluh Desy.


Desy yang merasa mendapatkan jawaban kurang meyenangkan langsung melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih setia duduk di tempat.


"Desy! kamu mau ke mana?" ucap Arum mencegah langkah Desy yang sudah berada di tengah pintu kamar dan siap meninggalkan Arum.


"Aku mau sarapan dulu." Jawab Desy yang sontak menghentikan langkahnya setelah mendengar panggilan Arum.


"Ikut." Ujar Arum berdiri dan langsung berjalan menghampiri Desy yang masih setia menunggunya di tengah pintu.


Keduanya berjalan beriringan menuju kantin untuk menikmati sarapan pagi yang entah apa menunya mereka tak tahu sebelum sampai di kantin.


Sarapan pagi dengan telor dadar dan sambal saos plus eseng buncis menu pagi hari yang fi dapatkan oleh Arum juga Desy, keduanya makan dengan begitu nikmatnya meski menu yang ada termasuk menu yang sangat sederhana tapi tetap terasa nikmat karena ada rasa syukur yang teramat besar terpatri di hati mereka.


Arum kembali ke kamar untuk bersiap menemui Hasan seperti biasa belajar mendalami ilmu agama, sedang Desy berangkat ke sekolahnya.


Pagi ini begitu cerah, mentari bersinar begitu terangnya seterang cahaya yang menyinari wajah-wajah segar para santri putri yang berangkat ke sekolah.

__ADS_1


'Bug'


Suara benda yang jatuh ke tanah terdengar begitu keras, sekeras kehidupan di ibu kota.


"Maaf," ucap Huda yang tak sengaja menyenggol Desy yang sedang berdiri tepat di depan tembok sebelah gerbang putri.


"Tidak apa-apa," jawab Desy sembari berjongkok mengambil beberapa buku paket yang sedang dia bawa.


Sejak tadi Desy berdiri di depan tembok dekat gerbang sedang menunggu Sinta untuk berangkat ke sekolah bersama, hari ini ada begitu banyak buku paket yang harus dia bawa oleh Desy karena dia sudah menginjak kelas tiga SMA maka pelajaran yang di terimanya semakin banyak pula.


Berbeda dengan Desy yang tengah berdiri menunggu Sinta, Huda malah berjalan sambil menunduk memperhatikan ponsel di tangannya. Huda yang terlalu fokus menatap ponsel akhirnya menabrak Desy dari samping.


"Saya benar-benar meminta maaf, saya tidak sengaja," Huda yang merasa tak enak hati kembali meminta maaf karena dia memang salah.


"Iya, saya sudah maafkan," Desy yang memamg jarang sekali marah kembali menyahuti ucapan Huda.


'Tampan,' satu kata terucap di batin Desy setelah mengangkat wajah dan melihat laki-laki yang tadi menabraknya.


"Hello, are you okey?" Huda yang melihat Desy terdiam mematung di hadapannya kembali bertanya sembari melambaikan tangan mencoba menyadarkan Desy yang terlihat melamun.


"Maaf saya harus segera pergi, permisi assalamualaikum." Pamit Desy melenggang pergi meninggalkan Huda yang kebingungan melihat tingkah aneh gadis yang baru saja di temuinya.


"Waalaikum salam," jawab Huda dengan ekspresi bingung yang masih terlihat melekat di wajahnya.


"Gadis yang aneh, tapi lumayan menarik juga," lirih Huda.


Desy yang merasa malu karena ketahuan melamun sambil menatap laki-laki di hadapannya itu langsung menangis mengingat begitu memalukannya dia tadi.


"Mana si Desy," ucap Sinta mencari keberadaan Desy, pasalnya tadi Arum dan Desy sudah sepakat jika Desy akan menunggu Sinta di depan gerbang.


Setelah cukup lelah Sinta celingukan mencari Desy, akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi.


"Sudahlah Aku langsung berangkat saja. Mungkin Desy sudah lebih dulu berangkat," ucap Desy sembari pergi menuju sekolahnya.


Pagi ini ada banyak hal yang terlewati begitu pula dengan yang di alami oleh Arum.

__ADS_1


Pagi indah telah berlalu berganti siang, perlahan tapi pasti matahari merangkak naik ke atas langit, semua santri baru selesai sholat dan kini bersiap untuk sekolah madrasah.


"Desy, tadi pagi kamu ke mana? Aku cariin malah gak ada tahu-tahu udah ada di kelas aja," tanya Sinta dengan raut wajah sedikit kecewa.


"Harusnya Aku yang nanya gitu ke kamu," jawab Desy dengan ekspresi wajah biasa saja.


"Loh kok kamu ngomong gitu," sahut Sinta.


"Kamu tahu gak tadi itu Aku nungguin kamu sendirian di tempat kita janjian kemarin. Tapi kamu benar-benar menguji kesabaranku," bukannya menjawab jawaban atas protesnya kemarin Sinta justru mendapat protes dari Desy.


"Kok jadi kamu yang ngeluh?" tanya Sinta yang memang tak bisa menahan diri dengan sifat keponya.


Jika sifat kepo Sinta sudah kambuh maka tak ada satu gosib pun yang luput dari pengetahuannya, sedangkan saat ini Sinta sedang berjuang untuk menyembuhkan rasa penasaran yang ada selalu hadir dalam diri Sinta.


"Iyalah, Aku nungguin kamu cukuplama tahu, di tambah udara yang cukup panas membakar jiwaku yang mudah emosi karenanya." Jelas Desy.


"Sorry kemarin Aku kelamaan di kamar mandi," Sinta yang memang merasa bersalah karena tak segera datang justru terjebak di dalam kamar mandi dengan perut yang sakit kini langsung meminta maaf.


"Dasar kau, kelamaan di kamar mandi atau di kamar?" sergah Desy sambil menatap lekat wajah Sinta.


"Iya, iya maaf kemarin Aku emang mules terus dandannya juga lumayan menguras waktu," jawab Sinta enteng membuat Desy sedikit emosi karenanya.


"Dasar tukang dandan," ujar Desy melenggang pergi meninggalkan Sinta yang sampai saat masih diam di tempat.


"Eh Desy! kamu mau ke mana?" tanya Sinta yang heran melihat Desy tak menunggunya justru pergi begitu saja.


"Dasar Desy!" sambung Sinta yang merasa kesal di tinggal oleh Desy.


Desy yang berjalan cukup jauh justru tak mendengar ucapan Sinta malah terus berjalan menjauh menuju kelas, setelah sekolah pagi Sinta dan desy memang harus masuk sekolah madrasah atau diniyah.


Dengan langkah penuh semangat Desy menuju kelas dan duduk di tempatnya membuka kembali lembar demi lembar pelajaran yang sudah di pelajari, hingga kelas yang awalnya sepi kini mulai ramai karena semua anggotanya sudah masuk ke dalam kelas.


"Assalamualaikum," ucap seorang laki-laki yang samar-samar di ingat oleh Desy.


'Dia,' batin Desy berucap setelah melihat siapa yang datang dan masuk ke dalam kelasnya, sebelumnya memang sudah di beritahukan jika akan ada guru pengganti ustad yang biasa mengajar untuk sementara waktu selama ustad itu izin.

__ADS_1


__ADS_2