Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Rotibul Haddat


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang waktu sholat subuh telah tiba, udara dingin terasa merasuk menusuk ke dalam tulang membuat siapapun yang merasakannya akan tetap tidur dan merapatkan selimut.


"Arum bangun!!" suara Desy terdengar sedikit keras di telinga Arum.


"Aku masih ngantuk Desy, lima menit lagi," racau Arum sambil terus menutup mata.


"Arum!! ini sudah subuh. kalau kamu masih tidur bisa di pastikan kamu akan ketinggalan sholat jamaah." Ujar Desy dengan nada sedikit keras.


"Iya, iya, ini Aku bangun." Arum duduk dan bersandar pada loker mengumpulkan kesadaran yang masih belum sempurna.


"Aruuummm!!! ayo!" Desy menarik tangan Arum agar berdiri dan mengajaknya menuju tempat berwudhu'.


Di pesantren ada peraturan seorang santriwati masih boleh memakai kaos lengan pendek dan melepas kerudung jika sudah masuk waktunya tidur sampai subuh sebelum sholat berjamaah, karena saat itu tak ada satu orang laki-lakipun yang di izinkan masuk ke wilayah pondok putri, sekalipun itu Abi Ilzham atau puteranya.


Arum berjalan gontai menuju tempat wudhu' dengan membawa gayung berisikan alat mandi. Biasanya Arum akan bebas tanpa ikut peraturan pesantren jika dia menginap di rumah Umik, Arum akan bangun lebih terlambat dari sekarang dan dia akan bangun saat sholat jamaah selesai di laksanakan.


"Desy, kita sedang baca apa?" tanya Arum menatap heran pada buku yang dia pegang, tulisannya memang rapi dan mudah di baca tapi apa yang tertulis di sana terlihat begitu asing di mata Arum.


"Ini namanya rotibul haddad, setiap hari sebelum sholat subuh kita akan membaca rotib ini sambil menunggu adzan berkumandang," jelas Desy yang sukses membuat Arum tercengang, sejak tadi Arum berfikir jika saat ini sudah adzan subuh ternyata belum. Maklum sejak pertama Arum datang ke pesantren dia tidak pernah bangun sebelum subuh. Jadi wajar jika dia tak tahu jika sebelum subuh ada agenda wajib rotib dan suara orang mengaji sebelum adzan di masjid.


Perlahan Arum mengikuti bacaan yang ada di dalam buku, cukup lama memang karena rotib yang di baca Arum saat ini cukup panjang kalimatnya.


"Alhamdulillah," lirih Arum setelah bacaan rotib selesai.


"Wajahmu terlihat begitu lega setelah bacaan rotib selesai." Ujar Desy.


"Aku sangat lega karena sejak tadi Aku mengantuk dan tak bisa tidur," ucap Arum jujur.


Saat ini Arum sedang merebahkan dirinya di atas lantai dengan satu bantal yang menjadi tempat ternyaman untuknya menaruh kepala.

__ADS_1


"Arum kamu kok mau tidur lagi?" sanggah Sinta yang melihat Arum akan memejamkan mata.


"Aku ngantuk Sinta, pengen tidur." Racau Arum sambil memejamkan mata karena rasa kantuk yang dia rasakan benar-benar sudah merasuk ke dalam dirinya.


"Arum!! bangun!! ayo ngaji subuh!" ajak Sinta menarik tangan Arum sampai dia terpaksa duduk meski matanya masih terpejam.


Arum yang di paksa oleh Desy dan Sinta langsung berdiri meraih kerudung memakainya asal dan mengambil kitab juga bulpen, berjalan lunglai tanpa semangat mengikuti langkah Desy dan Sinta menuju mushollah.


"Desy, Sinta!" panggil Arum saat mereka sudah hampir sampai di mushollah. Desy dan Sinta memang berjalan di depan Arum.


"Apa Arum?" tanya Desy


"kita duduk di belakang aja ya, Aku takut ketiduran," lirih Arum.


"Okey," sahut Sinta.


Kedua teman Arum berjalan mencari tempat duduk paling belakang dengan posisi strategis agar tak terlihat meski sedang tidur.


Hasan memulai pelajaran memaknai kitab dan mulai menjelaskan arti dari kitab yang di maknainya.


"Pasal tentang segala sesuatu yang menjadikan pernikahan tidak sah kecuali dengan sesuatu tersebut," Hasan mengartikan tema yang akan mereka bahas di pertemuan kali ini.


"Tidak sah suatu akad pernikahan kecuali dengan (adanya) wali yang adil, dan dalam sebagian keterangan yaitu dengan wali laki-laki." Hasan kembali mengartikan makna dari kitab yang baru saja dia baca.


"Jadi, pernikahan akan di katakan sah jika walinya laki-laki seperti Ayah, Kakek, Kakek buyut, Paman saudara dari Ayah. mereka bisa menjadi wali yang sah." Hasan kembali menjelaskan pasal yang sedang dia bahas.


"Jika ada yang perlu di tanyakan silahkan!" Hasan memberi waktu pada santri untuk bertanya.


"Jika semua wali yang di sebutkan Mas Hasan telah meninggal maka siapa yang berhak menjadi wali penggantinya?" tanya Desy yang sejak tadi antusias mendengarkan penjelasan Hasan.

__ADS_1


Mendengar ada yang bertanya Hasan reflek langsung melihat ke arah asal suara, dan betapa terkejutnya saat dia melihat Arum yang sedang tertidur lelap di paha temannya.


'Astaghfirullah,' batin Hasan yang melihat pemandangan lucu sekaligus indah.


Awalnya Arum terlihat lucu karena tertidur di antara para santri yang sedang serius mendengarkan penjelasan Hasan, tapi di detik berikutnya dia mulai terpanah dengan pesona yang di miliki oleh Arum, jika yang tidur itu santri lain Hasan akan merasa biasa saja tapi karena yang tidur Arum gadis yang kini mengisi relung hatinya dan kadang hadir di dalam mimpinya.


Bahkan Arum bukan hanya hadir di mimpi biasa yang Hasan alami, tapi Arum juga sering datang di mimpi Hasan yang luar biasa hingga membuatnya harus mandi setelah bangun.


'Masya Allah, sungguh indah ciptaanmu. Semoga kamu takdirku,' batin Hasan.


Desy yang menyadari jika Hasan terus menatap ke arahnya langsung menyenggol lengan Sinta agar gadis itu membangunkan Arum yang sedang lelap di pangkuan Sinta.


"Arum bangun!" lirih Sinta menggoyangkan paha yang sejak tadi di pakai bantal untuk Arum tidur.


"Ehhh," bukannya bangun Arum malah menggeliat manja di paha Sinta sambil mengeluarkan suara lenguhan indah dari mulutnya.


"Arum bangun!!" Sinta sedikit mengeraskan nada bicaranya.


"Apa si Sin? jangan berisik Aku ngantuk!" ucap Arum yang masih belum sadar di mana dia tidur sekarang.


"Khem," suara deheman Hasan sukses membuat Arum membuka mata sempurna.


Arum yang baru sadar langsung membuka mata duduk memperhatikan sekitar dengan wajah bingung.


Bayangkan saja semua santri kini menatap ke arahnya dan yang paling membuat Arum bingung bercampur malu adalah tatapan Hasan yang sejak tadi tak beralih darinya.


"Khem," Arum mengatur nafas dan detak jantungnya yang terasa aneh melihat semua yang ada di mushollah menatapnya.


"Maaf, saya ketiduran Mas Hasan," dari pada memikirkan atau melihat semua tatapan yang menuju padanya, Arum lebih memilih untuk meminta maaf dan berharap masalah ini selesai sampai di sini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," jawab Hasan dengan nada dingin.


Sebenarnya Arum begitu malu tertangkap basah karena ketiduran, tapi nasi sudah jadi bubur sungguh sangat terlambat untuk di perbaiki.


__ADS_2