
Sejenak suasana menjadi hening, semua yang ada di ruang keluarga terdiam membisu hingga suara Abi memecahkan keheningan.
"Baiklah jika Arum sudah setuju, maka lusa acara akad nikahnya akan di laksanakan dan pelaksanaannya di tempat oma Arum, Abi harap tak ada yang protes dan semua orang setuju dengan masalah yang sudah di putuskan ini." Ucap Abi dengan nada tegas.
Semua hanya diam dan mengangguk sebagai tanda persetujuan hingga akhirnya Abi memutuskan untuk berdiri meninggalkan ruang keluarga.
"Terima kasih," ucap Hasan.
"Terima kasih untuk apa Kak?" tanya Arum yang tak mengerti dengan ucapan terima kasih yang keluar dari bibir Hasan.
"Terima kasih karena kamu sudah setuju dengan apa yang sudah di putuskan oleh keluarga kita," Hasan menjelaskan ucapan terima kasih yang di maksudnya.
"Iya," jawaban singkat Arum sudah cukup membuat Hasan merasa lega.
"Umik!" panggil Huda sembari berdiri hendak pergi dari ruang keluarga.
"Iya, Nak," sahut Umik yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Huda.
"Huda permisi dulu Umik, semuanya assalamualaikum," pamit Huda yang langsung berdiri melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Waalaikum salam," sahut semua orang yang ada di ruang keluarga.
"Arum ikutlah dengan Umik!" ajak Umik meraih tangan Arum dan mengajaknya masuk ke dalam kamar Umik.
"Ada apa Umik?" tanya Arum yang merasa bingung dengan sikap Umik yang tiba-tiba menarik tangannya untuk ikut bersamanya.
Umik tak menjawab pertanyaan Arum, dia malah terus melangkah mendekat ke arah lemari setelah menyuruh Arum duduk di kursi yang ada di kamarnya.
Satu gaun putih yang terlihat begitu mewah nan indah di keluarkan dari lemari lengkap dengan hijab dan satu kotak sepatu high hills yang tersusun rapi.
"Cobalah!" titah Umik sambil mengulurkan gaun yang tadi di keluarkan dari lemari.
__ADS_1
"Ini baju siapa Umik?" bukannya langsung mencoba Arum malah melempar pertanyaan ke. Umik yang membuat Umik langsung tersenyum.
"Ini baju kamu," jawaban Umik membuat Arum terkejut pasalnya dia merasa tak pernah membeli ataupun memiliki baju yang saat ini di bawa oleh Umik.
"Baju Arum dari mana Umik? perasaan Arum tidak pernah membeli atau punya baju seperti ini," ucap Arum.
"Ini baju untuk akad nikah lusa, Umik sengaja pesankan baju ini untukmu." Jawaban Umik tetap saja tak bisa membuat hati Arum lega.
"Loh, Umik tahu ukuran baju Arum dari mana?" Arum yang merasa tak pernah memberitahu ukuran bajunya pada siapapun kini kembali bertanya.
"Ukuran bajumu itu sangat mudah Umik dapatkan, apa kamu lupa kalau bundamu adalah sahabat Umik? maka ukuran bajumu bukanlah hal sulit untuk Umik dapatkan," jelas Umim dengan ekspresi dan nada bangga yang terdengar sedikit menjengkelkan.
Arum yang mendengar Umik sedikit menyombongkan diri hanya bisa memutar bola mata malas kemudian beranjak pergi menuju kamar mandi untuk berganti baju.
Gaun putih yang terlihat anggun nan mewah semakin memancarkan keanggunannya saat Arum memakainya, perlahan tapi pasti Arum berjalan keluar menghampiri Umik yang sedang duduk menunggunya.
"Masya Allah, kamu cantik sekali Nak," ujar Umik dengan tatapan penuh kagum ke arah Arum.
"Ukuran hillsnya juga pas, terima kasih Umik," Arum yang merasa Umik begitu perhatian meski ada sedikit ucapan sengak yang terdengar tapu tetap saja Arum bahagia mendapatkan calon mertua yang begitu baik juga perhatian padanya.
"Sama-sama, Umik bahagia melihatmu bahagia apalagi jika kamu bisa menerima dan benar-benar menyayangi putera Umik, maka kebahagiaan Umik akan semakin lengkap," ujar Umik yang sukses membuat Arum terdiam, entah bagaimana perasaan Arum terhadap Hasan saat ini? yang Arum tahu hanya satu hal yaitu Arum akan terus berusaha menerima takdirnya dan menhadi istri sebaik mungkin.
"Arum," lirih Umik sembari menuntun tangan Arum untuk duduk di sampingnya.
"Iya, Umik," sahut Arum yang ikut duduk di samping Umik.
"Bolehkah Umik minta sesuatu padamu?" tanya Umik dengan ekspresi wajah serius yang membuat Arum seketika menjadi tegang.
"Memangnya Umik mau minta apa sama Arum?" tanya Arum dengan nada berhari-hati.
"Umik hanya minta, jadilah istri yang baik untuk Hasan, istri yang bisa menerima apa adanya dan mau menemaninya saat susah maupun senang dan istri yang mencintai juga menyayangi putera Umik setulus hatinya, apa Arum sanggup memenuhi permintaan Umik?" Wajah Umik saat ini bernar-benar berbeda, dia terlihat begitu mengharapkan Arum agar bisa memenuhi keinginannya.
__ADS_1
Sejak awal Umik memang sudah yakin jika suatu saat Arum pasti akan bisa memenuhi apa yang di inginkannya, menjadi seorang istri yang sempurna bagi Hasan meski Umik tahu jika di dunia ini tak ada yang sempurna tapi Umik yakin Arum memang gadis yang tepat untuk Hasan.
"Umik!" tegur Arum yang bingung melihat Umik malah terdiam mematung dengan tatapan kosong.
"Iya, bagaimana Arum?" sahut Umik spontan.
"Umik tenang saja, Arum akan berusaha sebisa Arum untuk menjadi istri yang baik bagi Kak Hasan, dan Umik tidak perlu khawatir karena Arum bukan gadis yang mudah berpaling atau pergi saat pasangan Arum dalam kesulitan." Arum yang mengerti kegelisahan dan kekhawatiran Umik hanya biaa menenangkannya dengan sepatah dua patah kata karena Arum merasa jika memberi bukti akan jauh lebih baik dari pada menenangkan dengan kata-kata atau janji yang entah bisa di tepati atau tidak.
"Alhamdulillah, terima kasih untuk semuanya Nak," ucap Umik sambil memeluk Arum dengan air mata yang mulai mengalir bak air terjunsaking derasnya.
"Harusnya Arum yang berterima kasih," sahut Arum yang merasa jika dirinyalah yang beruntung karena sudah mendapatkan calon suami dan mertua sebaik Umik dan Hasan.
"Umik, Arum sangat bahagia bisa jadi menantu Umik, semoga apa yang telah terjadi dan akan terjadi adalah hal yang paling baik sepanjang bulan ini," Arum benar-benar bahagia mendapatkan takdirsebagus sekarang.
"Semoga kamu selalu bahagia Nak, dan semoga semua akan baik-baik saja," untaian harapan Umik panjatkan yang du amini oleh Umik.
"Baiklah untuk acara tangis-tangisannya sudah selelsai, sekarang kamu bisa kembali ke asrama. Bersiap dulu sebelum belajar bersama Hasan." Titah Umik yang merasa sudah cukup menangis untuk kebahagiaan di hari esok.
"Arum pamit dulu Umik, assalamualaikum," pamit Arum meraih punggung tangan Umik kemudian pergi keluar dari kamar Umik setelah merapikan kembali gaun yang akan di kenakan untuk akad nikah lusa.
Arum berjalan perlahan meninggalkan rumah Umik dan berhenti karena suara yang begitu familiar terdengar memanggil namanya.
"Arum!" panggil laki-laki itu membuat langkah Arum langsung berhenti.
"Kak Huda, ada apa?" Arum yang tak ingin menaruh harapan untuk Huda langsung menyahut dan melempar pertanyaan pada Huda.
"Ada yang ingin Aku bicarakan denganmu. Jadi ikutlah denganku!" titah Huda dengan ekspresi wajah memohon penuh belas kasihan.
"Apa yang ingin Kakak bicarakan? kenapa Arum harus ikut? apa tidak bisa di bicarakan di sini saja?" tawar Arum yang merasa tak enak hati jika harus ikut Huda begitu saja, meski di pesantren ini hanya Hasan yang tahu tentang hubungan Arum dan Huda, tapi bagi Arum yang begitu menghargai suatu hubungan akan sulit untuk ikut Huda. Arum benar-benar tak ingin terjadi kesalah fahaman jika ada yang melihat dia hanya berdua dengan Huda.
"Aku hanya ingin berbicara tentang keputusan yang sudah kamu ambil, apa kamu yakin menerima semuanya begitu saja? apa kamu tidak khawatir dengan hidupmu di kemudian hari, Arum menikah sirri memang sah di mata agama tapi tidak di mata hukum. Sekalipun kamu sudah menikah tapi kamu tidak punya status pernikahan di mata hukum, da~" ucapan Huda terpotong dengan ucapan Arum.
__ADS_1
"Kak Huda, Arum percaya dan yakin dengan apa yang Arum putuskan. Jadi Kakak tidak perlu khawatir cukup do'akan saja semoga semuanya baik tak ada halangan apapun sampai akhirnya Aku dan kak Hasan menikah secara resmi." potong Arum dengan nada tegas.