
"Pagi Bunda, Ayah," seperti biasa Arum menyapa kedua orang tuanya seraya mencium pipi keduanya, dan apa yang di lakukannya sukses membuat Hasan yang tak mendapatkan ciuman yang sama mendadak kehilangan semangatnya.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Bunda Fia yang melihat Hasan berjalan mendekat dengan langkah gontai dan wajah di tekuk.
"Tidak apa-apa Bunda, Hasan hanya lelah," jawab Hasan sambil duduk di samping Arum yang menatapnya aneh.
'Kak Hasan kenapa ya? bukankah tadi dia baik-baik aja?" batin Arum.
"Habis berapa ronde Dek, samapai kecapek'an gitu?" celetuk Steve yang memiliki kepribadian ceplas ceplos.
Celetuk'an Steve membuat Bunda Fia langsung memelototi Steve yang justru cengar cengir menanggapi pelototan sang Bunda.
Suasana meja makan kali ini terlihat sangat berbeda, terasa lebih lengkap dan ramai. Bunda Fia menatap satu persatu anggota keluarganya yang sekarang berada dalam satu meja yang sama. Sungguh suasana langkah yang terjadi membuat Bunda Fia begitu bahagia.
"Abi!" panggil Arum.
Saat ini keduanya sedang duduk di balkon kamar setelah sarapan pagi usai.
"Iya Syei', ada apa?" sahut Hasan melangkah pelan menghampiri Arum setelah mengambil laptop dari dalam kamar.
"Abi lagi ngerjain apa sih? dari tadi sibuk otak atik laptop mulu." Tanya Arum dengan ekspresi jengkel.
Entah mengapa sejak acara akad nikah kemarin Arum merasakan sesuatu yang berbeda, dia mudah merasa marah, jengkel dan bahagia dengan sesuatu yang sebenarnya sepele.
"Kenapa? kamu gak suka kalau Aku lebih sering mantengin laptop dari pada menghabiskan waktu bersamamu? apa Aku sudah menerobos masuk ke dalam hatimu? atau kamu sudah jatuh cinta sama suami tampanmu ini? hmmm?" cicit Hasan sembari menaik turunkan alisnya di lengkapi senyum menggoda yang selalu dia tampilkan saat bersama dengan Arum.
"G R kamu Bi, siapa juga yang jatuh cinta?" sahut Arum.
"Kok G R? Abi justru bahagia kalau istriku yang paling ku cinta ini bisa jatuh cinta pada Abi," Hasan semakin mendekatkan diri dan kini duduk di samping Arum.
__ADS_1
"Mas geser donk! sempit ini," keluh Arum yang kini duduk di ujung kursi tidur.
"Pagi-pagi gini enaknya duduk deket-deketan Syei', dingin."Bukannya menjauh Hasan malah semakin mendekat.
"Sudahlah, Aku mau mandi dulu gerah." Ujar Arum yang langsung berdiri meninggalkan Hasan yang masih duduk diam di tempat.
"Pagi-pagi udah gerah, sini Abi bantu biar gak gerah lagi!" ujar Hasan.
"Gak perlu Arum bisa sendiri," sahut Arum semakin mempercepat langkahnya menjauhi Hasan yang tersenyum mesum ke arah Arum.
"Pelan tapi pasti, Aku bakal bisa taklukin hatimu istriku. Tunggu Abi masuk ke dalam hatimu," lirih Hasan dengan tatapan lurus ke arah Arum yang menghilang di telan pintu.
Pagi yang indah bagi dua sejoli yang baru saja menikah, meski keduanya masih dalam tahap penyesuaian tapi keromantisan yang di ciptakan Hasan membuat suasana terasa hangat.
Berbeda dengan Hasan, Husein justru sedang berjuang mendapatkan cinta baru sebagai pengganti Arum.
"Umik!" panggil Husein berjalan mendekati Umik yang duduk di ruang keluarga dengan setumpuk kertas di atas meja, Umik sedang membantu para guru untuk mengoreksi hasil ujian diniyah yang sedang berlangsung, Umik memang tidak ikut mengajar setiap hari, beliau bertugas menjadi guru pengganti saat ada guru yang tidak bisa masuk sekaligus bertugas untum membantu para guru mengoreksi hasil ujian yang sedang di langsungkan.
"Ada yang ingin Husein bicarakan, apa Umik ada waktu? atau nanti saja? sepertinya Umik sed
ang sibuk," Husein terlihat begitu gugup, ekspresi wajahnya tak seperti biasanya.
"Duduklah Nak! Umik akan selalu ada waktu untukmu," jawab Umik dengan senyum yang merekah sambil menepuk sebelah sofa tempatnya duduk.
"Umik, sebenarnya Husein ingi~" ucapan Husein terhenti saat Hana tiba-tiba datang.
"Permisi Umik," ujar Hana.
"Iya Mbak, ada apa?" sahut Umik mengalihkan pandangannya ke arah Hana yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
__ADS_1
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Umik." Jawab Hana dengan ekspresi wajah bingungnya.
Sebenarnya sejak tadi Hana bingung mau
menyampaikan pesan langsung atau menunggu Umik selesai berbicara dengan Arum, tapi Hana yang melihat tamu Umik memutuskan untuk langsung memberitahukan jika ada tamu yang sedang menunggunya.
"Tamu siapa Mbak?" tanya Umik yang merasa tak punya janji dengan siapapun saat ini.
"Itu Umik, ada wali santri yang datang berkunjung. Mungkin mau meminta izin untuk anaknya." jawab Hana menebak tujuan sang tamu datang. karena biasanya wali murid akan datang berkunjung meminta izin untuk membawa anaknya pulang. Kecuali jika mereka berkunjung saat ada acara yang di adakan oleh pesantren.
"Baiklah, tolong suruh tunggu sebentar!" titah Umik yang langsung di patuhi oleh Hana.
"Teruskan Nak! kamu mau ngomong apa barusan?" tanya Umik.
"Nanti saja Umik, lebih baik Umik temui dulu wali santri itu. Takut ada yang penting," Jawaban bijak Husein membuat Umik tersenyum bahagia, bagaimana tidak bahagia mendengar Husein yang terdengar begitu bijak, dia lebih mementingkan kepentingan dirinya dari pada orang lain.
"Baiklah, kalau begitu Umik tinggal dulu. Kamu tunggu di sini!" ucap Umik kemudian melenggang pergi menuju ruang tamu san meninggalkan Husein yang masih setia duduk di sofa tanpa merubah posisinya.
Cukup lama Umik pergi menemui wali santri yang datang berkunjung membuat Husein yang awalnya biasa saja kini mulai jenuh, tanpa sengaja netra mata Husein melihat beberapa tumpukan berkas di atas meja, kertas ujian yang tadi belum selesai di kerjakan oleh Umik.
Tanpa fikir panjang Husein mengambil semua kertas ujian yang di tumpuk di atas meja kemudian mulai mengerjakannya.
"Umik masih saja membantu para guru, padahal sebenarnya ini bukan tugasnya," gumam Husein sambil mengambil kertas yang di tumpuk rapi di atas meja.
Umik memang lumayan lama menemui wali santri yang ternyata meminta izin untuk mengajak putrinya yang sedang sakit pulang ke rumah.
"Loh kok kamu yang ngerjain Nak? biarkan saja di situ! biar nanti Umik yang mengerjakannya." Ujar Umik berjalan mendekat ke arah Husein setelah menemui wali murid.
"Tidak apa-apa Umik, sudah selesai juga," sahut Husein sambil menyelesaikan satu kertas yang tersisa.
__ADS_1
"Sudah jangan di lanjutin! sekarang lebih baik kamu lanjutin mau ngomong apa tadi?" ujar Umik sambil duduk di samping Husein yang masih mengoreksi sisa kertas ujian.
"Sebentar Umik, tinggal sedikit lagi." Jawab Husein sembari menyelesaikan sisa kertas ujian yang tinggal satu.