
"Dunia memang sempit maksudnya gimana Ayah?" tanya Huda yang merasa penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh Arif sang Ayah.
"Gak ada maksud apa-apa, oh ya kamu kapan balik ke Australia?" Arif mencoba mengalihkan pembicaraan agar Huda tak membahas masalah ucapannya barusan.
"Minggu depan aku balik Ayah," jawab Huda.
"Apa kamu tidak ingin pulang dulu, Nak?" tanya Imah yang sebenarnya masih merindukan sang Putera.
"Aku akan pulang nanti sehari sebelum keberangkatanku Bu," jawab Huda.
"Kenapa cuma sehari, Nak?" tanya Imah.
"Ibu kuliahku tinggal setahun saja, setelah itu aku alan kembali ke indonesia dan tinggal bersama Ayah dan Ibu. Jadi Huda minta Ibu bersabar sebentar saja." Jawab Huda.
"Sudahlah Bu, jangan buat anak kita bimbang! biarkan dia mengejar cita-citanya. Tugas kita sebagai orang tua hanya berdo'a dan mendukungnya." Arif yang mendengar istrinya masih mengeluh dan menginginkan sang anak tinggal lebih lama di sisinya harus mengingatkan Imah kembali tentang tujuan Huda pergi ke Australia.
"Hasan sudah menikah dan sebentar lagi Uqi punya cucu, terus aku kapan punya cucunya kalau puteraku saja masih sibuk belajar di luar negeri?" tanya Imah dengan ekspresi wajah memelas.
"Sabar Bu, semua pasti indah pada waktunya," ucap Huda mencoba menenangkan hati sang Ibu.
"Umik, ini makanannya." Ucap Desy yang baru saja datang dengan satu nampan berisi dua porsi makanan untuk kedua orang tua Huda.
"Terima kasih ya Desy," ucap Umik dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Iya, Umik," sahut Desy seraya berjalan mundur menunjukkan rasa hormatnya kemudian perlahan pergi meninggalkan Umik dan yang lain.
Huda yang melihat Desy datang hingga menghilang di balik pintu tak luput dari perhatian Sang Ibu yaitu Imah, sebagai seorang Ibu Imah sangat mengertijika sang putera saat ini sedang tertarik pada seorang gadis, perlahan Imah menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Huda dengan niat membisikkan sesuatu di telinganya.
"Apa Kamu tertarik dengan gadis itu?" bisik Imah tepat di telinga Huda yang reflek di tanggapi dengan anggukan oleh Huda yang belum sadar sepenuhnya dari rasa kagumnya saat melihat Desy.
__ADS_1
"Kapan kita bisa ke rumahnya? Umik akan meminangnya untukmu." Imah kembali berbisik dan bisikan Imah kali ini di sadari oleh Huda.
"Eh apa, Bu?" sahut Huda yang mulai menyadari ucapan Sang Ibu.
"Kapan Ibu bisa ke rumahnya dan meminta dia untukmu?" Imah kembali memperjelas perkataannya.
"Maksud Ibu apa?" tanya Huda dengan nada bicara yang rendah karena tak ingin orang lain tahu apa yang di bicarakan keduanya.
"Sudah jangan berpura-pura! Ibu tahu jika kamu punya perasaan khusus pada gadis itu," ujar Ibu Huda.
"Tapi dia bukan berasal dari kalangan sosialita Bu, apa Ibu tidak keberatan?" Huda menanyakan permasalahannya.
"Pertanyaan macam apa itu Huda? Ibu bukan orang yang suka memandang orang lain lewat hartanya." Ujar Imah seraya menepuk pelan paha sang anak yang berada tak jauh darinya.
"Kak Imah ngobrolin apa sih? kok seru banget?" tanya Umik yang mulai kepo melihat Kakak dan keponakannya asyik mengobrol.
Imah berniat untuk memberitahukan pada Umik apa yang mereka obrolkan, tapi Imah mengurungkan niatnya karena Huda sudah memberi kode keras untuk Imah agar merahasiakannya.
"Ibu, cuma satu tahun aja, setelah itu aku akan pulang dan berkumpul bersamamu kembali." Ujar Huda dengan senyum yang di buat semanis mungkin untuk menenangkan hati sang Ibu.
"Sudahlah Bu, jangan di ributkan lagi!" sahut Arif seraya mengusap pelan punggung sang istri.
"Ayah benar, sudah gak usah di bahas! aku mau makan dulu." Ucap Imah enteng.
'Astaghfirullah, yang bilang kan kamu sendiri kak, kenapa sekarang kamu juga yang ngelarang kita untuk membahasnya,' batin. Umik heran mendengar ucapan Imah.
"Sudah Kakak lebih baik makan kismis itu." Ucap Umik menunjuk satu toples kismis yang dia tahu termasuk dari salah satu makanan kesukaan sang Kakak ipar.
"Nanti aku makan Dek. Sekarang Kakak mau makan ini dulu." Imah menunjukkan nasi padang yang tadi dia minta bawakan.
__ADS_1
"Suami dan puteramu yang satunya ke mana Dek?" tanya Arif yang tak melihat Adik Ipar juga keponakannya sejak pertama kali masuk ku lingkungan pesantren.
"Entahlah Kak, mungkin merek masih sibuk melihat keadaan di pelaminan." Jawab Umik seenaknya.
Suasana hangat begitu terasa Arif dan Imah yang datang juga akan menginap untuk membantu kelancaran acara pesta kini di antar masuk ke dalam kamar tamu.
"Kakak bisa istirahat di sini nanti. Aku tinggal dulu ya kak masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan." Pamit Umik meninggalkan sepasang pasutri yang terlihat begitu harmonis di hadapannya.
"Hm," jawab Arif singkat dan langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi sedang Huda pergi ke pondok putera untuk melihat suasana di sana.
"Ayah," lirih Imah yang berniat untuk memberitahukan pada Arif tentang puteranya yang tadi terlihat memiliki tambatan hati lain.
"Apa Sayang? sini duduk di dekatku!" titah Arif.
Imah yang sejak dulu memang sudah memiliki sifat penurut hanya bisa mengikuti perintah Arif tanpa bisa menolaknya.
"Aku kangen kamu Sayang," cicit Arif sambil menciumi tengkuk leher Imah yang kini sudah tak lagi memakai kerudung di kepalanya karena Arif baru saja melepas kerudung yang ada di sana.
"Isssh, Ayah ini di rumah Uqi Adikmu, jangan macam-macam dulu! gak enak Yah," keluh Imah.
Swjak pertama menikah sampai detik ini Imah tak pernah sekalipun mengeluh jika Arif sedang menginginkannya, tapi apa yang terjadi saat ini memaksa Imah untuk mengeluh agar sang suami tak melanjutkan aksinya. Karena I.ah tahu dengan paati jika sang suami akan membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk melepaskannya.
"Tumben banget kamu ngeluh Sayang," ujar Arif jujur.
"Maaf Ayah, bukan maksud aku untuk mengeluh karena lelah atau tidak suka tapi saat ini memang bukan waktu yang tepat Yah," Imah menjelaskan alasan dia mengeluh yang terlihat seolah dia menolak Arif.
"Aku mengerti Sayang, kalau begitu biarkan aku sejenak tidur di pangkuanmu," ujar Arif yang kini malah tidur di pangkuan Imah dengan posisi menghadap ke perut Imah yang masih saja rata meski sudah melahirkan seorang bayi.
"Ishhh Ayah, jangan gini geli tahu," Imah kembali mengeluh saat Arif menggerakkan kepalanya yang menempel di perutnya.
__ADS_1
Arif dan Imah memang selalu terlihat harmonis saat bersama. Keduanya tak pernah bertengkar selama menikah hanya perselisihan kecil yang sering terjadi dalam rumah tangga yang membuat mereka semakin terikat satu sama lain.