Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kelahiran Yang Tak Terduga


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tanpa terasa kini sudah kurang sepuluh hari prediksi dokter untuk kelahiran bayi milik Hasan dan Arum, semakin dekat hari kelahiran Arum, maka semakin dekat pula kepulangan Huda ke indonesia. Tapi hingga saat ini tak ada sedikitpun kabar kapan Huda akan pulang, sepertinya dia merahasiakan kapan dia akan kembali.


"Syei'!" panggil Hasan dengan nada lembut selembut sutera.


"Iya, Bi, ada apa?" sahut Arum yanf baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Ayo pergi jalan-jalan!" ajak Hasan, sejak seminggu yang lalu Hasan rutin mengajak Arum jalan santai di depan area pesantren, tak jarang pula Hasan mengajak Arum jalan santai ke jalan raya kemudian berhenti di sebuah kedai untuk mengisi perut.


"Tunggu Bi, aku mau siap-siap dulu." Cegah Arum saat dirinya menyadari jika saat ini dia masih belum rapi, apalagi dengan baju yang dia pakai.


"Abi tunggu di ruang tamu Syei'. Dan ingat jangan lama-lama!" Hasan mengingatkan Arum karena biasanya dia akan menghabiskan waktu cukup lama jika bersiap-siap.


"Tenang Bi! aku gak bakal lama kok, paling juga sejam lagi baru selesai jawab Arum dengan senyum menggodanya.


"Kenapa cuma satu jam Syei'? gak sekalian aja lima jam, biar matahari sudah ada di atas langit kamu baru keluar rumah, sehat enggak gosong iya," ujar Hasan membalas perkataan Arum.


Sedang Arum yang mendengar ucapan Hasan hanya bisa tersenyum lucu melihat suaminya itu jengkel. Padahal sebenarnya Hasan tidak jengkel, dia sedang bercanda membalas ucapan Arum.


"Ayo Bi!" ajak Arum sambil menarik tangan Hasan yang kini duduk di kursi ruang tamu menunggu Arum selesai bersiap.


"Kok cepet banget? bukannya tadi bilang butuh waktu satu jam?" seru Hasan yang melihat Arum sudah rapi dan wangi.


"Aku cuma bercanda Mas, gitu aja di buat serius," sahut Arum.


"Serius juga gak apa-apa," ucap Hasan berdiri mengikuti langkah Arum yang kini sudah menggandeng lengannya.


Keduanya berjalan keluar rumah melangkah beriringan menuju jalan raya, langkah Arum terasa semakin lambat karena usia kandungan yang semakin tua membuat perut Arum semakin besar, dan hal itulah yang menghambat gerak Arum.


"Abi, pelan-pelan saja! aku susah jalan cepat, jadi pelan saja Bi!" pinta Arum saat Hasan mempercepat langkahnya.


Hasan yang mendapat teguran langsung memperlambat langkahnya kemudian berjalan pelan mengikuti langkah Arum.


Semua terasa begitu indah, Arum merasa begitu bahagia karena ada Hasan di sisinya juga bayi yang akan segera lahir.

__ADS_1


"Bi, kita makan pecel di warung depan ya. aku udah laper banget," pinta Arum.


Keduanya memang belum sarapan, setelah sholat subuh tadi mereka langsung pergi untuk jalan santai. Hasan yang selalu menuruti keinginan Arum kini sudah berada di warung, Arum menghabiskan dua porsi nasi pecel.


"Bi, kenapa perut aku mules ya?" keluh Arum.


"Mungkin itu efek kamu kebanyakan makannya tadi," tebak Hasan.


"Biasanya juga gak apa-apa Bi," ucap Arum


"Apa masih sakit?" tanya Hasan saat melihat wajah Arum yangsemakin pucat menahan rasa sakit.


"Makin sakit Abi," jawab Arum.


Mendengar jawaban Arum membuat Hasan kelimpungan, dia langsung menelfon Pak Marto agar menjemput mereka dengan mobil.


"Tahan sebentar ya! Pak Marto bakal ke sini buat nyusul kita." ujar Hasan mencoba menenangkan Arum yang terlihat menahan sakit dengan wajah yang sedikit pucat.


Arum hanya bisa diam duduk sambil memejamkan mata menikmati rasa sakit yang dia rasakan sambil mencengkram kuat baju Hasanyang duduk di sampingnya.


"Makin sakit Bi," keluh Arum.


"Yang sabar Syei', sebentar lagi Pak Marto pasti datang." Ujar Hasan sambil mengusap kepala Arum yang tertutup kerudung.


Arum terus saja memejamkan mata sambil mencengkram kuat baju Hasan menahan rasa sakit di perutnya yang terasa semakin menyiksa.


"Mas Hasan!" panggil Pak Marto saat melihat Hasan dan Arum duduk di kursi depan warung, tanpa menjawab panggilan Pak Marto Hasan langsung menggendong Arum menuju mobil. Melihat kepanikan Hasan membuat Pak Marto ikut panik, dia juga berjalan cepat masuk ke dalam mobil untuk menyetir.


"Bawa kita ke Bidan terdekat!" titah Hasan, otaknya tiba-tiba sedikit susah berfikir, dia tak memikirkan rumah sakit, yang dia ingat hanya tempat yang paling dekat yang bisa dia datangi untuk memeriksa keadaan sang istri, dan otaknya pun memikirkan Bidan yang dekat dengan keberadaannya sekarang.


"Baik, Mas Hasan," jawab Pak Marto.


Mobil terus melaju menyusuri jalanan dengan kecepatan yang cukup kencang, sedang di jok bagian belakang Arum masih saja merintih kesakitan membuat Hasan semakin bingung.

__ADS_1


"Syei', ini air apa?" tanya Hasan saat melihat ada cairan yang keluar membasahi jubah yang di pakai oleh Arum.


"Mungkin aku akan melahirkan Bi, ini sepertinya air ketuban," jawab Arum semakin memperparah kepanikan yang di rasakan oleh Hasan.


"Pak Marto! tolong lebih cepat!" pinta Hasan pada Pak Marto yang kini juga ikut panik setelah mendengar Arum mengatakan jika air ketubannya sudah keluar.


Mobil semakin kencang membelah jalanan yang untungnya masih sedikit sepi karena hari masih terlalu pagi.


"Mas Hasan kita sudah sampai, silahkan!" Pak Marto yang mengerti jika Hasan sedang kalut langsung membukakan pintu dan mempersilahkannya keluar, sesang Hasan yang sudah kalut tak lagi memperdulikan siapapun termasuk Pak Marto yang masih setia berdiri di samping pintu mobil.


"Syei' tahan dulu! kita ke Bidan sekarang!" ujar Hasan sambil menggendong Arum masuk ke dalam rumah dinas sang Bidan.


"Bu, tolong istri saya!" pinta Hasan saat melihat sang Bidan sedang duduk di teras bersama anaknya.


"Mas Hasan, ada apa ini?" sahut Sang Bidan, sebagai seorang putera dari kiyai yang cukup di segani dan memiliki pesantren yang cukup terkenal membuat Hasan di kenal banyak orang, meski dirinya tak tahu pasti nama orang-orang yang mengenalnya.


"Istri saya tiba-tiba mengeluh sakit setelah sarapan tadi, dan sekarang ada air yang katanya ketuban, sepertinya dia mau melahirkan," jelas Hasan sambil menidurkan sang istri ke tempat tidur yang sudah di sediakan oleh Sang Bidan.


Mendengar penjelasan Hasan sang Bidan pun mengambil tindakan, dia mulai memeriksa apa yang terjadi.


"Masya allah ini sudah bukaan enam, Mas Hasan," tutur Sang Bidang menatap heran ke arah Arum yang masih mengeluh sakit.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya!" Hasan kembali meminta, meski sebenarnya dirinya juga merasa heran dengan penuturan Sang Bidan yang mengatakan jika Arum sudah bukaan enam, padahal mereka baru saja selesai jalan santai dan sarapan.


"Pasti, saya akan melakukan yang terbaik," jawab sang Bidan.


Melihat Arum masih terus merintih sang Bidan langsung memasangkan infus agar Arum tak kehabisan cairan, setelah itu sang Bidan masuk ke dalam rumah memasakkan air untuk Arum.


"Bu!!! ada yang mau keluar!" teriak Arum saat merasakan sesuatu mengganjal dan memaksa keluar dengan sendirinya tanpa di perintah.


Mendengar teriakan Arum sang Bidan langsung berlari menghampiri Arum yang berteriak memanggilnya.


Dan benar saja satu menit setelah Sang Bidan mendekat bayi yang ada di dalam telah keluar, terdengar jelas suara tangisan pertamanya.

__ADS_1


Oek ... oek ... oek ....


Rasa syukur terdengar dari bibir Hasan dan Arum, akhirnya bayi yang mereka nantikan selama ini akhirnya lahir juga.


__ADS_2