
Tanpa ada rasa ragu Huda yang menunggunya sejak tadi langsung mengambil alih kertas yang sejak tadi setia berada di tangan Desy.
"Beli semua barang yang tertulis di kertas itu!" Huda kembali memberikan satu kertas yang dia peroleh dari Desy.
"Baik, saya permisi Tuan." Pamit laki-laki itu degan ekspresi wajah penuh hormat juga takut.
Huda terlihat menyeramkan juga tegas tak terbantahkan saat behadapan dengan laki-laki yang tadi memanggilnya Tuan. Entah siapa laki-laki itu? Desy tak mau lagi memikirkannya.
"Ayo pergi!" ajak Huda setelah laki-laki yang dia perintah tadi sudah pergi lebih dulu, kini Huda mengajak Shinta dan Desy pergi.
Shinta dan Desy hanya bisa mengikuti langkah Huda tanpa bisa protes ataupun bertanya ke mana Huda akan mengajak mereka. Keduanya terus saja berjalan mengikuti langkah Huda yang cukup lebar dan cepat.
Mereka terus berjalan hingga sampai di dalam warung yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk tadi.
"Ayo masuk!" Huda kembali mengajak Desy dan Shinta setelah melihat kedua gadis itu terdiam.
"Desy," Shinta berbisik ke telinga Desy.
"Apa?" sahut Desy yang ikut berbisik juga.
"Makanan di sini kan mahal, bagaimana kuta busa bayar?" ujar Shinta.
Warung yang mereka tuju memang terkenal dengan makanannya yang super enak tapi memiliki harga yang cukup menguras kantong.
"Entahlah, yang penting kita ikut saja dulu." Sebenarnya sejak tadi Desy ikut terdiam memikirkan harga yang harus dia bayar kalau masuk ke dalam warung itu.
"Pesanlah apapun yang kalian inginkan, dan kali ini aku yang traktir." Ujar Huda.
Ucapan Huda sungguh seperti oase di padang pasir memberi kesegaran juga kelegaan bagi dua gadis yang masih berstatus santri yang kini duduk tak jauh dari tempat Huda duduk.
Ketiganya makan dengan lahap dan tenang, bagi santri seperti Desy dan Shinta bisa makan gratis seperti sekarang adalah hal yang cukup menyenangkan, mereka tak perlu memikirkan untuk membayar hanya cukup makan dengan tenang.
"Alhamdulillah," seru Shinta dan Desy hampir bersamaan setelah makanan yang mereka pesan telah tandas tak tersisa.
__ADS_1
Begitu juga dengan Huda yang sudah menyelesaikan makannya. Dia langsung masuk ke dalam warung entah apa yang dia lakukan Desy dan Shinta hanya bisa diam memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan oleh Huda.
"Apa kalian sudah selesai atau masih ada yang ingin kalian ambil?" tanya Hida setelah keluar dari dalam warung.
"Tidak terima kasih, ini sudah cukup." Sahut Desy cepat sebelum Shinta sahabat yang terlalu ceplas ceplosnya itu meminta untuk di bungkuskan.
"Baiklah, ayo kita kembali ke mobil!" Huda berjalan mendahului Desy dan Shinta keluar dari warung dengan satu kantong plastik hitam yang entah apa isinya.
"Desy lihatlah!" seru Shinta menunjuk ke arah deretan tas yang terpajang di tokoh.
"Kenapa?" sahut Desy dengan nada malas, bukannya Desy tak suka dengan tas yang di tunjuk oleh shinta hanya saja saat ini sangat tidak mungkin untuknya membeli tas baru karena uang kiriman yang di berikan orang tua Desy hanya cukup untuk keperluannya di pesantren.
"Mas Huda!" panggil Shinta mencoba menghentikan langkah Huda.
"Iya, Shinta, ada apa?" sahut Huda menghentikan langkahnya menoleh ke arah Desy dan Shinta yang ada di belakangnya.
"Mas Huda, aku pingin mampir ke tokoh tas itu apa boleh?" tanya Shinta.
"Silahkan!" sahut Huda yang di tanggapi sebuah senyuman kebahagiaan oleh Shinta.
Desy yang berasal dari keluarga sederhana tak bisa membeli barang sesuka hati seperti Shinta yang notabennya puteri seorang kepala Desa.
"Shinta, aku lagi gak pengen beli tas. Bisakah kita langsung pulang aja?" Ujar Desy sambil menahan langkah Shinta agar tak masuk ke dalam tokoh.
"Kalau kamu gak mau beli gak apa-apa, tapi anterin aku ya." Pinta Shinta dengan ekspresi wajah memelas.
"Baiklah, ayo!" dengan sedikit terpaksa Desy mengikuti kemauan Shinta untuk menemaninya membeli tas.
Huda hanya terdiam mengamati apa yng terjadi di hadapannya, sangat terlihat jelas wajah terpaksa Desy untuk menemani Shinta memilih tas. Ekspresi wajah Desy membuat Hida bertanya-tanya kenapa dan ada apa? sungguh terasa aneh jika seorang gadis tak menyukai tas. Setahu Huda tas termasuk salah satu barang penting yang selalu menjadi incaran para gadis.
"Siapa sebenarnya kamu Desy?" lirih Huda mulai penasaran dengan jati diri Desy.
Huda terus saja menatap Desy yang menemani Shinta memilih tas tanpa tahu jika Huda sedang memperhatikan dirinya, cukup lama Huda memperhatikan keduanya hingga Shinta menemukan tas yang dia inginkan.
__ADS_1
"Mas Huda!" tegur Desy sesaat setelah keluar dari tokoh tas. Dia melihat Huda terdiam mematung menatap tokoh yang baru saja di sambangi.
"Eh, i~iya," sahut Huda gugup karena ketahuan tengah melamun.
"Mas Huda ngelamunin apa?" tany Desy mulai kepo dengan apa yang di fikirkan oleh Huda.
"Mikirin kamu," jawab Huda spontan.
"Khem, khem, di sebelah masih ada orang loh," sindir Shinta.
"Maaf aku hanya bercanda, kalau sudah ayo balik! Umik pasti sudah nungguin di pesantren." Ucap Huda sambil melangkah meninggalkan Desy dan Shinta yang masih berdiri di tempat.
"Ayo buruan!" ajak Huda tanpa menoleh ke arah Desy dan Arum.
Dengan langkah lebar keduanya berjalan mengikuti langkah Huda meninggalkan pasar menuju parkiran dimana orang suruhan Huda sudah menunggu di sana.
"Tuan, semua barang yang tertulis sudah saya belikan dan saya simpan di bagasi." Ucap seseorang yang tadi di perintah untuk membeli barang oleh Huda.
"Baiklah, kamu bisa kembali ke kantor." Jawab Huda tanpa ada kata terima kasih.
"Terima kasih ya Pak," celetuk Desy yang merasa tak enak hati karena telah menyuruhnya untuk berbelanja.
"Sama-sama non," jawabnya.
"Maaf ya pak ngerepotin," sambung Desy dengan ekspresi wajah sungkannya.
"Tidak apa-apa Non, lagi pula ini sudah menjadi kewajiban saya." Jawabnya sambil melenggang pergi meninggalkan parkiran dengan ekspresi wajah takut karena melihat tatapan Huda yang terlihat mematikan.
Melihat asisten pribadinya telah pergi Huda langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil di ikuti Desy dan Shinta yang berjalan di belakangnya.
Huda memang seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa, tapi dia juga punya usaha restauran sendiri yang di percayakan pada asistennya sementara waktu, selama Huda masih fokus kuliah di mempercayakannya pada asisten pribadinya, dia hanya mengontrol dri jauh.
"Kenapa kamu meminta maaf dan berterima kasih pada asistenku?" tanya Huda saat ketiganya telah berada di mobil.
__ADS_1
"Apakah ucapanku salah?" bukannya menjawab Desy malah balik bertanya.