Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Persiapan Ijab Kabul


__ADS_3

"Kamu benar, tapi ikhlas sepenuhnya itu butuh proses yang tak bisa di singkat. Sejatinya hati itu sudah ada yang mengatur dan membolak balikkannya, kita hanya bisa berusaha ikhlas tanpa tahu kapan kata ikhlas itu bisa benar-benar terwujud." Sahut Huda yang kembali menatap air sungai yang mengalir.


Mendengar deru air sungai memberi ketenangan tersendiri bagi seseorang yang mendengarkannya, begitu pula dengan Huda yang merasakan ketenangan dalam dirinya saat mendengar deru aliran sungai yang ada di hadapannya sekarang.


Desy yang merasa sudah terlalu lama berada di luar pesantren langsung beranjak pergi meninggalkan Huda yang masih saja terdiam menatap aliran sungai di depannya hingga dia tak menyadari jika Desy sudah tak lagi ada di sampingnya.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Huda tanpa mengalihkan pandangannya yang masih lurus ke depan, cukup lama Huda terdiam menanti jawaban dari gadis bijak yang sejak tadi dia kira berdiri di hadapannya.


"Astaghfirullah, ke mana dia?" ucap Huda saat dia menoleh ke tempat gadis yang tadi di sampingnya tapi justru dia sudah tak ada di tempatnya.


Huda yang menyadari kebodohannya hanya menggelengkan kepala pelan dan beranjak pergi untuk kembali ke dalam pesantren, sungguh pertemuan yang tak terduga dengan Desy yang kini mendapat julukan gadis bijak oleh Huda, membuatnya sadar jika dia harus berusaha lebih keras lagi melupakan Arum dan memulai hidup yang baru.


Jika Huda masih berjuang melupakan Arum maka berbeda halnya dengan Husein yang kini mulai menceritakan pertemuan juga keinginannya untuk menikah seperti yang di rencanakan oleh sang Kakak.


"Umik!" panggil Husein menghentikan langkah Umik yang hendak masuk ke dalam kamar.


"Ada apa Nak?" sahut Umik mengurungkan niat untuk membuka pintu malah berbalik berjalan menghampiri Husein yanf berdiri tak jauh darinya.


"Ada yang ingin Husein bicarakan, bisakah kita bicara di ruang keluarga Umik?" Husein yang sudah bertekad untuk menceritakan segalanya pada Umik kini duduk di sofa ruang keluarga bersama sang Umik.


"Kamu mau bicara apa Nak?" tanya Umik yang merasa sedikit bingung dengan sikap puteranya itu.


"Umik, sebenarnya Husein sedang menyukai seorang gadis, jika Husein meminta Umik meminangnya untukku apa Umik bersedia?" tanya Husein sambil menundukkan wajah malu.

__ADS_1


"Masya Allah, Umik bahagia sekali mendengarnya Nak, bukan hanya bersedia bahkan Umik akan memintanya sekarang!" ujar Umik membuat Husein terkejut, karena dia tak menyangka jika respon Umik akan seheboh ini.


"Ayo kita berangkat sekarang!" Umik berdiri sembari memegang tangan Husein.


"Umik, tidak sekarang juga berangkatnya." Tolah Husein yang merasa jika respon sang Umik benar-benar mengejutkannya.


"Baiklah kapan kita akan pergi ke sana? bagaimana kalau besok?" Umik yang merasa begitu bahagia karena puteranya bisa melupakan gadis yang akan menikah dengan Hasan itu langsung mengajaknya pergi untuk meminang sang gadis, saking senangnya Umik sampai lupa jika besok adalah hari di mana Hasan akan mengucapkan ijab kobul dan menjadikan Arum istrinya.


"Apa Umik lupa?" sahut Husein.


" Lupa apa?" tanya Umik yang merasa tak pernah melupakan sesuatu.


"Umik, besok adalah hari yang penting bagi kakak, bukankah besok Kakak akan menikah?" Husein yang tahu jika Umiknya lupa karena terlalu senang mendengar keinginannya untuk melamar seorang gadis langsung mengingatkan kembali rencana yang sudah tersusun untuk acara besok.


"Hal penting apa Umik? apa Umik melupakan sesuatu untuk acara besok? atau ada sesuatu yang bisa Aku bantu?" sahut Husein yang mengira jika hal penting yang Umik maksud berkaitan dengan acara akad nikah besok.


"Bukan, saat ini yang paling penting adalah penjelasan kamu tentang siapa gadis yang sudah mencuri hati putra Umik ini," jawab Umik dengan senyum yang terlihat begitu merekah seolah memberi isyarat jika saat ini Umik sedang merasa bahagia.


"Gadis itu bernama Zahra Umik, lebih tepatnya Adik dari Zein anak alumni santri di sini," jawab Husein.


"Masya Allah, jadi yang kamu maksud Zahra anaknya Rina?" Umik memastikan jika dugaannya memang benar.


"Benar Umik," jawab Husein membenarkan apa yang Umik sangka.

__ADS_1


Zahra memang putri dari Rina alumni santri di pesantren yang sekarang di kelolah oleh orang tuanya dan Kakak kesayangannya.


"Umik setuju jika kamu menikah dengannya, dia memang cantik, lemah lembut juga sopan." Umik yang memang sudah mengenal Zahra memberitahukan jika dirinya setuju dan menyukai sifat Zahra.


"Loh, Umik kenal dengan Zahra?" tanya Husein yang merasa heran dengan pujian yang Umiknya lontarkan.


"Kenapa tidak kenal? sewaktu Ummah masih tinggal di sini Rina lumayan sering datang berkunjung otomatis Umik sering bertemu dengannya karena Rina selalu membawa Zahra setiap kali berkunjung." Jelas Umik sembari mengingat kejadian yang telah berlalu saat dirinya bertemu dengan Rina dan juga anaknya.


"Alhamdulillah jika Umik sudah setuju dan mengenalnya, dengan begitu Aku semakin yakin untuk untuk meminang Zahra," Husein merasa begitu bahagia mendengar penjelasan sang Umik, karena dengan begitu apa yang dia inginkan akan lebih mudah terwujud.


Hari ini berlalu dengan begitu banyak kabar bahagia di keluarga Umik, dan rasa bahagia itu juga di rasakan oleh keluarga Arum yang sedang sibuk mempersiapkan keperluan untuk acara besok.


"Apa kamu sudah siap Nak?" tanya Umik yang sedang mempersiapkan baju yang akan di gunakan oleh Arum, saat ini keduanya berada di kamar Umik untuk berganti baju kemudian berangkat lebih dulu ke rumah Oma Arum.


"Insya Allah Arum siap Umik," jawab Arum dengan senyum yang sedikit di paksakan, Arum memaksakan senyum bukan karena dia tak suka atau tak setuju dengan acara ijab kabul yang akan di laksanakan beberapa jam lagi, tapi saat ini perasaannya begitu campur aduk hingga dia tak mampu untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini.


"Masya Allah kamu cantik sekali Nak," kagum Umik yang melihat Arum begitu cantik juga anghun dengan balutan gaun putih yang dia pilihkan.


"Terima kasih Umik," sahut Arum.


"Semuanya sudah siap, ayo kita berangkat sebelum Hasan menerobos masuk untuk menemuimu." Ajak Umik menggandeng lengan Arum berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil untuk pergi ke rumah Omanya.


Arum sengaja tak pulang lebih awal karena semalam dia masih ingin mengikuti pengajian rutin yang di laksanakan seminggu sekali di pesantren, tapi setelah menikah Arum dan Hasan berencana untuk menginap beberapa hari di rumah Umik untuk mengenalkan Hasan pada keluarga besar Arum di sana.

__ADS_1


Perjalanan pulang kali ini benar-benar terasa berbeda, hari ini adalah hari terakhir Arum melepas statusnya karena besok dia akan menjadi seorang istri dari Hasan.


__ADS_2