Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Ungkapan Hati Huda Untuk Desy


__ADS_3

Huda menikmati satu porsi nasi rawon sambil sesekali memandang wajah Desy yang diam menatap sekitar halaman tanpa bergerak sedikitpun.


"Terima kasih," ucapan Huda mengejutkan Desy yang sedang asyik menikmati pemandangan sekitar.


"Terima kasih untuk apa Mas Huda?" tanya Desy penasaran.


"Terima kasih karena kamu sudah mau kenal denganku," ujar Huda membuat Desy bingung dengan ucapan terima kasih yang di ungkapkan oleh Huda.


"Mas Huda tidak perlu berterima kasih karena aku juga senang bisa kenal dengan Mas Huda," sahut Desy membuat Huda tersenyum senang karenanya.


"Saat ini aku memang tidak tahu apa yang terjadi dengan perasaanku Desy, tapi jika suatu saat hatiku berpaling dan memilihmu apa kamu mau menerimaku?" pertanyaam yang sukses membuat Desy tersedak tiba-tiba meski tidak minum.


"Ukhuk ... ukhuk ...." Desy yang mendengar pengakuan Huda langsung terbatuk karenanya.


"Minumlah!" Huda menyodorkan satu gelas aur putih yang tadi di bawakan oleh Desy.


"Terima kasih," ujar Desy setelah tenggorokannya merasa sedikit lega.


"Iya," jawab Huda dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Mas Huda jangan bercanda! aku tidak suka dengan candaan yang Mas Huda ucapkan." tegas Desy yang tak mau terjebak oleh kata manis seorang pria untuk yang kedua kalinya.


"Aku tidak bercanda Desy, aku serius." Jawab Huda dengan nada tegas pula.


"Aku bukan siapa-siapa Mas Huda, bahkan aku seorang putri dari keluarga sederhana yang jauh dari kata mewah ataupun kaya, Aku juga tak cantik ataupun seputih gadis lain, maka jangan memberiku harapan yang mustahil untuk terwujud." Desy yang sadar akan asal usulnya tak ingin kecewa apalagi sakut hati karena harapan palsu seorang pria menegaskan statusnya pada Huda.


"Bagiku status kecantikan atau hal yang tak berkaitan dengan hati bukanlah hal yang utama, bagiku kebaikan dan kemurnian juga ketulusan hati seorang gadis itu lebih penting dari segalanya, dan aku mengucapkan hal itu dengan serius Desy," entah mengapa Huda ingin mengatakan segalanya sebelum dia pergi.

__ADS_1


"Seminggu lagi aku akan kembali ke australia untuk meneruskan studyku di sana. Aku harap setelah aku kembali satu tahun nanti kamu bisa memberikan jawaban terbaikmu, dan kamu bersedia menungguku," jujur Huda.


Sejak semalam Huda sudah berfikir keras tentang perasaannya pada Arum dan Desy dua gadis yang berbeda asal usul itu hampir memiliki kepribadian yang sama baiknya. Dan Huda memutuskan untuk melupakan Arum dan mencoba membuka hati untuk Desy.


"Tapi aku masih takut untuk menunggu yang tak pasti, aku takut kecewa Mas Huda, tapi jika kita memang berjodoh aku yakin kita pasti bakal bertemu dan bersatu dalam ikatan suci pernikahan jika saatnya telah tiba," jawaban Desy membuat Huda berfikir keras untuk melakukan sesuatu agar Desy tak bisa lari darinya. Hingga sebuah ide muncul tiba-tiba di otak Huda dan membuat sneyum bahagia terlihat di wajahnya.


"Baiklah, aku serahkan semua keputusan padamu yang terpenting aku sudah mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan, sekarang kamu bisa kembali ke dapur dan membantu yang lain." Huda yang memiliki ide lebih baik dari pada mengungkapkan langsung pada Desy memilih untuk menyuruh Desy pergi agar dia bisa secepatnya melancarkan ide dalam otaknya.


Sesaat setelah kepergian Desy, Huda langsung meraih benda pipih kesayangannya dan menekan beberapa nomor di sana.


"Halo," sapa Huda pada seseorang yang ada di seberang telfon.


"Iya, Tuan," sahut Aldi asisten pribadi Huda yang bertanggung jawab mengurus usahanya di kampung.


"Bagaimana hasil pencariannya?" tanya Huda.


"Apa informasi yang kau dapatkan benar-benar sudah lengkap?" tanya Huda memastikan berkas yang di bawa oleh sang asisten sudah lengkap tanpa ada yang kurang sedikitpun.


"Tuan tidak perlu khawatir berkasnya sudah lengkap saya bisa menjaminnya," tegas sang asisten meyakinkan Huda bahwa informasi yang dia bawa benar-benar lengkap tanpa kurang satu apapun.


"Bagus, besok pagi kamu antar ke sini!" titah Huda setelah itu langsung mematikan sambungan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari sebrang.


Huda memang terkenal sebagai atasan yang tegas dan tak banyak bicara, tapi dia juga di kenal sebagai atasan yang baik dan perhatian pada anak buah. Huda juga royal tak perhitungan saat membantu anak buahnya.


"Aku yakin bisa mendapatkanmu Desy," lirih Huda.


Entah sejak kapan Huda mulai menaruh rasa pada Desy, pertemuan mereka tergolong singkat tapi mampu membelokkan hati Huda yang semula hanya lurus tertuju pada Arum, awalnya Huda menolak perasaan yang perlahan sudah merasuk ke dalam dirinya, hingga tadi setelah bertemu dengan Arum dia baru sadar jika cinta pertamanya bukanlah untuknya, dan Huda sadar jika ada Desy gadis lain yang mungkin dikirimkan tuhan sebagai gantinya.

__ADS_1


Huda segera menghabiskan makanannya kemudian beranjak pergi menuju ruang keluarga setelah membaca pesan dari sang Ayah yang sudah ada di sana.


"Ayah, Ibu, kalaian sudah lama ada di sini?" cerocos Huda yang langsung memeluk sang Ibu karena cukup lama mereka tak bertemu.


"Kau lihat itu Dek, keponakanmu terlalu lama di luar negeri sampai dia lupa untuk mengucapkan salam." Arif yang tak lain adalah Ayah Huda mulai berkomentar.


"Huda biasanya ngucapin salam kok Kak, mungkin tadi dia khilaf karena saking senangnya bertemu dengan kalian," Umik yang tak lain adalah Uqi adik Arif mencoba membela sang keponakan yang dia kenal selama di pesantren ini baik dan sopan.


"Sudahlah Ayah, jangan memprotesnya terus! lagi pula kita jarang sekali bisa bertemu dengannya, jadi jangan emosi seperti itu!" Imah menegur sang suami.


"Maaf Ayah, Huda khilaf," sahut Huda.


"Kenapa suasananya jadi gak enak seperti ini, sudah kak, jangan buat acara pernikahan putraku jadi kacau cuma gara-gara kakak!" protes Umik.


"Baiklah-baiklah kalian memang selalu benar dan menang, biar aku yang mengalah," jawab Arif.


"Itu lebih baik Yah," sahut Imah.


"Ngomong-ngomong calon mantu kamu mana Dek?" Arif yang sejak tadi celingukan mencari calon mantu adiknya itu tak melihatnya.


"Dia aku suruh istirahat di kamar, kasihan capek sejak tadi nemenin aku menemui tamu-tamu, lagi pula sepuuh menit lagi MUA bakal datang ngerias dua jadi aku biarkan dia istirahat dulu," jelas Umik.


"Hasan ketemu dia di mana Dek?" selidik Arif yang masih merasa penasaran dengan Arum yang dia ketahui kekasih anaknya sebelum menikah dengan Hasan.


"Sebenarnya dia anak Fia kak," jawaban Umik sukses membuat Arif terkejut.


"Wah dunia memang benar-benar sempit ya Dek," sahut Arif yang tak menyangka jika Arum yang merupakan mantan kekasih sang anak merupakan putri seorang Fia yang notabennya mantan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2