
"Syei', bangun!" Hasan menggoyang bahu Arum yang kembali terlelap.
"Emmm, maaf Bi, aku ketiduran lagi," lirih Arum perlahan membuka mata sambil mengumpulkan kesadaran tanpa mengubah posisinya.
Cup
Satu kecupan sayang mendarat indah di kening Arum, terukir senyum indah di wajahnya membuat Hasan semakin gemas.
"Bangunlah! sebelum aku menerkammu." Ujar Hasan, sebenarnya sejak tadi dia sudah gemas melihat senyum indah Arum yang terlihat begitu menggoda, jika boleh jujur ingin sekali Hasan menlu**t habis bibir indah yang kini sedang melengkung itu.
"Abi," keluh Arum. Dia langsung duduk membenarkan posisi agar Hasan tak melakukan apa yang dia ucapkan.
"Kenapa jadi setakut itu? bukankah kamu juga suka jika kita melakukannya?" seru Hasan merasa aneh dengan sikap Arum saat ini.
"Bukannya takut Bi, tapi aku gak ingin kita batal membantu Umik dan membuat beliau kecewa karena kita tidak jadi hadir cuma gara-gara hasrat yang sebenarnya bisa di selesaikan nanti," Arum menjelaskan apa ysng da di hatinya juga alasan dia bersikap seperti sekarang.
"Jadi, jika aku melakukannya nanti malam kamu akan mau?" Hasan malah menggoda Arum.
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi!" ujar Arum melenggang pergi meninggalkan Hasan menuju kamar mandi untuk mencuci muka setelah tertidur.
"Syei'! akan aku akan memintanya nanti," Hasan berdiri seraya menaikkan satu oktaf nada suaranya agar Arum masih bis mendengar meski kini dia sedang berada di kamar mandi.
"Abi, kita makan dulu atau langsung berangkat ke rumah Ummah?" tanya Arum yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Hasan sedang duduk santai di ujung tempat tidur.
"Makan dulu Syei', baru kita pergi." Jawab Hasan sambil berdiri berjalan lebih dulu menuju ruang makan tanpa menunggu Arum yang kini sibuk membenahi diri.
"Isssh, aku kok di tinggal sih Bi," keluh Arum sesaat setelah sampai di ruang makan dan melihat Hasan sang suami sudah duduk manis di kursi meja makan.
"Aku masih nungguin kamu di sini Syei'," sahut Hasan tanpa menoleh ke arah Arum.
"Nungguin tapi pergi ke sini duluan. Aku di tinggal di kamar," Arum kembali mengutarakan keluhannya.
"Aku emang sengaja pengen nungguin kamu di sini, buktinya sekarang aku masih belum makan bahkan aku belum mengambil apapun dari meja makan." Bela Hasan.
Sejak tadi Hasan hanya diam memainkan ponsel tanpa bergerak ataupun makan, bahkan Hasan belum mengambil secuil makanan pun yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Baiklah, Abi mau makan yang mana?" tawar Arum sembari mengambil piring dan bersiap mengambilkan lauk pauk yang ada di sana.
Hasan memberitahukan menu makanan apa yang dia inginkan dan Arum melayani sang suami dengan penuh kesabaran juga ketelatenan. Keduanya makan dengan tenang hanya dentingan sendok dan piring yang beradu terdengar begitu nyaring di telinga.
~
'"Assalamualaikum," ucap Husein.
"Waalaikum salam," sahut Zahra yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Husein sang calon suami.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Husein saat melihat Zahra sudah cantik dengan baju rapi.
"Sudah, Kak Husein mau masuk dulu atau kita langsung berangkat?" tanya Zahra.
"Bagaimana kalau kita langsung berangkat? di rumah lagi sibuk jadi aku tak punya banyak waktu karena aku harus segera pulang membantu Umik." Jawab Husein.
"Kalau begitu kita pamitan dulu ke Papa dan Mama." sahut Zahra yang mendapat anggukan dari Husein, keduanya masuk ke dalam rumah berpamitan pada Papa dan Mama Zahra yangs edang duduk santai di ruang keluarga.
"Pa, Ma, kami berangkat dulu. Assalamualaikum," pamit Husein setelah mencium punggung tangan kedua calon mertuanya kemudian melenggang pergi meninggalkan rumah menuju butik di mana keduanya sudah memesan gaun dan jas untuk acara resepsi pernikahan nanti.
"Boleh, kita mampir ke sana nanti." Jawab Husein.
Mobil terus melaju menuju butik Zahra hingga mereka sampai.
"Kakak tunggu di sini dulu. Aku hanya mau mengambil desain baju saja sebentar." Pamit Zahra melarang Husein untuk ikut turun bersamanya karena Zahra merasa jika Husein ikut maka akan lama.
"Baiklah aku tunggu kamu di sini." Sahut Husein sambil tersenyum manis ke arah Zahra yang kini membuka pintu mobil melenggang pergi meninggalkan Husein.
Zahra memang berniat mengambil desain baju sebentar kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan perjalanan kembali di lanjutkan.
"Kak bukankah ini butik terkenal itu?" seru Zahra dengan mata berbinar karena saat ini keduanya sedang berada di butik milik tante Merry yang terkenal dengan rancangannya yanh selalu bisa membuat sang pengantin terlihat begitu cantik dan juga anggun.
"Benar, memangnya kenapa? kamu gak suka?" tanya Husein.
"Kak, aku suka banget, ini butik terkenal dan siapa yang gak ingin memakai gaun dari butik ini," sahut Zahra dengan pandangan yang masih fokus menatap butik yang sudah ada di depan mata
__ADS_1
"Butikmu juga terkenal, ayo masuk!" ajak Husein dan Zahra yang mendengar ajakan Husein hanya mengikutinya dari belakang tanpa protes ataupun bertanya.
"Permisi, apa Tante Merry ada di dalam?" tanya Husein pada salah satu kariyawan butik yang ada di sana.
"Apa Mas nya sudah buat janji?" bukannya menjawab sang pelayan butik malah balik bertanya.
"Sudah dan aku juga sudah buat janji untuk ketemu hari ini." Jawab Husein.
"Baiklah, Mas dan Mbaknya bisa menunggu di kursi depan pintu yang ada di ujung sana." Sang pelayan menunjukkan kursi untuk Zahra dan Husein.
"Tante!" panggil Husein saat melihat tante Merry keluar dari ruangannya.
"Mas Husein, mau nyoba gaun ya?" tanya Merry.
"Iya, apa gaun dan jasnya sudah bisa di coba sekarang, Tante?" tanya Husein pada intinya.
"Silahkan ikut saya!" Merry berdiri memberi isyarat agar Zahra dan Husein mengikutinya.
Zahra dan Husein berjalan mengikuti langkah Merry masuk ke dalam ruang ganti di mana biasanya para costumer mencoba gaun pernikahan mereka.
Huseim duduk diam menunggu Zahra mencoba gaun yang sudah mereka pilih dan pesan sebelumnya, dia duduk tenang sambil menatap layar ponsel yang saat ini ada di tangannya.
"Kak Husein!" panggil Zahra yang sudah selesai memakai gaun.
"Kak!" Zahra kembali memanggil Husein karena tak ada respon dari Husein, dia hanya diam mematung menatap lurus ke arah Zahra tanpa berkedip.
"Masya Allah kamu cantik sekali," lirih Husein berdiri menghampiri Zahra.
"Stop Kak! lihatnya dari situ saja." Cegah Zahra yang melihat Husein terus saja berjalan mendekat ke arahnya.
"Oke, Tante gaunnya cocok dan pas aku menyukainya," ujar Hasan berbelok menghampiri Tante Merry yang berdiri tak jauh dari tempat Zahra berdiri.
"Kalau begitu saya tidak perlu memperbaiki apapun," ujar Tante Merry.
"Tidak perlu, gaunnya sudah pas jadi nanti akan aku transfer uangnya dan awal bulan depan sebelum hari H Tante bisa mengirimnya ke rumah." Jelas Husein.
__ADS_1