
Matahari sedang bersinar dengan terangnya memberikan efek panas pada setiap makhluk yang ada di bawahnya, dan rasa panas itu juga di rasakan oleh Huda yang saat ini sedang duduk di kamar dengan laptop yang menyala di hadapannya.
Setelah beberapa hari yang lalu dia menyuruh anak buahnya mencari informasi tentang Desy gadis yang ingin dia jadikan teman hidupnya, kini dia sedang membuka setiap lembar kertas dan pesan juga gambar yang di kirim orang suruhannya lewat email juga manual.
"Ternyata kamu memang berasal dari keluarga yang baik meski nasibmu tak sebaik hati yang kamu miliki," lirih Huda sambil tersenyum bahagia melihat gambar yang terpajang di depan laptopnya.
Desy memang berasal dari keluarga sederhana di suatu Desa, bukan hanya kehidupannya yang sederhana begitu juga dengan ekonomi keluarganya yang terbilang pas-pasan. Tapi hebatnya keluarga Desy masih bisa menyediakan makanan untuk anak yatim piatu yang ada di desanya meski hanya satu nampan makanan yang selalu mereka berikan setiap hari jum'at, sebuah tradisi baik yang selalu di jaga oleh warga di desa Desy yang di ikuti sebagian warga yang tergolong mampu dan berada, tapi keluarga Desy yang terkenal sederhana itu juga ikut andi dalam acara yanh di gelar.
Satu Nampan cukup besar nasi beserta lauk juga satu teko besar es teh selalu mereka sediakan setiap hari jum'at khusus untuk makan anak yatim yang ada di sana, mereka hanya menyediakan satu nampan besar karena anak yatim yang ada di sana tak terlalu banyak hanya ada tujuh irang yang rata-rata masih kecil, jadi satu nampan besar yang di berikan keluarga Desy sudah lebih dari cukup untuk di makan bersama.
Huda menyandarkan diri di kursi menutup mata menikmati jantungnya yang tengah bergemuruh hebat setelah mengetahui asal usul Desy, meski bukan dari kalangan irang kaya dan berada tapi Desy benar-benar berasal dari keluarga sederhana tapi berhati malaikat.
"Aku semakin yakin untuk memilihmu Desy," lirih Huda dengan pandangan lurus menatap foto Desy yang dia ambil dari data para santri, meski foto itu tak bergaya seperti yang lain karena memang di gunakan untuk rapot tapi tetap saja terlihat cantik di mata Huda.
Huda yang sejak tadi hanya diam menatap foto Desy kini mulai melirik jam dinding yang terus saja berputar tanpa bisa di hentikan.
"Sudah jam tiga, sebentar lagi waktu makan sore," gumam Huda yang langsung berdiri mencari ponsel yang entah di mana dia letakka.
Dengan langkah lebar dan sedikit terburu-buru Huda mencari ponsel yang entah di mana dia letakkan, hampir seluruh ruangan sudah Huda cari tapi ponsel itu masih saja tak terlihat batang hidungnya membuat emosi Huda sedikit tersulut.
__ADS_1
"Isshhh kenapa jadi pelupa gini sih, coba aja kalau udah punya istri pasti gak bakal serepot ini," gerutu Huda sambil terus mencari ponselnya di setiap sudut ruangan hingga suara nada dering sang ponsel terdengar di balik bantal yang tadi dia pakai untuk tidur.
"Astaghfirullah kanapa ponselku bisa ngumpet di sini?" tanya Huda pada dirinya sendiri, padahal bukan ponselnya yang salah tapi Huda yang lupa menaruhnya.
"Iya, Hallo," sahut Huda saat panggilan telfon yang dia terima sudah di angkat.
"Sore Huda, bagaimana kabarmu?" suara lembut seorang gadis terdengar di pendengaran Huda yang sudah sangat mengenal siapa pemilik suara itu.
"Sore, ada apa menelfonku?" tanya Huda pada intinya.
"Aku hanya menanyakan kabarmu, bagaimanapun sudah cukup lama kita tidak bertemu," jawab gadis itu.
"Tunggu sebentar, bukankah sekarang di sana sudah jam tiga, kenapa kamu masih sibuk?" tanya Angel yang masih merindukan laki-laki pujaan hatinya dan masih ingin mengobrol dengannya.
"Bukankah kamu sudah tahu jika saat ini aku bukan cuma belajardi sini tapi juga mengurus beberapa bisnis yang sedang aku jalankan di sini, jadi bukankah hal yang wajar jika aku masih sibuk di sore hari." Huda mencoba memberikan alasan yang logis pada gadis pintar seperti Angel.
"Baiklah, beri aku waktu sepuluh menit untuk berbicara denganmu." Pinta Angel.
"Bicaralah! aku hanya bisa memberimu waktu sepuluh menit untuk berbicara." Hawaban Huda sukses membuat Angel senang bukan main.
__ADS_1
Angel aprilia gadisasli indonesia yang juga kuliah bersama Huda dan kebetulanjuga satu jurusan dengannya memang terkenal sebagai gadismanja juga sedikit pemaksa, sejak semester satu Angel begitu mengagumi sosok Huda yang pernah menolongnya saat dia di ganggu oleh beberapa pemuda saat dia baru saja menginjakkan kaki di negara kanguru itu.
Dan sejak saat itu juga Angel menyimpan rasa yang cukup dalam untuk Huda, meski berkali-kali Huda menolak nya baik dan kasar tak sedikitpun membuat Angel gentar ataupun menyerah, dia tetap berusaha mendekati Huda yang terlihat cuek padanya.
Huda bukan tak ingin menerima Angel yang sebenarnya orang baik, hanya saja perbedaan agama yang menjadi pertimbangan besar dalam hidup Huda untuk tidak menjalin hubungan dengannya.
"Huda apa kamu sudah tahu jika Arum sudah menikah?" tanya Angel tanpa basa basi, dia sudah sangat mengenal Huda yang tak suka bertele-tele.
"Iya, aku bukan hanya tahu bahkan aku hadir di pesta pernikahannya, memangnya ada masalah apa sampai kamu menelfonku untuk menanyakannya?" tanya Huda yang sedikit kurang senang dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Angel.
"Aku hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja karenanya," jawab Angel dengan nada mellownya membuat Huda yang selalu tak tega melihat seorang gadis bersedih akhirnya mengalah.
"Baiklah, aku di sini baik-baik saja, dan kamu tidak perlu khawatir akan hal itu." Ucap Huda mencoba merubah suasana hati Angel yang sepertinya seketika berubah sedih karena jawaban sedikit ketus darinya.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja, kalau begitu aku matikan dulu telfonnya." Sambungan telfon akhirnya terputus memberi kelegaan tersendiri untuk Huda, sudah berkali-kali dia menjelaskan jika jalan hidup mereka berbeda dan Huda tak bisa menerima Angel sebagai pasangan hidupnya, tapi gadis itu tak pernah berhenti berusaha untuk tetap mengejar cintanya.
Kehidupan di luar negeri memang jauh berbeda dengan pesantren dan Huda harus siap menghadapi segala ujian yang menghadangnya di depan mata.
"Astgafirullah, gara-gara telfon dari Angel aku sampai lupa beli makan untuk Desy," gumam Huda yang baru menyadari niat awalnya mencari ponsel yang tadi sempat dia lupakan.
__ADS_1