Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Perjuangan Husein


__ADS_3

Setelah sarapan pagi dengan sedikit drama yang terjadi kini Husein bersiap-siap untuk pergi ke tempat sahabatnya Zein, perjuangan Husein untuk melupakan Arum masih terus berlangsung. Selain usaha seutas do'a juga terus terucap di bibir Husein berharap rasa cinta dan sayangnyq pada Arum akan segera menghilang seperti debu yang telah tertiup angin.


Husein tengah memilih baju yang menurutnya bisa menambah karisma yang dimiliki, hari ini Husein benar-benar berharap bisa melupakan Arum dan memiliki perasaan yang sama pada adik Zein, begitu juga dengan perasaan adik Zein sangat besar harapan Husein agar adiknya Zein itu juga memiliki perasaan yang sama.


"Pagi-pagi sudah rapi dan wangi, kamu mau ke mana Nak?" tanya Umik yang baru saja keluar dari kamar dan melihat Husein sudah rapi dan bersiap-siap untuk pergi.


"Husein mau ke rumah Zein Umik." Jawab Husein.


"Hati-hati di jalan, Nak!" Pesan Umik sebelum Husein benar-benar pergi keluar dari rumah.


"Iya Umik, Husein pamit dulu Assalamualaikum." Husein mencium punggung tangan Umik kemudian melenggang pergi meninggalkan Umik dengan senyum manis yang terlihat di bibir Husein.


Dengan tekad yang kuat dan harapan yang besar Husein melajukan mobil dengan kecepatan sedang, dalam benaknya saat ini hanya ingin melupakan Arum tanpa ada fikiran yang lain meski Husein tak pernah bertemu dengan adiknya Zein sebelumnya tapi hal itu taj menyurutkan keinginan Husein untuk bertemu dengannya.


"Assalamualaikum," ucap Husein berdiri tepat di depan pintu rumah Zein.


"Waalaikum salam," sahut seorang wanita paruh baya dengan baju daster panjang dan kerudung instan.


"Maaf Bik, apa Zeinnya ada?" tanya Husein pada sang Bibik asisten rumah tangga yang ada di sana.


"Ada, masuk dulu Den, biar Bibik panggilkan." Jawab Bibik sembari membuka lebar pintu rumah mempersilahkan Husein masuk ke dalam rumah.


Husein duduk di sofa ruang tamu menunggu Zein yang masih di panggilkan oleh Bibik.


"Masih pagi udah bertamu, gak ada akhlak loe." Gerutu Zein saat berada di tangga terakhir. Rumah Zein cukup besar terdiri dari dua lantai.


"Ini udah jam sembilan Loe bilang masih pagi, cuci muka dulu sono biar sadar." Sahut Husein.


"Emang pengen banget ya ketemu sama adek gue?" tanya Zein.


"Kalau masalah Adek loe gue serius Zein," sahut Husein yang memang tak akan pernah main-main soal hati dan Zein yang sudah sangat mengenal sifat sahabatnya itu yakin jika adiknya pasti akan bahagia bila bersama dengan Husein.

__ADS_1


"Dia lagi bantuin nyokap buat kue, Loe tunggu di sini sebentar gue tinggal dulu." Ujar Zein melenggang pergi meninggalkan Husein sendiri di ruang tamu.


Husein yang di tinggal sendirian memilih memainkan ponselnya menghilangkan rasa jenuh yang mulai hinggap.


"Silahkan di minum Kak!" ucap seorang gadis yang terlihat manis dan imut sedang menaruh setoples kue coklat dan dua cangkir kopi di atas meja.


Sedang Husein yang sejak tadi fokus memainkan ponselnya langsung menoleh ke asal suara, tatapannya lurus ke wajah gadis itu.


"Biasa aja kale lihatnya," ucap Zein yang baru datang dan melihat Husein terpaku menatap adiknya.


"Duduk dulu Dek!" titah Zein.


Adik Zein yang mendengar perintah sang Kakak langsung duduk tanpa banyak bertanya.


"Ini Adek Loe?" tanya Husein dengan ekspresi heran.


"Iyalah Adek gue emang siapa lagi?" sahut Zein yang mengerti maksud dari ucapan Husein.


"Kok bisa beda gitu ya?" tanya Husein tanpa filter.


"Maksud Lo?" tanya Zein sambil mengerutkan dahi bingung.


"Adikmu sungguh imut dan manis tapi kau~" ucapan Husein terpotong oleh ucapan Zein.


"Sudah cukup, Aku tahu apa yang akan kamu katakan kalau kamu teruskan maka Aku tidak akan pernah mengenalkanmu pada Adikku." Ancam Zein yang membuat mulut Husein langsung terdiam tanpa kata.


"Okey sorry," ucap Husein mengalah karena dia tak mau Zein mengurungkat niatnya untuk memperkenalkan Husein pada Adiknya.


"Zahra, kenalkan ini teman Kakak namanya Husein," ujar Arum memperkenalkan Zahra adiknya pada Husein sang sahabat yang duduk di depan mereka.


"Dan kau Hasan kenalkan ini Zahra Adikku," sambung Zein.

__ADS_1


"Assalamualaikum Zahra," ucap Husein.


"Waalaikum salam Kak Husein," sahut Zahra.


Keduanya terdiam saling memandang satu sama lain membuat Zein yang duduk di sebelah Zahra merasa risih.


"Ekhem ... ekhem ...." deheman Zein mengejutkan keduanya membuat Husein salah tingkah.


"Inget, bukan muhrim gak usah pandang-pandangan gitu!" hardik Zein.


"Astaghfirullah," keduanya kompak beristighfar mengingat kesalahan yang sudah mereka lakukan.


"Sudah gak usah pandang-pandangan bukan muhrim dan kamu Dek, lebih baik kamu masuk ke dalam!" titah Zein, senakal-nakalnya Zein dia adalah pelindung terbaik bagi adiknya.


"Ishhh pelit amat kau jadi teman," gerutu Husein yang melihat Zein menyuruh adiknya masuk ke dalam rumah.


"Bodo amat," sahut Zein yang masa bodoh dengan ucapan Husein.


"Apa Aku boleh minta nomernya?" tanya Husein.


"Buat apa?" bukannya menjawab Zein malah balik bertanya.


"Buat kenal lebih jauh dengan Adikmu," jawab Husein enteng.


"Okey, Aku kasih kamu satu kesempatan karena Aku yakin kamu tidak akan main-main dengan Adikku. Tapi ingat satu hal jangan sampai kamu lukai atau permainkan dia! jika tidak maka kamu akan berurusan denganku." Zein memang menyetujui permintaan Husein tapi di sertai sebuah ancaman.


"Kamu mengenalku jauh lebih baik dari siapapun, apa kamu pernah melihatku mempermainkan seorang gadis?" tanya Husein.


Memang benar Husein memiliki sifat yang jauh berbeda dengan Hasan dan ada banyak gadis yang menjadi idolanya, tapi tak satupun yang di permainkan ataupun di terima oleh Husein meskipun ada beberpa yang sempat menjalin hubungan tapi hubungan mereka hanya sebatas dekat bukan pacaran.


Bagi Husein tak ada kata pacaran yang ada masa perkenalan atau taaruf yang akan berakhir di pelaminan jika memang cocok dan akan berakhir jadi teman jika tak ada kecocokan diantara keduanya.

__ADS_1


"Aku memang sangat mengenalmu maka dari itu Aku mau mengenalkan kamu pada Adikku, tapi ingat tak ada kesempatan kedua jika kamu mengecewakanku." Jawab Zein.


"Zein, Aku serius ingin mengenal adikmu untuk ku jadikan teman hidup jika dia memang takdirku, dan kamu harus tahu Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar tak mengecewakanmu, kamu juga harus ingat Zein jika tak ada manusia yang sempurna di dunia ini dan jika Aku memang melakukan kesalahan maka kewajibanmu untuk mengingatkan dan Aku akan memperbaikinya," panjang lebar Husein menjelaskan apa yang ada di fikirannya membuat Zein diam seribu bahasa karena apa yang di katakan Husein memang benar adanya.


__ADS_2