Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Asisten Baru Husein


__ADS_3

Berbeda dengan Hasan yang ingin berjalan mendapatkan Arum dengan kehalalan, Husein justru sedang berjuang menemukan dia yang tepat untuk hidupnya, rasa trauma akan seorang gadis masih saja menghantui fikirannya sungguh keadaan yang terjadi saat ini jauh berbeda dengan apa yang terjadi dulu saat Husein sedang berjuang mendapatkan Arum. Meski perjuangan yang di lakukan Husein tak seperti perjuangannya sekarang.


"Lelahnya," keluh Husein sesaat setelah sampai di hotel miliknya, semuanya sudah tersusun dengan rapi, rencana yang begitu sempurna telah siap di jalankan.


"Permisi Mas Husein," ucap Ifan yang masih belum kembali ke pesantren karena Husein masih mengajaknya untuk ikut.


"Iya Fan, ada apa?" Husein yang baru saja merebahkan diri di kasur kini bangun membuka pintu kamar yang masih tertutup karena mendengar Ifan yang memanggil.


"Mas Husein, apa tidak sebaiknya Saya balik ke pesantren dulu?" tanya Ifan yang merasa takut mendapat teguran dari para pengasuh.


"Tenanglah, Aku sudah mengurus izinmu untuk ikut bersamaku! dan kamu harus siap karena mungkin sebentar lagi profesi kamu akan berganti." Ujar Husein yang membuat Ifan mengernyit kebingungan.


Husein berencana menjadikan Ifan asisten pribadinya, Ifan memang seorang santri tapi dia termasuk santri yang istimewa karena selain cerdas dan cepat tanggap Ifan termasuk salah satu orang yang paling jujur juga apa adanya, posisi Ifan di pesantren juga bukan hanya seorang santri tapi dia sudah menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa yang di peroleh dan saat ini dia sedang menjabat sebagai guru pengganti di sekolah menengah atas di pesantren, dan Husein yang tertarik sekaligus butuh asisten pribadi atau tangan kanannya untuk mengurus semua bisnis yang dia geluti akhirnya memilih Ifan sebagai calonnya.


"Profesi, maksudnya bagaimana Mas Husein?" tanya Ifan yang benar-benar tak mengerti dengan ucapan Husein.

__ADS_1


"Selama ini kamu hanya menjadi guru pengganti jika ada guru yang tak masuk, dan sekarang Aku merekrutmu sebagai asisten pribadiku. Apa yang telah kamu pelajari ku harap kamu terapkan saat bekerja bersamaku nanti." Ucapan Husein seperti oase di padang pasir memberi harapan baru dalam hidup Ifan.


Ifan tak seperti santri kebanyakan ada banyak perjuangan yan harus dia lewati demi apa yang dia capai saat ini, termasuk meninggalkan sang Ibu dan Adik di rumahnya demi ilmu yang harus dia kejar, selama di pesantren Ifan hanya mengandalkan uang yang ia terima dari beasiswa untuk bertahan di sana karena sang Ibu yang berstatus janda tak mampu membiayainya. Tapi Hasil memang tak pernah menghianati setiap usaha yang di lakukan.


"Apa Mas Husein serius?" pertanyaan yang tak seharusnya di tanyakan akhirnya keluar dari bibir Ifan.


"Iya, kenapa? apa kamu keberatan?" Husein yang mendengar pertanyaan Ifan kembali bertanya.


"Bukan keberatan hanya saja Aku tidak menyangka jika Mas Husein menjadikanku asisten pribadi dan Aku sangat bersyukur karenanya, apa itu tandanya Aku bisa mengunjungi Ibuku setiap ada waktu?" pertanyaan yang membuat Husein tersenyum bahagia, Ifan punya waktu kunjung khusus untuk menemui sang Ibu yang hanya bisa datang sebulan sekali ke pesantren untuk menjenguknya tanpa bisa memberinya uang.


"Tentu saja, bukankah kamu bukan santri biasa," jawab Husein dengan senyum yang mengembang.


"Baiklah, Aku mau istirahat dan kamu juga harus istirahat karena besok kita akan mulai rencana yang kedua dan ini adalah tes terakhir untuknya," Husein kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat mengumpulkan tenaga untuk esok hari.


Kamar yang di tempati keduanya merupakan kamar khusus, ada dua kamar yang sama-sama memiliki kamar mandi di dalamnya, juga satu ruangan yang multi fungsi karena desainnya seperti ruang tamu tapi ada tv dan sofa panjang yang bisa di gunakan di sana lengkap dengan almarinya, mirip seperti sebuah apartemen. Setiap hotel yang di kelolah ole Husein selalu memiliki ruangan yang sama dan khusus di gunakan saat dia berkunjubg dan ingin singgah.

__ADS_1


Desiran angin tengah malam menyebarkan udara dingin yang menyelinap masuk ke dalam tulang, membuat siapapun yang ada di sekitarnya menarik selimut menyembunyikan diri di dalamnya. Tapi rasa dingin itu sama sekali tak menyurutkan Arum untuk bangun dan menengadahkan tangan meminta kepada yang maha kuasa agar dia mendapatkan petunjuk tentang apa yang sudah dia putuskan.


Sebenarnya kehidupan Arum tak sebahagia seperti yanh di lihat kebanyakan orang, meski hidupnya tergolong sempurna karena dia memiliki segalanya, kecantikan, kekayaan dan beberapa laki-laki mapan yang siap berebut hatinya, tapi Arum yang memang berbeda dengan gadis lainnya merasa terbebani dengan ungkapan dan perasaan beberapa laki-laki baik dan mapan yang pernah singgah.


Untaian do'a terus terucap meminta petunjuk juga ketenangan hati, suara lirih Arum beradu dengan suara deru angin yang masih bising terdengar. Arum mengungkapkan segala beban yang ada di hatinya, saat ini dia sedang melaksanakan sholat tahajjud, hajat, wittir serta sholat istighoro secara bergantian masing-masing dua rokaat kecuali sholat wittir yang di laksanakan tiga rakaat.


Meski dia masih awwam dalam ilmu agama tapi sedikit banyak dia mengerti tentang sholat malam yang pernah di ajari oleh sang bunda juga Huda sang manta, saat ini Arum memang melaksanakan sholat malam di depan kantor pondok putri bersama Desy yang juga melaksanakan sholat tak jauh darinya.


Keduanya memilih kantor pondok bukan musholla karena jika malam tiba mushollah berubah fungsi menjadi tempat tidur.


"Kamu memang gadis yang tepat untukku," lirih Hasan yang kini sedang berada di depan jendela ruang tengah menatap lurus ke arah Arum yang sedang melaksanakan sholat malamnya, letak kantor pondok putri memang berdekatan dengan rumah Hasan, bangunan rumah dan kantor memang sengaja di dekatkan dengan tujuan supaya Hasan bisa melihat keadaan kantor setiap saat.


Hasan yang selalu bangun di tengah malam untuk sholat tak sengaja mendengar suara Arum yang memanggil Desy, meski suara panggilan itu sudah pelan tapi masih terdengar karena keadaan yang sunyi di malam hari membuat orang mendengar pembicaraan orang lain meskipun mereka yang berbicara dengan suara yang pelan.


"Arum!" panggil Desy dengan suara lirih setelah melaksanakan semua sholat sunnah Desy berjalan mendekat untuk duduk di samping Arum.

__ADS_1


"Hmm," sahut Arum melipat mukenah yang baru selesai dia pakai.


"Menurutmu Mas Huda itu orangnya seperti apa?" pertanyaan yang sungguh membuat jantung Arum berdetak lebih kencang dan detakan jantung itu bukan karena cinta melainkan karena rasa terkejut Arum yang mendengar pertanyaan Desy, pertanyaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.


__ADS_2