
"Permisi Bibi, apa Aku boleh membantu menanam padi itu?" tanya Arum, berharap mendapat izin untuk ikut bergabung menanam padi dengan para petani.
"Menanam padi ini pekerjaan yang kotor Nak, apa kamu gak jijik dengan lumpur yang memiliki bau tak sedap ini?" Seorang Ibu paruh baya menatap ragu ke arah Arum yang memang berkulit putih dan cantik juga dengan baju yang terlihat mahal.
"Aku tidak jijik kok Bibi, selama Bibi ngizinin Aku pasti bakal senang mencoba untuk menanam tumbuhan padi itu." Arum begitu bersemangat ingin mencoba menanam padi bersama yang lain.
Husein yang sejak tadi duduk memperhatikan tingkah Arum dari jauh hanya tersenyum, karena baru kali ini dia melihat seorang gadis yang begitu bersemangat ingin membantu menanam padi. Selama ini Husein hanya melihat seorang gadis yang akan enggan untuk membantu menanam padi sekalipun yang mereka bantu itu Ibu mereka sendiri. Alasan yang sering di dengar begitu simple, takut kulitnya gosong dan hitam di tambah bau lumpur sawah yang lumayan menyengat.
"Mas Husein!" seorang bapak paruh baya mengejutkan Husein yang sedang asyik berkelana dalam lamunannya.
"Astaghfirullah, Pak Marto ngagetin saja." Sahut Husein yang benar-benar terkejut dengan panggilan juga tepukan punggung yang di lakukan Pak Marto.
"Mas Husein sedang melamunin apa? sejak tadi bapak panggil kok gak nyahut?" tanya Pak Marto yang memposisikan dirinya duduk di sebelah Husein.
"Gak ngelamunin apa-apa Pak, cuma lagi nikmati suasana di sawah ini." Husein menjawab setengah dari apa yang sebenarnya. Karena sebenarnya dia bukannya hanya sedang menikmati pemandangan di sawah, tapi juga menikmati pemandangan seorang gadis yang sedang membantu Ibu-Ibu menanam padi.
"Nikmati suasana di sawah atau nikmati pemandangan yang ada di tengah sawah itu?" Pak Marto menunjuk ke arah Arum yang berada di antara Ibu-Ibu yang sedang menanam padi.
"Pak Marto bisa aja." Husein yang ketahuan kalau sedang melihat seorang gadis yang membantu menanam padi di tengah sawah, hanya bisa menunduk malu.
Pak Marto yang mengerti jika putera dari kiyai itu sedang jatuh hati hanya bisa tersenyum sembari meneruskan pekerjaannya menganyam ilalang untuk atap saung yang sedang di bangun di tengah sawah.
Tak beberapa lama Hana datang dengan satu kantong penuh makanan, juga satu termos besar penuh dengan es teh yang dia bawa di tangan kanannya.
"Mbak Hana pas sekali datang saat kami sudah haus juga lapar." Ujar Husein yang berdiri mengambil bungkusan juga termos yang di bawa oleh Hana.
"Ibu-Ibu sini makan dulu!" panggil Hana pada Ibu-Ibu yang sedang menanam padi di tengah sawah.
"Arum sini!" panggil Husein.
"Iya Kak," sahut Arum yang berjalan pelan keluar dari kubangan lumpur yang ada di tengah sawah.
__ADS_1
"Masya Allah, badan kamu penuh lumpur. Apa kamu gak risih membantu mereka di sana?" tanya Husein.
"Enggak Kak, Aku malah seneng. Ini pengalaman pertama yang paling menyenangkan." Ujar Arum dengan senyum yang mengembang.
"Bersihkan dulu lumpur di badanmu! setelah itu kita makan bersama." Tutur Hasan.
"Makan bersama?" tanya Arum yang melihat Hana mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari kantong yang di bawanya.
"Iya, Mbak Hana sudah bawa makanan untuk kita." Ucap Husein.
Arum yang melihat keadaan sekitar mendadak bingung, tergambar jelas di wajahnya kebingungan.
"Kak Husein, sepertinya Aku balik ke pesantren aja ya. Makannya nanti aja." Arum yang tak yakin untuk membersihkan diri bersama Ibu-Ibu yang lain di sungai kecil yang biasa di pergunakan petani untuk mengairi sawah memutuskan untuk kembali ke pesantren.
"Kalau kamu risih bersihin diri di sana, mending ikut Aku!" Husein yang mengerti alasan Arum menolak untuk bergabung makan bersama mengajaknya untuk ikut, dan Arum yang baru di tempatnya sekarang hanya bisa mengikuti langkah Husein.
"Mbak Hana," panggil Husein.
"Mbak tolong ambilkan baju ganti untuk Arum juga peralatan mandinya!" pinta Husein.
"Baik Mas Husein."Hana yang sudah mengerti jika Arum menempati kamar Syafa dan tinggal di asrama D2, langsung berjalan meninggalkan Husein dan Arum yang masih setia berdiri di tempat.
"Kak Husein," lirih Arum.
"Iya, Arum, kenapa?" Husein yang sejak tadi membelakanginya kini berbalik menoleh ke arah Arum.
"Apa gak apa-apa nyuruh Mbak Hana ngambil baju ganti untukku?" tanya Arum yang merasa sungkan karena sudah menyuruh Hana.
"Tidak apa-apa, kamu tenang saja." Sahut Husein meyakinkan Arum yang tengah ragu.
"Terus Aku mau ganti di mana?" tanya Arum menoleh ke kiri dan kanan, tak ada satupun tempat tertutup untuknya ganti baju.
__ADS_1
"Kamu lihat pohon besar yang ada di sana!" tunjuk Husein pada sebuah tanaman pohon besar yang ada di tengah sawah, tapi pohon itu berada di dataran yang sedikit lebih rendah dari tempat Arum berdiri.
"Apa Aku harus ganti di balik pohon besar itu?" tanya Arum ragu.
"Bukan, di sana ada tempat untuk mandi dan ganti baju. Mending kita duduk di bawah pohon itu sambil nunggu Mbak Hana kembali." Ajak Husein.
Arum hanya bisa mengikuti kemana Husein pergi, duduk di bawah pohon mangga yang ada di pematang sawah hingga Hana kembali dengan satu kantong baju dan satu gayung penuh alat untuk mandi.
"Terima kasih Mbak," ucap Arum sopan mengambil kantong berisi pakaian dan gayung yang di bawa Hana.
"Sama-sama," sahut Hana dengan senyum mengembang.
"Ayo ikut Aku!" ajak Husein berjalan menuju tempat yang tadi di tunjuk olehnya.
Arum terus berjalan mengikuti langkah Husein menapaki jalan setapak menuju balik pohon besar yang tadi di tunjuknya, setelah berjalan lumayan jauh dan dekat dengan tempat yang di tuju terdengar suara gemericik air yang lumayan keras terdengar begitu menenangkan.
"Ini tempat apa?" tanya Arum.
"Ini sumber mata air, kamu bisa mandi dan berganti baju di sana." Husein menunjukkan tempat seperti kamar mandi yang cukup luas dengan beberapa mata air yang mengalir.
Meski ragu Arum tetap masuk ke dalam tempat yang mirip kamar mandi tanpa atap tapi berdinding tinggi, menutup pintu seng yang menjadi jalan satu-satunya.
Kraaak ....
Suara pintu seng terbuka, "Kak Husei!" panggil Arum dengan nada keras.
"Iya, kenapa?" tanya Husein yang setia berdiri tak jauh dari tempat Arum saat ini.
"Apa tidak masalah Aku mandi dan berganti baju di sini?" tanya Arum menoleh ke arah kanan dan kiri seolah ragu dan takut.
"Jangan khawatir itu tempat khusus wanita dan tempat untuk laki-laki ada di sana!" Husein menunjuk ke arah tempat yang sama seperti yang Arum tempati, berada tak jauh dari tempat Arum.
__ADS_1
"Jangan ke mana-mana! tunggu Aku di sini ya Kak!" pinta Arum yang mendapat anggukan dari Husein.