Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Bubur Untuk Abi


__ADS_3

Jika semua orang sedang sibuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan sangat berbeda dengan keadaan yang terjadi di rumah Hasan. Semuanya terlihat tenang dan damai tanpa ada orang yang berkeliaran mengerjakan sesuatu.


Hasan baru saja terbangun. Usai sholat subuh tadi Hasan yang merasa badannya masih kurang srhat kembali tidur menyelesaikan mimpi yang sempat terjeda.


Sedang Arum sudah bangun membersihkan diri kemudian beralih pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk Hasan. Dengan perjuangan yang cukup melelahkan akhirnya semangkuk bubur ayam lengkap dengan kuahnya telah matang dan siap di berikan pada Hasan.


Dengan perasaan harap-harap cemas Arum membawakan sebungkus bubur ayam dan teh hangat buatannya ke kamar Hasan.


"Abi!" panggil Arum dengan nada lembut selembut sutra.


"Emmm," sahut Hasan dengan muka bantalnya, masih terlihat jelas rasa kantuk di wajahnya.


"Bangun! sarapan dulu Bi!" ucap Arum sambil menggoyangkan sedikit lengan Hasan agar dia mau terbangun.


"Aku masih ngantuk Syei'," cicit Arum.


"Sarapan dulu! nanti di sambung lagi tidurnya." Arum kembali membujuk Hasan agar segera terbangun.


Sekuat tenaga Hasan melawan rasa kantuk bercampur dengan malasnya untuk segera bangun memenuhi permintaan sang istri.


"Loh, Abi mau ke mana?" tanya Arum saat melihat Hasan berdiri dan berjalan pelan turun dari ranjang.


"Kamar mandi," jawab Hasan singkat tanpa menoleh ke arah Hasan, dia langsung berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.


Arum hanya bisa tersenyum lucu melihat tingkah Hasan, saat ini dia seperti seorang anak kecil yang di suruh orang tuanya untuk segera bangun dan bersiap.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri Syei'?" suara Hasan mengejutkan Arum yang tengah berekreasi memikirkan hal lucu yang baru saja terjadi.


"Gak ada Bi, ayo sini biar aku suapin." Arum tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika dia sedang tersenyum lucu karena tingkah sang suami yang tak lain adalah Hasan.


"Kamu bawa apa?" tanya Hasan.


"Aku tadi buatin Abi bubur Ayam. Jadi kita sarapan dulu ya." Ajak Arum yang langsung di setujui oleh Hasan.


"Kamu masak sendiri buburnya?" tanya Hasan memastikan apa yang ada di fikirannya benar.

__ADS_1


"Iya Abi, aku tadi masak sendiri." Jawaban Arum sungguh membuat Hasan tersenyum senang.


"Aaa'," tanpa banyak basa-basi Hasan langsung membuka mulut agar Arum segera menyuapkan bubur yang dia bawa.


"Bagaimana rasanya Bi?" tanya Arum saat satu suap bubur sudah meluncur indah dalam mulut Hasan.


"Enak Syei', bubur ini beneran kamu yang buat sendiri?" tanya Hasan seolah tak percaya jika bubur yang dia makan saat ini benar-benar bubur buatannya sendiri.


"Iya Bi, aku buat sendiri dari tadi habis sholat aku langsung ke dapur buatin bubur ini untuk Abi." Jawaban Arum membuat Hasan semakin bahagia, dia mendapatkan istri yang hampir mendekati sempurna sudah cantik, pintar dan pengertian.


Hasan menatap lekat ke arah Arum dengan tatapan memuja, Arum sungguh gadis yang tepat untuk menemani Hasan.


"Terima kasih Syei'," ucap Hasan setelah menghabiskan semangkok bubur buatan Arum.


"Jangan berterima kasih Bi! ini sudah jadi kewajibanku sebagai istrimu." Jawab Arum.


"Istriku sayang mendekatlah! sini aku kasih hadiah!" Hasan melambaikan tangan memberi isyarat agar mendekat.


"Abi mau ngasih aku apa?" tanya Arum antusias setelah mendengar kata hadiah keluar dari bibir Hasan.


"Sudah sini!" Hasan tak mau menjawab pertanyaan Arum, dia malah terus mendesaknya untuk segera mendekat.


'Cup'


satu kecupan manis mendarat indah di pipi mulus Arum membuat sang empu langsung terdiam mematung mendapatkan kecupan dari sang suami.


"Kenapa diam Syei'? apa kamu mau lagi?" ucap Hasan yang sukses membuat Arum tersadar dari lamunannya dan sedikit menjauh dari Hasan.


"Ishh Abi curang, mana ada hadiah seperti itu," keluh Arum.


"Ada, barusan adalah hadiah kecil dari Abi dan besok malam Abi akan berikan hadiah besar untukmu, hadiah yang tidak akan pernah kamu lupakan sepanjang hidupmu Syei' dan juga tak akan pernah aku lupakan Syei'." Hasan berucap seraya mengerlingkan mata menggoda Arum.


"Sudahlah, Aku mau membersihkan dapur dan mengembalikan mangkok dulu." Pamit Arum berdiri hendak pergi meninggalkan Hasan seorang diri di kamar.


"Syei' tunggu!" titah Hasan membuat Arum langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah Hasan.

__ADS_1


"Ada apa Bi?" sahut Arum.


"Taruh saja mangkoknya di sini dan jangan bersihin dapur! besok hari resepsi pernikahan kita aku gak mau kamu terlihat lelah di hari spesial kuta nanti." Hasan menjelaskan alasannya kenapa Hasan melarang Arum untuk pergi ke dapur.


"Duduk di sini saja! oh ya bukankah kemaren kamu berencana pulang ke rumah Oma?" tebak Hasan yang baru mengingat rencana yang telah di susun.


"Sebenarnya iya, tapi rencana itu aku batalin." Jawab Arum.


"Pasti gara-gara Abi sakit ya?" tebak Hasan yang di angguki oleh Arum.


"Sekarang aku sudah jauh lebih baik, tinggal tidur satu atau dua jam lagi pasti sudah sembuh, jadi jangan khawatirkan aku lagi! dan kamu bisa pulang sekarang Syei'." Ujar Hasan yang mengerti jika Arum memang harus pulang dan bersiap untuk acara besok pagi.


"Apa Abi benar-benar tidak apa-apa di tinggal sendiri?" Arum mencoba meyakinkan hatinya jika Hasan benar-benar sudah membaik.


"Aku bukan laki-laki lemah Sayang, jadi jangan khawatir karena sekarang aku sudah sembuh," Hasan tersenyum seraya mencuri satu kecupan manis di kening Arum sang istri.


"Abi hobby banget nyuri ciuman dariku." Protes Arum.


"Nyium istri sendiri itu pahala Syei'," ucap Hasan yang terlihat tersenyum menggoda.


"Kalau Abi memang sudah sembuh, aku balik dulu ke asrama untuk mengemas dan berpamitan dengan teman-temanku yang lain." Pamit Arum pada Hasan.


Arum berdiri meraih tangan Hasan dan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati Syei'! eh kamu nanti pulang di antar siapa?" tanya Hasan yang baru ingat jika Arum adalah santrinya saat ini, jadi satu hal yang mustahil kalau Arum membawa motor atau kendaraan lain ke pesantren.


"Nanti Kak Steve yang nyusul aku Bi." Jawab Arum.


"Oh, kalau begitu inget pesan Abi!" Hasan mulai mengingatkan pesan yang telah di berikan pada Arum.


"Pesan yaang mana Bi?" tanya Arum bingung dengan pesan yang di berikan oleh Abi.


"Jangan main peluk atau cium Kakakmu! karena bagaimanapun dia sudah dewasa! ingat hanya peluk dan cium aku yang saat ini sudah sah menjadi suamimu!" Hasan memberi peringatan pada Arum.


"Iya Abi, aku pasti bakal inget pesan Abi." Jawab Arum yang merasa malas untuk berdebat karena saat ini dia sedikit terburu-buru.

__ADS_1


Steve sang Kakak sudah berjanji untuk menjemputnya jam delapan pagi setelah kemarin Arum membatalkan rencana kepulangannya karena Hasan sedang sakit.


Tanpa memperdulikan sifat posesif Hasan Arum meninggalkan Hasan sendiri di kamar, dan Arum tak pernah mempermasalahkan sifat posesif sang suami, karena bagi Arum posesif itu terkadang hal yang wajar bagi seorang laki-laki yang memiliki cinta yang besar untuk pasangannya. Asal dia bisa mengontrol emosi agar tak sering marah karenanya.


__ADS_2