Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Opor Ayam Untuk Rifki


__ADS_3

Melihat Arum tersenyum sambil menawarkan gethuk yang tadi di bawakan oleh Hasan membuat senyum lebar muncul di bibir Hasan, dia hanya bisa tersenyum tanpa kata meski kini hatinya begitu lega dengan respon yang di berikan oleh Arum.


'Lain kali aku bisa melakukannya lagi jika seperti ini, karena aku tak perlu repit-repot membuatkan makanan langkah yang Arum minta.' Hasan hanya membatin.


"Abi kok senyum-senyum sendiri ada apa?" tanya Arum, merasa heran dengan sikap Hasan yang sejak tadi tersenyum mencurigakan.


"Gak ada apa-apa, Abi cuma pengen senyum aja," jawab Hasan.


"Mama ada jawaban kayak gitu Bi, setiap orang itu pasti punya alasan untuk tersenyum, dan aku yakin Abi pasti punya alasan tersendiri sampai senyum-senyum gitu," Arum seolah tak yakin dan tak percaya dengan jawaban yang di berikan oleh Arum.


"Aku tersenyum karenamu Syei'?" Hasan yang tak ingin sang istri semakin curiga mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan Arum.


"Memangnya kenapa denganku, Bi?" tanya Arum bingung, dia merasa tak melakukan apapun yang bisa membuat Hasan tersenyum.


"Aku tersenyum bahagia karena kamu menyukai gethuk itu, dan memakannya dengan lahap. Hal itulah yang membuat aku merasa berhasil membuatmu senang dan aku bahagia karenanya," Hasan mengucapkan apapun yang ada di otaknya saat ini, yang terpenting Arum tetap senang dan tak pernah tahu ataupun curiga jika gethuk yang dia makan sekarang bukanlah masakannya melainkan membeli.


'Cup'


Arum yang mendengar pengakuan Hasan langsung mendaratkan satu kecupan sayang ke arah pipi Hasan yang sukses membuat sang empu sedikit terkejut karena serangan tiba-tiba Arum.


"Kok cuma satu Syei'?" tanya Hasan dengan wajah heran.


"Memangnya kenapa, Bi?" sahut Arum menjawab pertanyaan Hasan dengan sebuah pertanyaan.


"Yang satunya lagi iri Syei'," jawab Hasan sembari menyodorkan sebelah pipinya yang belum di cium oleh Arum.

__ADS_1


"Astaghfirullah, aku kira kenapa, Bi," Arum menggelengkan kepala heran mendengar jawaban Hasan yang saat ini terlihat manja.


"Kalau mau nyium itu jangan setengah-setengah Syei'! gak imbang," ujar Hasan seraya mengedipkan mata menggoda Arum.


Tanpa membalas ucapan Hasan lagi Arum langsung mencium pipi sebelahnya, meski dengan gerakan cepat secepat kilat tapi Hasan tetap bahagia karenanya, akhirnya Hasan dan Arum menghabiskan sepiring gethuk berdua meski rasanya rada aneh karena di taburi lelehan gula merah tapi Hasan tetap memakannya dengan lahap karena Arum terus menyuapinya secara bergantian.


~


Jika Hasan sedang menikmati gethuk sepiring berdua, berbeda dengan Bunda Fia yang kini tengah heboh bersiap pergi ke kantor sang suami setelah mendapat kabar jika Arum tengah hamil dan mereka akan segera mendapatkan cucu.


Bunda Fia langsung melangkah menuju dapur memasak makanan kesukaan sang suami, yaitu opor ayam, dengan penuh semangat Bunda Fia memasak opor, senyum merekah tak pernah luntur dari wajah Bunda Fia sejak dia menutup sambungan telfonnya tadi hingga saat ini.


"Hari ini aku akan memasak Opor Ayam yang banyak untuk suami dan anakku, mereka harus tahu kabar gembira ini," gumam Bunda Fia sambil terus menyelesaikan masakannya.


Setelah Opor Ayam buatan Bunda Fia selesai, dia langsung bersiap mandi dan dandan serapi mungkin untuk segera mengantarnya ke kantor sang suami. Perjalan menuju kantor Rifki tak membutuhkan waktu yang lama hanya butuh sepuluh menit Bunda Fia sudah sampsi di kantor Arif.


Bunda Fia yang sudah sangat di kenal di kantor Rifki tak perlu mendapatkan izin dari siapapun untuk masuk ke ruangan suaminya, dia langsung berjalan menuju ruangan Rifki berada.


"Come in!" sahut Rifki dari dalam ruangan.


"Thank you, sir," ucap Bunda Gia dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Sayang!" panggil Rifki setelah melihat siapa yang datang.


"Aku kira siapa yang ketuk pintu, kenapa gak langsung masuk aja?" sambung Rifki berjalan mendekat ke arah Fia, Rifki yang melihat sang istri datang sambil membawa rantang makanan langsung melingkarkan tangannya di perut Fia dan mengecup sekilas dahi Fia.

__ADS_1


"Jangan gini Sayang!" Fia menolak halus perlakuan Rifki.


"Memangnya kenapa kalau kayak gini? hm?" sahut Rifki bingung dengan respon yang di berikan oleh Fia, padahal biasanya Fia akan menyambut perlakuan Rifki dengan senyuman mesra yang semakin membuat Rifki susah untuk melepaskannya.


"Ini masih di kantor, kalau ada yang lihat bagaimana?" Fia mengatakan alasannya menolak halus perlakuan Rifki saat ini, tapi Rifki yang mendengarnya malah semakin memper erat pelukannya.


"Aku bosnya di sini Sayang, jadi kamu tenang aja, gak bakal ada yang lihat karena mereka tidak akan berani masuk ruangan ini tanpa seizinku," Rifki menjelaskan keadaan yang terjadi agar Fia tak perlu merasa gelisah.


Mendengar penjelasan sang suami membuat Fia diam seribu bahasa tanpa melawan ataupun membalas perkataan sang suami, dia hanya diam membiarkan Rifki melakukan apapun yang dia inginkan, termasuk memper erat pelukannya seraya menghirup aroma tubuh Fia.


"Sayang, aku ke sini bawa sesuatu untukmu." Fia memcoba mencegah hal-hal yang tak sepantasnya di lakukan di kantor.


"Benarkah? tapi sepertinya aku lebih suka menciumimu seperti ini," sahut Rifki.


"Khem," suara deheman seorang laki-laki mengejutkan Rifki yang sedang asyik menghirup aroma tubuh sang istri dengan posisi berpelukan.


"Kenapa tidak ketuk pintu dulu!!" hardik Rifki tanpa menoleh ke arah orang yang berdehem dan masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


"Sejak kapan aku harus ketuk pintu dulu sebelum masuk Ayah?" suara Stev membuat Rifki dan Bunda Fia menoleh hampir bersamaan.


"Astaghfirullah, dasar bocah tengil, ngapain kamu ke sini sekarang?" ucap Rifki melepas pelukannya dan beralih menatap intens ke arah sang putra.


"Maaf Ayah, tadi Bunda kirim pesan chat, katanya Bunda mau ke sini bawain Opor ayam dan kabar bahagia buat kita, makanya aku cepet-cepet ke sini sebelum kehabisan dan ketinggalan kabar bahagianya," jelas Stev membela diri karena memang merasa benar.


"Tapi waktumu tidak tepat Stev!" Rifki berucap sambil melangkah menuju sofa yang ada di depannya setelah itu memilih tempat yang paling nyaman untuk duduk tanpa memperdulikan atau pun melihat ke arah di mana Ayah dan Bundanya yang masih berdiri tegak di tempatnya.

__ADS_1


"Sorry Ayah, Stev gak tahu kalau soal itu yang Stev tahu saat ini Stev mau makan Opor Ayam buatan Bunda, dan mendengar berita bahagia apa yang Bunda bawa." Jawab Stev enteng tanpa beban.


Bunda Fia yang mendengar puteranya ingin segera makan Opor Ayam, dan mendengar berita apa yang di bawa langsung berjalan mendekat ke arah Stev yang duduk di sofa dan ikut duduk di sampingnya.


__ADS_2